Homose…

TETOT!

Tapi boong :)))

Hari ini, karena lagi males, karena gak sempat, Maka sambungan HOMOSEXUALIS[LA]M Bagian 1 dan Bagian 2 dilanjutkan minggu depan saja, ya.
Sepertinya kita semua perlu rehat sebentar. Apalagi Jumat lalu, setelah membaca tulisan saya, Doni (panggilan sayang untuk Gandrasta) jadi menerjemahkan sajak-sajak Rumi. Seharian penuh. Dia dimabuk gombal Rumi dan kami semua kecipratan hujan cinta.

Ada beberapa sajak yang akan saya bagi di sini karena terjemahannya terlalu indah untuk disimpan sendiri.

“Kau adalah umpan sekaligus perangkap.
Jalan juga peta.
Sementara aku terus mencari.”


“Katakan.
Apakah gula ini lebih manis dari biasanya?
Atau dia yang membuatnya demikian?
Katakan.
Apakah bulan lebih indah dari biasanya?
Atau dia yang membuatnya demikian?
Ah.
Lupakan gula dan bulan.
Dia membuat segalanya berbeda.
Cahaya dari Tabriz.”


Anyway, beberapa bulan belakangan ini saya lagi demen-demennya mantengin Instagram dan mengamati kelakuan para penggunanya. Dan kadang hasil pengamatan iseng-nan-kurang-kerjaan ini saya bagi di Path dengan tagar #SekilasinfoIG. Ada beberapa yang betul-betul menarik perhatian saya.

1. Sulam alis Anggie Rassly sekarang antriannya sampai 2016. Kalau kamu masih mikir-mikir mau daftar, mendingan pasrah ajalah. Banyak perempuan yang gusar karena sudahlah bayarnya mahal, antriannya pun lama, teleponnya gak diangkat-angkat pula! huvFft,,,

2. Hanya Tuhan dan tukang bajaj yang tau kapan Kaftan Febiani Hermaini gak sold out. Harus diakui, teknik marketing Febiani Hermaini emang jempolan. Dalam waktu kurang dari 10 menit rilis, kaftannya langsung sold out. Padahal ndak tau yang dirilis ada berapa helai. Pokoknya SOLD OUT. Aku yakin, cuma dia yang bisa seenaknya buka-tutup toko sambil bilang “No Hate, Just Love.”

Hal ini bikin banyak perempuan gemes, udah nyoba berkali-kali tapi masih gak dapet-dapet juga. Mungkin sensasinya sama kayak waktu ikut Kuis Jari-jari. Ada istri kawan saya yang beruntung bisa membeli 4 helai, tapi ada juga yang cukup desperate. Mereka gak sungkan “menodong” pembeli dengan “Kalau kaftannya mau dilepas kabarin ya, sist.” atau “Ini gak mau dilepas aja ni, sista?”. Tapi ada juga yang sangat kreatif dan menjadikan ini kesempatan untuk mencari uang. Ngapain? Jadi joki. Kaftan-kaftan hasil jokian ini banyak yang jual lagi harganya pun dibanderol beberapa ratus ribu lebih mahal. kreatif banget, Sist!

 3. Template yang paling sering digunakan perempuan untuk membalas pujian adalah:   “Ah, engga kok, (punya) kamu lebih [insert bagus/cantik/keren/vintage]. Ehehe.”

4. Dan tentu saja, yang paling mengagumkan adalah kelakuan para sista-sista online shop di Instagram. Saking mengagumkannya, tulisan tentang mereka berhak mendapat postingan khusus. Di saat Twitter dihujani dengan ‘Social Media Strategist’, ‘Social Media Analyst’, ‘Specialist’, dan Social Media Nganunganu lainnya, sista-sista Instagram ini begitu militan dan coordi– (bersambung) (ehehehe)

 

Advertisements

Bagaimana Saya (Ingin Mengajak Kamu) Memandang Mereka

Tulisan ini adalah tulisan saya yang ke-10 di Linimasa. Hari Sabtu nanti, genap sudah kami semua bertujuh sudah menulis masing-masing sebanyak 10 kali di sini. Itu berarti sudah 10 minggu kita semua mempunyai kebiasaan baru: menyantap sarapan yang bukan sekedar makanan, tapi juga kata-kata, bualan, dan obrolan ngalor-ngidul setiap pagi.

Bagi petugas piket, sudah 10 minggu ini kami selalu panik dan was-was sehari menjelang tugas piket. Kadang selain bingung nulis apa, ternyata kendala lain bisa terjadi. Tukar jadwal piket pernah terjadi antara saya dan Farah Dompas karena modem saya rusak. Hari Selasa kemarin, Agun Wiriadisasra juga sempat panik karena hal yang sama. Sementara Roy Sayur pernah ketinggalan kabel laptop entah di mana.

Tapi kalau dilihat tulisan mereka, tidak terlihat kekhawatiran di atas. Apalagi tiga penulis mumpuni ini: Glenn Marsalim, Gandrasta Bangko, dan Dragono Halim. Kepiawaian mereka bertutur mengungkap hal yang abstrak sekalipun tak bisa dipungkiri lagi. Pengalaman mereka menulis di dunia nyata sudah acap kali terasah sempurna.

