HOMOSEXUALIS[LA]M

Spanyol, 1485. Christopher Columbus belum punya niat untuk mencari “Dunia Baru” apalagi menginjakkan kaki di Amerika. Ia berhenti sejenak di tengah pelayarannya dan singgah di Granada. Kedatangannya disambut meriah ratu Isabella dan raja Ferdinand. Rupanya mereka sedang merayakan sebuah kemenangan. Kerajaan Katolik akhirnya bisa mengalahkan Moors, umat Islam dari Kekalifahan Umayyah, dan menguasai Spanyol.

Sejarah memang selalu dituliskan pemenang. Saat itu, bagi yang kalah, inilah akhir dari sebuah masa. Peradaban yang usianya lebih dari 700 tahun. Segala jejak tentang Islam dan Kekhalifahan Umayyah dihapus. Moors tak lebih dari bangsa barbar yang kasar dan tak beradab. Pembantaian di sana-sini. Lebih dari sejuta buku berbahasa Arab dibakar, tidak boleh ada sisa.

Namun, ada satu istana yang dibiarkan utuh. Letaknya di atas bukit yang tanahnya berwarna merah kehitaman. Ia dikelilingi pepohonan rindang. Kain-kain sutera aneka warna menyelimuti seluruh sisi istana. Melambai-lambai dengan lembut ketika ditiup angin sepoi. Dan, ketika ditingkahi matahari, bangunan ini berubah warna menjadi keemasan. Masyarakat sekitar menyebutnya “Yang Berwarna Merah” . Al Hambra.


Al Hakam II

Cordoba, 961. Al Hambra tak lebih dari sekadar benteng kecil. Tapi kota ini sudah dijejali perpustakaan. Jumlahnya 70. Semua orang kala itu lagi gandrung dengan ilmu pengetahuan yang dibawa Islam. Astronomi. Ekonomi. Kedokteran. Lupakan Alexandria, apalagi kerajaan-kerajaan lain di Eropa. Al-Andalus lah denyut dunia. Metropolitan.

Sang raja kala itu, Al Hakam II, punya lebih dari 400.000 koleksi buku dan dianggap sebagai pemimpin yang sangat cerdas. Tapi, raja terhebat sekalipun jadi tidak berguna kalau tidak bisa punya anak.

Satu istana bingung. Bagaimana caranya, supaya, Hakam yang sudah berumur 46 tahun ini punya keturunan. Perempuan-perempuan dari segala daerah pun didatangkan. Tidak ada satupun yang dilirik. Sia-sia. Hakam seorang homoseks.

Entah siapa yang punya ide jenius ini. Seorang budak Kristen dari Basque (sekarang wilayah Perancis) diangkat sebagai selir. Sobeyah namanya. Rambut Sobeyah dipotong pendek. Ia lalu didandani seperti anak laki-laki. Sobeyah sekarang bernama Jafar. Jafar “dicomblangin” sama Hakam.

Hasilnya?

Tidak lama kemudian lahirlah seorang anak laki-laki yang akan jadi penerus kekhalifahan Umayyah. Hisham namanya. Senanglah hati Hakam. Tapi, Hakam bukan satu-satunya homoseks Umayyah. Abdul Rahman III, sang ayah, juga senang punya selir laki-laki.


Cordoba, 926. Anak lelaki itu bernama Pelagius. Umurnya tidak lebih dari 14 tahun. Kulitnya putih dan garis-garis wajahnya begitu halus. Ia dikhianati pamannya, Hermoygius, yang maunya cari selamat sendiri. Pelagius dijadikan sandera dan budak sementara sang paman melarikan diri. Pada suatu hari, Pelagius diberi dua pilihan: masuk Islam atau mati. Daripada masuk Islam Pelagius lebih baik mati. Akhirnya ia pun dieksekusi.

Dan sekarang, setiap 26 Juni, selalu diperingati sebagai harinya Santo Pelagius. Ada beberapa literatur sejarah yang mengatakan hal ini adalah propaganda Katolik untuk menyebarkan kebencian terhadap Islam. Merujuk versi Katolik, Abdul Rahman III adalah seorang homoseks yang ingin menjadikan Pelagius sebagai “harem”. Dan memang, waktu itu, homoseksualitas jadi senjata ampuh agar orang bisa membenci Islam. Terutama setelah direbutnya Al-Andalus.


Berbicara tentang hubungan sesama jenis dari sudut pandang agama memang susah. Yahudi, Kristen, dan Islam semua sepakat kalau hubungan sesama jenis itu dilarang. Selalu merujuk kepada satu cerita: Kaum-kaum Nabi Luth (Sodom & Gomorah). Padahal adegan pembabtisan Yesus yang digambarkan dengan detil pun tak luput dari homoerotika.

Saya masih tetap dengan pendapat kalau “homoseksualitas” memang sebenarnya adalah temuan baru. Pada saat itu, tidak ada beda antara mereka yang straight atau yang cong.

Dan, kalau berbicara fiqh Islam, tidak ada garis jelas yang membahas soal homoseksualitas. Tidak ada yang bisa dengan pasti menjawab sejauh apa hubungan yang dilarang, atau apa hukuman yang akan diberikan.

Dari 114 surat di dalam Al Quran, hanya satu yang rasanya pas dijadikan landasan hukum tentang hubungan sesama jenis. Ironisnya, aturan tentang hubungan beda jenis justru lebih tegas dan banyak!

 “Jika dua orang melakukan perbuatan yang salah di antara kalian maka hukumlah mereka. Tapi, jika mereka mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah maha menerima taubat dan maha penyayang.” (Al Quran 4:16)

Kalau begitu, bisakah dibilang kalau umat Islam sekarang berhutang budi pada para homoseks jaman Umayyah?

(bersambung)

Iklan

5 thoughts on “HOMOSEXUALIS[LA]M

  1. Ping-balik: Homose… | Linimasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s