Dari Shalimar Sampai Kim Il Sung

Berhubung si Nauval jaringan internetnya lagi bermasalah, (saat ini yang bersangkutan lagi marah-marah sama mas-mas customer service salah satu provider Internet) hari ini saya yang ambil alih jadwal piket. Tulisan Nauval akan diunggah esok pagi.

Mari kita rehat sejenak dari kegilaan dan rasa kesal atas putusan sidang DPR semalam.

Siang itu, 12 April 1967, seorang pria peranakan bernama Oei Hong Kian kedatangan tamu. Namanya Djamin. Ia membawa pesan juga bingkisan dari sang atasan. Dibukalah bingkisan itu. Ada satu set pena Mont Blanc, sehelai dasi sutera dengan inisial ‘S’, sehelai foto yang bertuliskan “Untuk dr. Oei Hong Kian” dibubuhi tanda tangan sang empunya foto, juga tak ketinggalan sebotol besar parfum Shalimar.

Iya, si pengirim adalah Soekarno. Dan Oei Hong Kian adalah dokter gigi yang kemudian menjadi salah satu sahabat terdekatnya ketika statusnya berubah dari presiden RI jadi ‘tahanan rumah’. Dan Shalimar (bukan Jane, red.) adalah parfum yang paling sering ia pakai. Siapa yang sangka kalau Shalimar adalah parfum favorit Soekarno? Di kepala saya, Soekarno itu bersinonim wewangian yang beraroma tembakau, kulit, dan bahkan Oud (kayu gaharu). Keras. Tegas. Manis. Seperti Tom Ford ‘Tobacco Oud’, bukannya Shalimar.

Soekarno bersama Jackie O, Liz taylor, dan Marilyn Monroe. (nyomot dari Agan Harahap)
Soekarno bersama Jackie O, Liz taylor, dan Marilyn Monroe. (gambar bole nyomot dari Agan Harahap)

Shalimar keluaran Guerlain ini ibarat dewi dari seluruh parfum bergenre oriental. Hangat karena rempah dan manis wangi vanilla. Ia diciptakan tahun 1921. Kemudian dirilis kembali tahun 1925 di sebuah eksibisi seni sebagai penghiburan untuk rakyat di kala ‘The Great Depression’. Waktu itu Jacques Guerlain lagi gandrung-gandrungnya dengan Methoxy-3-Hydroxy-Benzaldehyde, hasil sintetis dari pengkristalan sari vanilla. Vanilin; sebuah aphrodisiac baru. Aha!Aphrodisiac. Seketika semuanya jadi lebih masuk akal. Jaman itu, perempuan mana, sih, yang tidak tergila-gila. Pada keduanya, Soekarno & Shalimar. Soekarno memang pecinta segala yang indah dan wangi; perempuan, parfum, bahkan bunga.

Syahdan, salah satu teori tentang G30S/PKI yang terjadi tahun 1965 disebabkan oleh ketakutan Amerika Serikat dan para sekutu atas kedekatan politik Soekarno dengan lawan mereka; Rusia dan Cina. Tapi ternyata tak hanya itu, Soekarno, pada saat itu juga membina hubungan yang sangat baik dengan Korea Utara dan presidennya kala itu, Kim Il Sung. Bahkan ketika ia mengunjungi Pyongyang, Kim Il Sung menginstruksikan agar Soekarno diberi sambutan yang luar biasa. Hasilnya? Ada pawai juga konfigurasi dari ratusan orang yang membentuk tulisan “Hidup Presiden Soekarno!”.

Sambutan meriah atas Soekarno di Pyongyang
Sambutan meriah atas Soekarno di Pyongyang

Di lain kesempatan, pada 13 April 1965, Soekarno juga menyambut baik kunjungan diplomatik Kim Il Sung ke Indonesia. Ketika itu Kim Il Sung sedang berulang tahun, dan sebagai hadiah, diajaklah beliau mengunjungi Kebun Raya Bogor. Ketika mereka melintasi taman anggrek, Kim Il Sung terpesona pada satu anggrek hibrida yang berwarna ungu asal Sulawesi Selatan. Mengetahui sang tamu begitu menyukai bunga itu, Soekarno langsung memberikan sekuntum anggrek sebagai hadiah ulang tahun sekaligus sebagai tanda persahabatan. Pada awalnya Kim Il Sung menolak, tapi Soekarno bersikeras, dan tak hanya itu, ia juga menamakan anggrek itu ‘Kimilsungia’. Akronim dari “Kim Il Sung dan Indonesia”. Dan sejak saat itulah, Kimilsungia menjadi salah satu simbol Negara Korea Utara yang selalu diasosiasikan dengan Kim Il Sung.

Hingga saat ini, setiap bulan April di Korea Utara selalu digelar Festival Bunga Kimilsungia. Tapi kita tentu tidak perlu jauh-jauh ke Pyongyang untuk bisa melihat Kimilsungia. Cukup pergi ke Kebun Raya Bogor. Lumayan, lah, bisa lihat yang cantik-cantik daripada kelamaan mantengin tv nonton sidang DPR. Mungkin ini bisa jadi penghiburan saat situasi politik yang makin ndak nggenah ini. (Eh..Apa perlu dibikin tamasya bersama LINIMASMAS? Yuk! :p)

Iklan

3 thoughts on “Dari Shalimar Sampai Kim Il Sung

  1. Ping-balik: LINIMASAKami
  2. tulisan yang menentramkan. terima kasih fa sudah bercerita dengan sabar dan rapi. 🙂

    tapi aku baru tahu kalau great depression sudah dimulai sejak tahun 1925. seingat aku nyonya meneer pernah cerita kalau antara september – oktober 1929 musim paceklik itu dimulai.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s