Sepuluh minggu, dan tak seharipun lewat tanpa rasa kagum yang berkurang terhadap mereka.

Sampai saat ini, saya tak tahu alasan apa Roy tiba-tiba mengajak saya bergabung di suatu hari Kamis di bulan Agustus.

Bak sosok Charlie dalam serial “Charlie’s Angels”, karena tidak ada satu pun dari kami yang pernah menjumpainya, Roy mengumpulkan kami dengan modal obrolan di whatsapp. Misi yang ditugaskan cuma satu: menulis. Bergantian setiap hari. Tanpa jeda.

Saat saya bertanya ke Roy tentang siapa saja yang sudah diajak, balasannya “Aku udah dapet Gandrasta, Glenn, Fa, Dragono dan Agun.” Perhatikan diksinya. “Dapet”. He owns. Singkat. Tanpa basa-basi. Seperti tulisannya yang cenderung maskulin. Kadang meledak-ledak saat bicara politik, tapi bisa juga merayu penuh misteri saat berbicara hal-hal yang luput dari pengamatan kita.

Charlie in Charlie's Angels

Charlie in Charlie’s Angels

Lalu bacalah tulisan Glenn. Dia cermat dalam mengobservasi. Kelihatan kalau dia punya pengalaman di hal menganalisa perilaku orang kebanyakan. Dia sudah makan asam garam kehidupan bertahun-tahun. Seperti Kapten Gerd Wiesler di film The Lives of Others yang punya daya sensorik tinggi, bahkan tahu bunyi derap langkah kaki siapa dari kejauhan, demikian pula Glenn dengan imajinasinya yang membumi. Pengamatannya kadang memang merefleksikan karakter Glenn sehari-hari. Lalu tinggal kita yang menebak-nebak: mana dari tulisan Glenn yang sebenarnya tentang dirinya sendiri?

The Lives of Others

The Lives of Others

Kelihaian Glenn tak heran membuat Gono (panggilan Dragono) mengidolakannya. Mirip seperti karakter Judy Garland di bagian-bagian awal film A Star is Born. Dan seperti karakter itu, Gono pun bersinar justru karena jati dirinya. Tulisan-tulisannya menenangkan. Tepat di tengah minggu, di hari Rabu, tulisan Gono laksana meditasi setelah melewati kerasnya awal pekan, dan sebelum jedang-jedung menikmati akhir pekan.

A Star is Born

A Star is Born

Dan di hari pertama di tiap pekan baru, Doni (panggilan saya ke Gandrasta) hadir dengan menggelegar. Tidak ada tulisan Doni yang tidak sensasional. They are larger than life. He is larger than life. Doni adalah Don Corleone di The Godfather: keras, tegas, kompleks dan penuh rasa cinta yang limpahannya mengejutkan. Romantis tak terkira. Emosi kita diterjunkan dengan bebas sekenanya dari cara bertuturnya. Kami ber-6 selalu bilang, “Semua orang menyukai tulisan Doni”.

The Godfather

The Godfather

Sementara Agun yang hadir sehari setelah Doni, selalu terkesan tampil nyantai. Relaxed. Padahal dia piawai meriset. Persis tipikal cool nerd macem Jesse Eisenberg di The Social Network. Tulisannya dihiasi data-data dari berbagai sumber, tanpa harus menjadi berat. Dan yang pasti menambah pengetahuan pembacanya. Sesuatu yang bisa jadi tidak disadari oleh Agun sendiri.

The Social Network

The Social Network

Justru yang sadar banget keberadaannya di sini, tentu saja, Fa. Satu perempuan di antara enam pria. Gak lengkap kalo gak ada Fa, ibarat gak ada Deepika Padukone di Happy New Year, maka filmnya membosankan setengah mati cuma ngeliatin Shah Rukh Khan dan perut 8 kotaknya. Tapi karena Fa gak bisa menari, maka dia bisanya bertutur dengan lancar. Tulisannya beragam. Semua pakai hati. Semua dipikirkan masak-masak. Semua tulisannya melalui proses peresapan berhari-hari. Semuanya terbaca kalau Anda baca sekali lagi.

Happy New Year

Happy New Year

Tentu saja, yang tidak terbaca di sini adalah Fa sudah melamar saya dua kali di celotehan grup whatsapp kami. Entah maunya apa perempuan satu-satunya ini.

Saya juga tidak tahu maunya penulis yang lain apa dengan linimasa ini. Masih tidak tahu, meskipun sebulan lagi akan ada tulisan ke-100.

Tapi saya tahu apa yang saya mau, yaitu terus menerus belajar dari mereka.

Seorang teman pernah menanyakan ke saya tentang linimasa. Jawaban saya waktu itu, “I feel lucky. I am standing in the shoulder of giants.

And when you stand along the best, you learn. Itulah yang saya pelajari dari mereka. Tulisan mereka. Alur pikir mereka. Pilihan kata mereka. Pikiran mereka. Hati mereka.

Kalau tulisan Roy beberapa minggu lalu lebih tentang selfie, maka tulisan ini lebih mirip foto mereka yang saya ambil diam-diam. Lalu saya kumpulkan. Dan jadilah gambar utuh bagaimana saya memandang mereka.

photo (1)

Dan apapun tulisan yang tersedia, berapapun jumlahnya, pastikan Anda tersenyum membacanya.

Karena semuanya ditulis pakai hati.

Kalimantan Punya

Senin pagi, dua hari lalu.

Masih gegoleran waktu Presiden Jokowi sedang melantik para menteri baru. Lagipula, ndak ada yang menarik kok, jadi nontonnya sambil lewat begitu saja. Hingga kemudian, ada pemandangan berbeda di sesi kedua, saat pelantikan wakil menteri.

Batiknya beda kan?

Ya, ada yang mengenakan batik dengan pola tak biasa; motif Dayak.

Entah menampilkan gambar hewan atau tumbuhan, seingat saya motif Dayak di kemeja wakil menteri tersebut cukup jamak terlihat di sini, di Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur (Kaltim). Guratannya luwes, motifnya berulang namun tidak padat, dan warna utamanya tunggal, yaitu merah serupa getah pohon.

Pemandangan itu cukup aneh. Mengingat tidak ada satu pun orang Kaltim yang dipercaya menjadi pengisi Kabinet Kerja. Bahkan gara-gara realitas ini, banyak tokoh penting setempat yang kasak-kusuk. Mereka menuntut perhatian khusus pemerintah pusat, sampai peninjauan ulang kebijakan dana bagi hasil eksploitasi kekayaan alam untuk negara.

Setelah Googling, ternyata Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir ini memang punya darah Kalimantan. Cuman, lahir sebagai orang Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), akan lebih pas bila mengenakan Sasirangan. Kain khas sana. Meskipun karakteristik motifnya jauh lebih abstrak dibanding batik motif Dayak.


Saya lebih suka menggunakan sebutan “batik motif Dayak” atau “Batik Kalimantan” sekalian, ketimbang “Batik Dayak” yang kesannya dipaksakan. Bagaimana tidak, batik sendiri bermakna kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu. Sedangkan warisan budaya sandang suku Dayak kebanyakan adalah pakaian dari olahan kulit tanaman tertentu. Ada pula kain mirip sarung dengan hiasan manik-manik berbentuk motif naga, burung enggang, maupun manusia. Serta Ulap Doyo, tenunan dari serat daun doyo. Selebihnya, bersama dua varian yang muncul belakangan, yakni Badong Tencip dan Sulam Tumpar (namanya kurang eksotis apa coba?), aneka kerajinan tersebut merupakan milik subsuku-subsuku besar Dayak, tersebar di seantero pulau Kalimantan.

Sebagai pembanding. Waktu masih SD pertengahan era 90-an lalu, salah satu ibu guru pernah menuturkan pengalamannya di pedalaman hutan. Di sana, kala itu, ia tak hanya bertugas mengajari baca tulis. Melainkan juga membudayakan pakaian “layak”, yang didominasi atasan. Baru beberapa tahun terakhir saya tahu, itu adalah program “memanusiakan manusia Indonesia” gaya Orde Baru. Termasuk dengan membusanakan orang-orang yang telanjang dada. Istilah “Batik Dayak” pun makin mendekati oksimoron.

Ndak tahu siapa yang pertama kali mencetuskan sebutan Batik Dayak, entah sebagai inovasi atau Jawaisasi. Kemungkinan besar, si polan itu pula yang berpikir kreatif untuk memindahkan media motif Dayak. Dari gambar bagian tameng perang, pahatan topeng Hudoq, maupun ukiran dinding utama Lamin atau rumah tradisional suku Dayak ke atas kain. Hingga akhirnya melekat di tubuh banyak orang. Mulai dari seragam sekolah dan baju KORPRI se-Kalimantan, wakil menteri tadi, sampai almarhum Madiba.

Pola dan ulirnya khas.

Terlepas dari penjelasan di atas, saya baru melihat perajin batik motif Dayak yang menggunakan malam kira-kira empat tahun lalu. Itu pun di mal, eksibisi pembuatan batik motif Dayak dalam rangka hari jadi Kota Samarinda. Rasanya, ndak ada proses produksi beginian di Samarinda. Hmm… Barangkali memang sayanya yang kurang wawasan. Tapi rupanya benar saja, lah wong kapanan sempat baca artikel ada batik motif Dayak yang dibuat di Pekalongan. Kata si bosnya (sanes tiyang Kalimantan), alat dan pembatiknya terbatas di Kalimantan. Jenis air lokal juga berbeda, memengaruhi pewarnaan. Kalau begini, berarti batiknya ala Jawa, motifnya doang yang Kalimantan.

Di mal, 2010 lalu.

Di mal, 2010 lalu.

Walaupun dijuluki batik dari Kalimantan, perbedaan fondasi budaya tetap tidak bisa memperlakukannya sama dengan batik Jawa Tengah-Yogyakarta (Parang Rusak, Udan Liris, Sogan, Truntum, Garuda, dan sebagainya). Motif Batik Kalimantan cenderung dimaknai secara denotatif, apa adanya. Mirip dengan pemaknaan pada batik pesisir Jawa.

Contoh busana Belian.

Contoh busana Belian.

Motif naga serta burung enggang dengan kesan visual primeval melambangkan keanggunan dan kecantikan pemakainya yang wanita. Motif tanaman, terutama pakis, adalah pola umum sebagai ulir ciri khas Dayak. Untuk motif tameng perang Dayak, menghasilkan wajah seram simetris. Itu saja. Berbeda dengan sarung mistis Belian, shaman atau juru sembuh suku Dayak. Seringkali hanya berupa kain merah, atau dengan anyaman manik batu di bagian bawahnya. Begitupun Ulap Doyo, dengan hanya satu deret objek tunggal serupa ukiran patung manusia ala Dayak, yang disusun vertikal repetitif.

Selain itu, beda bagian Kalimantannya, beda pula motif batiknya. Di Kaltim dan provinsi termuda, Kalimantan Utara (Kaltara), lekukan motifnya lebih halus. Sementara batik motif Kalimantan Tengah (Kalteng) maupun Kalimantan Barat (Kalbar) secara umum menggunakan pola yang pixelated, seolah berpatokan pada strimin.


Masih berusia relatif muda, tampaknya memang tidak mustahil untuk menyusun penelitian komprehensif mengenai batik motif Dayak ini sejak awal mula. Kebayang prosesnya rada susah, lantaran berlingkup sepulau Kalimantan. Termasuk Negara Bagian Sabah dan Serawak, serta Brunei Darussalam. Capek di jalan.

Jujur, hanya sekitar sembilan helai kemeja batik motif Dayak yang pernah/sedang saya miliki. Empat di antaranya adalah seragam khusus Kamis dan Jumat waktu TK sampai SMA. Satu helai malah dibuat untuk hajatan paguyuban warga Tionghoa. Satu helai lainnya untuk tampil jadi tim paduan suara lomba FSBKST di Jakarta beberapa tahun lalu. Dua lainnya bisa dikenakan untuk urusan kantor. Sisanya, dipakai khusus kondangan umum.

Boleh dibilang, sekarang, mau suku apa saja, kalau sudah jadi warga Samarinda, atau Kaltim, atau pulau Kalimantan, pasti bangga dengan batik motif Dayak. Termasuk Pak Wamen tadi.

[]

The Sicilian Scene

Membaca tulisan dari Fa Dompas mengenai pendudukan Islam di sebagian Eropa, saya entah kenapa jadi teringat salah satu adegan di film True Romance. Adegan paling keren, cowok banget, lucu, mengenaskan tapi juga kontroversial. Kenapa kontroversial? Karena menimbulkan pertanyaan baru yang penting. Salah satu adegan yang paling fenomenal karya Quentin Tarantino–walaupun tidak seterkenal adegan Jules membacakan Ezekiel 25:17 di Hamburger Scene–tapi saya yakin Quentin tidak membuat naskah yang asal-asalan. Nama adegan itu adalah The Sicilian Scene.

Pendudukan Islam di Eropa (terutama di Semenanjung Iberia dan Italian bagian Selatan) yang berakhir di abad 14 itu telah melahirkan keturunan bangsa Eropa yang “tidak bule”. Telah terjadi percampuran genetika antara bangsa Eropa dan Bangsa Moors yang berasal dari Afrika Utara. Harus diakui bangsa berkulit hitam pernah menguasai sebagian Eropa. Yeah that Sicilians still carry nigger gene. Sebelum Amerigo Vespucci menemukan Benua Amerika. Jauh sebelum istilah Negro, Black People atau Afro-Amerika populer. Istilah yang menyesatkan sekali itu Afro-Amerika. Terus kalau Naomi Campbell disebutnya apa? Afro-British? Cih.

Coba perhatikan pemaen bola dari Italia atau Portugal. Banyak sekali yang rambutnya hitam legam dan atau kearab-araban mukanya. Kulitnya pun lebih gelap. Warna bola matanya tidak biru. Contoh: Luis Figo, Gigi Buffon, Del Piero, Raul Gonzalez, Rui Costa atau Cristiano Ronaldo. Dari pelatih bisa kita lihat Jose Mourinho, pelatih klub Inggris, Chelsea yang berasa dari Portugal. Mouri berarti Moor dalam bahasa Portugis. Mau seleb Hollywood? Coba perhatikan muka Al Pacino.

The Sicilian Scene dari film True Romance telah memberi pelajaran sejarah yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Ada yang bilang sejarah adalah milik para pemenang. Tapi pemenang belum tentu benar. Kalau kita liat dari adegan itu siapa yang berbicara tentang fakta? Apakah Christopher Walken? Atau Dennis Hopper?

Hey.
Yeah. And, and your great-great-great-great grandmother
fucked a nigger,
ho, ho, yeah,
and she had a half-nigger kid…
now, if that’s a fact, tell me,
am I lying?

MENKO PEMAKE

Segenap rakyat Indonesia bilang, “Akhirnyaaaa!” waktu kabinet diumumkan Presiden Jokowi. Sebelumnya banyak orang ikut pasang kira-kira. Di TV, tiba-tiba muncul ahli nujum yang tau siapa akan jadi apa. Pesan berantai masuk ke grup-grup pertemanan dengan deretan nama-nama bakal Menteri. KPK kasih tanda, siapa layak siapa ditolak. Jokowi panggil nama-nama. Megawati juga. DPR bingung, Jokowi punya uang dari mana untuk ganti Nomenklatur.

gambar diambil dari sini

Pengumuman Kabinet Kerja Presiden Jokowi. gambar diambil dari sini

Ya, terlepas dari penyusunan Kabinet Kerja yang kontroversial. Presiden Jokowi juga mengajukan perubahan nama beberapa kementerian. Ada yang digabung. Ada yang dipisahkan. Kalau disetujui, maka harus ada sekian rupiah untuk mendanai perubahan itu. Kalau ndak disetujui, Puan Maharani jadi apa?

Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti. Ndak lulus SMA. Sukses usaha perikanan, agrobisnis dan maskapai penerbangan. Maskapai bantuan pertama yang berhasil masuk Banda Aceh sesaat setelah terjangan tsunami. Tiga kali menikah. Punya tato burung Hong di betisnya.

Menteri Luar Negeri: Retno LP Marsudi. Ia satu-satunya orang Indonesia yang dianugerahi bintang jasa Grand Officer oleh Raja Norwegia. Melancarkan diplomasi Indonesia-Australia tahun 1992 atas masalah pembantaian Santa Cruz di Timor Leste. Menjadikan diplomasi berbasis ekonomi di Belanda. Perempuan pertama di tampuk pimpinan diplomat nasional.

Menteri BUMN: Rini M. Soemarno. Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Pernah sukses di sektor swasta dan birokrasi ekonomi dalam negeri. Termasuk diantaranya BLBI, RNI, dan pembelian Shukoi dari Rusia. Adik mantan Dirut Petral ini dikenal dekat dengan Megawati.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya Bakar. Salah satu dari 99 perempuan berpengaruh versi Globe Asia tahun 2007 ini baru setahun masuk politik. Sebelumnya lama berkarir sebagai birokrat. Perempuan Betawi pertama dalam kementerian Presiden Jokowi.

Menteri Kesehatan: Nila Djuwita F. Moeloek. Setelah batal diangkat menteri oleh SBY. Presiden Jokowi mendaulatnya menggantikan Ibu Nafsiah Mboi di lini khusus yang hanya bisa diisi oleh praktisi. Seorang spesialis mata. Istri mantan menteri kesehatan era Habibie.

Menteri Sosial: Khofifah Indar Parawansa. Lisannya juara! Waktu itu tahun 1998. Ia menceramahi rezim Orde Baru di MPR/DPR soal demokrasi dan pemilu. Menjabat Menteri Pemberdayaan perempuan era Gus Dur. Hampir jadi Gubernur Jawa Timur.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak: Yohana Susana Yembise. Profesor linguistik perempuan asal Papua. Aktif dalam dunia pendidikan anak di kampungnya. Pernah menerima penghargaan Tuto Thansen & Fainting Alumni Awards 2014 dari Newcastle University, Australia. Satu-satunya dalam daftar ini yang punya akun LinkedIn.

Menteri Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani. Anak Megawati.

Lahirnya Menko Pemake ini cukup menggetarkan. Ia adalah perubahan nomenklatur dari Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat yang tadinya dipegang oleh Aburizal Bakrie. Bukan hanya nama. Jenis kelamin pun berubah. Tentu ada maksudnya. Ia juga disertai dengan tujuan dan literatur kerja yang lengkap. Sayang, tidak terungkap dalam dokumen apapun saat ini. Di kepalaku, setidaknya Puan Maharani harus bisa menyelesaikan masalah konflik berkepanjangan antara Padang dan Manado sebagai penghasil masakan terenak di tanah air. Yah, minimal Indramayu bisa kembali fokus ke ekspor mangga ketimbang pelacur di bawah umur.

Oh, ini tantangan! Keras, karena jobdesc-nya ndak jelas. Berbahaya, karena jadi sorotan banyak orang. Berisiko, karena punya dua atasan. Dan tajam, karena Ibu Yohana punya LinkedIn.

Berikut enam perubahan nomenklatur kementerian yang–kayaknya–ditolak DPR:

Menteri Pendidikan Aparatur Negara

Menteri Koordinasi Kesehatan Ekonomi

Menteri Perdagangan Perempuan

Menteri Pariwisata Agama

Menteri Keuangan Pemuda

Menteri Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan

Pied Piper Complex

pied-piper1

“Adalah manusia yang selalu melihat segala hal yang sedang “in”, trendy, dilakukan oleh banyak orang di sekitarnya, sebagai kesempatan untuk menonjolkan dirinya dengan cara menyatakan penolakan, perlawanan, kritikan dan tak jarang hujatan.”

Trend adalah sementara. Walau beberapa trend berhasil berumur panjang dan kemudian menjadi klasik. Karena sifatnya yang sementara, kehadiran trend selalu menarik kehebohan. Karena sifatnya selalu baru, menawarkan alternatif pilihan baru, maka tidak ada trend yang bisa membahagiakan semua orang. Pasti akan ada orang-orang yang menentangnya. Alasannya penolakannya bisa beragam. Tidak sesuai dengan seleranya, bertentangan dengan kepercayaan hidupnya, adat istiadat keluarganya, mengancam kelangsungan hidupnya dan sebagainya. Tapi ada juga yang melihat ini sebagai kesempatan untuk menonjolkan dirinya.

Ketika sosial media diguncangkan dengan pembahasan soal calon Presiden. Akan ada yang menganggap ini berlebihan. Tidak relevan. Mengganggu ketenangan hidup media sosialnya. Atau ketika green smoothies sedang menghiasi timeline media sosialnya setiap pagi. Pasti ada yang menganggapnya sebagai kebodohan. Tak jarang mengejek. Saat IKEA buka gerai pertamanya di Jakarta dan ramai dibicarakan, tidak sedikit yang menganggapnya sebagai tak berguna. Sebutlah trend apalagi? Gerai burger, susu almond, berlari, freeletics dan lain-lain. Yang pasti semua akan memiliki fans dan hatersnya sendiri-sendiri.

Wajar dan manusiawi. Namanya juga manusia. Tidak bisa dipukul rata.

Tapi, kalau diperhatikan dengan seksama akan ada sederetan orang yang memiliki konsistensi melakukan penolakan. Dia lagi dia lagi. Disampaikan dengan lantang. Tak jarang seperti sedang mengajak berkelahi.

Kritis? Ah masa segitu kritisnya sehingga semua yang sedang trend harus dilawan? Gak ada kerjaan amat. Lebih pandai dan tahu lebih banyak? Bisa jadi.

Mencari perhatian? Nah inilah alasan mereka yang disebut Pied Piper Complex.

Pied Piper Complex sejarahnya dari dongeng asal Pied Piper of Hemelin di abad 16. Pied atau Peter adalah seorang peniup Suling. Alunan suara Suling dari tiupan Peter rupanya bisa menarik tikus dari penjuru kota untuk mengikutinya. Sehingga dengan mudah akhirnya dituntun dan kemudian dibinasakan. Jadilah Peter mendapat kerjaan dari Raja untuk menggiring tikus di sebuah kota. Ketika tugas selesai dikerjakan, Raja ingkar membayar. Dengan dendam, Peter meniup sulingnya sehingga menarik anak-anak kecil di kota tersebut untuk mengikutinya dengan riang gembira. Untuk kemudian dibinasakan.

Hasrat untuk menjadi idola dan “diikuti” oleh banyak penggemar seperti Peter adalah kebutuhan manusiawi. Maka Pied Piper Complex pun adalah hal yang manusiawi pula. Yang menjadikannya menarik adalah dampak yang kemudian terjadi.

Dampak positif, akan memberikan semangat bagi pengidapnya untuk menawarkan sesuatu yang baru sehingga bisa melampaui trend yang sedang terjadi. Bukan mudah karena membutuhkan kreativitas. Kemampuan untuk menciptakan, mempromosikan dan kemudian menjadikannya trend baru yang lebih besar. Karya inovatif besar yang bisa mengubah pikiran dan hidup manusia, bisa diharapkan.

Melakukan penolakan dan perlawanan terus menerus bukan mudah. Memerlukan energi yang luar biasa. Karenanya sesama Pied Piper Complex memiliki kencenderungan untuk bersekutu. Kalau perhatian dari orang-orang di sekitarnya didapatkan, maka mereka pun akan bahagia. Tapi kalau tidak, akan mengubah cara pandangnya terhadap dirinya dan dunia sekitarnya. “Tak ada yang memahami aku. Mereka semua tolol! Dunia bego!” Atau bisa juga mengecilkan dirinya sendiri sebagai pernyataan kegagalan. Inilah yang merupakan dampak negatif.

brain2

Penyebab Pied Piper Complex bisa beragam. Mulai dari kurang perhatian dari orang-orang yang diharapkan memberikan perhatian untuknya. Merasa memiliki kekurangan dari dirinya yang hendak ditutupi. Merasa tidak berdaya dan kehabisan akal untuk dalam meraih eksistensi. Dan dalam dunia media sosial, kecemburuan melampaui batas saat melihat keberhasilan orang-orang di timelinenya.

Tapi Pied Piper Complex juga bukan hal baru. Banyak inovator kelas dunia dicurigai sebagai “pengidapnya”. Kehadiran media sosial, selain memberikan corong untuk mereka melakukan perlawanan, juga mengumpulkan dan menyatukan mereka. Membuat mereka jadi atau lebih terlihat ketimbang sebelumnya.

Bagaimana menangani mereka? Cuma dua. Tanggapi, terutama kalau ada hasrat yang sama. Atau abaikan. Cuekin. Diamkan saja. Perlahan mereka akan menyadari bahwa perhatian yang mereka inginkan tidak akan didapatkan. Mudah-mudahan kemudian sembuh. Eh tapi tenang, ini bukan penyakit kejiwaan. Walau memiliki kekuatan untuk menularkan. Ini hanyalah sebuah kompleksitas.

Singkatnya Pied Piper Complex disebabkan oleh hasrat untuk menonjolkan diri dengan harapan menjadi lebih terlihat, yang dicapai dengan melawan dan merendahkan segala hal yang sedang trendy.

Dia memang berada di wilayah abu-abu dengan kritis dan ambisius. Ada dan tiada. Tipis. Namun merupakan tanda dan gejala yang jelas.

 

Orgasme Tanpa Penetrasi

CtR

Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake

Meme dengan sebaris kata-kata, quote, kata-kata mutiara adalah ungkapan penuh kedalaman makna yang dengan mudah kita dapatkan melalui media sosial. Si pembuat dan si penyebar pun berbeda iktikadnya. Untuk dan atas nama mengundang tawa, saling mengingatkan sesama teman, menambah jumlah follower, atau murni untuk terus memotivasi diri dan pengobar semangat orang-orang yang kita sayangi.

Iya. Ini ungkapan Jawa. Tapi apa boleh buat, toh jika diartikan memang secara nilai cukup baik untuk dicermati, mengapa tidak kita pedomani. Ungkapan yang bernilai universal dan mendasar. Secara harfiah kira-kira artinya begini: “Kaya tanpa Harta, memiliki Kesaktian tanpa Ilmu/benda pusaka, Menyerang tanpa bala Pasukan, Menang tanpa Merendahkan”. 

Sugih tanpa bandha.

Sugih atau kaya yang dimaksud adalah tidak berkekurangan. Kaya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolok ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup. Tidak berkekurangan karena kita memiliki pertemanan yang banyak,  membuat kita mudah untuk melakukan segala sesuatu. Teman yang membantu kita dengan sukarela. Hal tersebut berawal dari kita sendiri, dimana kita dituntut sebelumnya melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati, tanpa imbalan sekalipun. Dengan demikian, kita saling menitipkan budi baik.

Digdaya tanpa Aji

Kekuasaan sering kali tercipta karena suatu kemenangan fisik, kemenangan mental. Entahlah jika kemenangan disebabkan revolusi mental. Kata-kata kekuasaan bukan juga karena kita mempunyai suatu ilmu beladiri, ilmu tenaga dalam atau aji-aji. Kekuasaan tercipta karena citra dan wibawa seseorang, perkataannya, membuat orang lain sangat menghargainya. Sehingga apa yang diucapkannya, orang lain senantiasa mau mengikutinya.

Nglurug tanpa Bala

Kita harus menjadi orang yang berani bertanggung jawab, berani untuk terus berbuat walaupun hanya sendiri. Sikap kesatria, tanpa mudah terhasut, ikut-ikutan, membebek. Menjadi manusia yang berani maju. Berani menghadapi masalah. Berani untuk bertanggung jawab, walaupun teman-teman kita mundur atau bahkan lari dari masalah tersebut.

Menang tanpa Ngasorake

Tujuan pencapaian yang kita harapkan, kemenangan yang kita inginkan, haruslah tanpa merendahkan orang lain. Secara modern filosopi ungkapan ini sama dengan ‘ win win solution ‘, yang memiliki arti semua pihak yang berselisih paham memiliki hasil yang menguntungkan untuk semuanya.

Sebetulnya ungkapan filosofis Jawa belum berhenti sampai disitu. Ada dua kalimat tambahan yang cocok dengan kondisi saat ini:

Presiden tanpa Menteri, dan Orgasme tanpa Penetrasi.

 

Chess_king_and_pawns

Presiden tanpa Menteri.

Bersyukurlah kita memiliki Presiden bernama Joko Widodo. Saat membayangkan Soekarno yang terbayang adalah imaji dirinya sedang berteriak lantang sembari tangan menunjuk ke samping kanan. Ingat Soeharto akan senyumnya dan melambaikan tangan. Habibie dengan mimik wajah senyum tapi mata melotot. Gus dur dengan senyum dan gerakan tangan mengetuk-ngetuk sandaran kursi. Megawati dengan pose leher agak dimiringkan, mulut terkatup, bukan senyum dan bukan seringai.  SBY dengan kantung matanya dan gerakan tangan yang terkesan tak alamiah. Jokowi? Dia sedang menali sepatu. Besok kita akan melihat gambar dia mencopot sepatu. Minggu depan kita akan melihat dirinya sedang mengenakan kaus kaki. Bulan depan, jika beruntung akan melihat dia sedang menyemir. Tahun depan kita akan melihat dirinya pakai sendal jepit. Kita melihat dirinya. Dirinya dan dirinya. “Mana mentrinya, Pak?” Dijawab singkat: “Kerja, kerja dan kerja”.

Jokowi memang tidak butuh menteri. Setidaknya hingga saat ini.

“Selamat datang untuk Bapak Presiden Jokowi dan Bapak Wapres Jeka, dan segenap jajaran Kabinet Tanpa Menteri. Mari foto bersama.”

Efisien. Tanpa perlu juru foto istana. Mereka bisa dengan leluasa selfie berdua.

Orgasme tanpa Penetrasi

Bagi sebagian orang, orgasme identik dengan kenikmatan seksual. Kamus Besar Bahasa Indonesia juga menyatakan demikian. Bagi sebagian lainnya, orgasme tidak melulu soal birahi. Ketika dirinya mencapai kepuasan yang amat sangat, dirinya mengalami orgasme. Inilah orgasme dalam pengertian lebih luas. Orgasme yang dicapai bukan bersumber dari persetubuhan. Puncak kenikmatan yang diperoleh dengan cara lain.

Montpelier-Vermont-90072461

Jika ada diantara kita senang menulis dan saat menulis dia merasakan kegembiraan, luapan rasa riang dan tak jemu untuk terus merangkai kata, sebetulnya dirinya sedang menjalankan sanggama intelektual. Jika ada sebagian lainnya begitu menyukai olah raga, misalnya lari, kemudian pada saat dirinya berlari merasakan kebebasan, riang gembira, semakin lama semakin rileks untuk terus berlari, maka ini pun dapat dikatakan dirinya sedang melakukan persetubuhan. Ketika garis akhir rute larinya berhasil ditempuh, maka pencapaian dirinya ini membuat dirinya puas. Ini juga sebuah orgasme, namun tanpa penetrasi.

Tweet yang diretweet selebtwit. Postingan path yang dilope-lope gebetan. Tulisan di blog yang menjadi bahan perbincangan. Obrolan berkualitas dengan pasangan. Menemukan kalimat indah dan “gue banget” saat membaca buku. Memandang lanskap perbukitan di majalah wisata dan membayangkan diri kita ada disana. Menuntaskan pekerjaan dan dipuji bos, juga rekan sejawat. Berhasil memperbarui sistem operasi gawai milik sendiri. Mendapat senyuman manis dari si dia. Berhasil memesan kaftan Febiani Hermaini. Bolos kerja dan main ke pasar Santa. Mendengarkan lagu yang musiknya bikin “melanglang buana”. Mendapati pesan singkat balasan yang telah ditunggu sejak semalaman bahkan berbulan-bulan, dengan tulisan: “Ya.”

Orgasme tanpa penetrasi apalagi ya kira-kira? Biarkan saya orgasme dengan cara yang sederhana. Orgasme melihat kolom komentar yang penuh dengan “usulan orgasme dalam bentuk lainnya”.

Selamat menulis kolom komentar.

 

HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 2

(lanjutan dari bagian pertama)

Konya, 1248. Awal Desember. Malam itu, di luar, udara sedang dingin-dinginnya. Di dalam kamar, cengkerama sepasang kekasih sedang hangat-hangatnya. Bagi mereka ini ritual. Kebiasaan yang sudah dilakukan selama empat tahun. Menemukan Sang Empunya Semesta di antara percakapan. Hal yang sulit dimengerti orang-orang sekitar. Tapi siapa yang peduli, bagi mereka ini cinta. Cinta — lebih sakral dari apapun dan kegilaannya tidak selalu harus dimengerti.

Tak berapa lama sang kekasih mendengar pintu belakang diketuk. “Tunggulah sebentar, ada tamu. Aku bukakan pintu dulu.”, katanya.

Ia mengiyakan; tetap tinggal di dalam kamar. Menunggu. Di luar, udara semakin dingin. Tidak terdengar suara-suara. Malam sudah habis dan kekasih tak kunjung datang. Ia patah hati. Ini yang kedua kali. Namun entah kenapa ia yakin kali ini sang kekasih tidak akan kembali. Padahal, baginya, kekasihnya itu adalah Sang Mentari. Sesuai dengan namanya: Syam.


 

Balkh, 1207. Akhir September. Kota kecil ini masuk di dalam wilayah kekuasaan Persia (Balkh saat ini merupakan wilayah Utara Afghanistan). Bahauddin yang ahli agama itu baru punya anak laki-laki. Jalaluddin namanya. Jalal ad-Din; kemenangan atas iman. Bahaudin memang pengin anak laki-lakinya ini kelak bisa jadi penerus.


 

Anatolia, 1215. Persia diinvasi kerajaan Mongol, Balkh akhirnya diduduki. Bahauddin dan keluarganya terpaksa hijrah ke tempat baru ini. Anatolia letaknya di bibir laut Mediterranean. Wilayah ini dulunya kekuasaaan Byzantium, Romawi.

Sudah jadi kebiasaan orang-orang Timur Tengah, nama tempat tinggal dijadikan nama belakang. Tanda pengenal, katanya. Begitu juga dengan Jalaluddin. Ia menanggalkan nama Balkhi, dan menggantinya jadi Rumi. Asalnya dari kata Roman/Romawi. Jalaluddin Rumi kalau diterjemahkan bisa jadi begini : Si Jalaluddin anak Rum.

Enam belas tahun berselang dan Bahauddin sang ayah pun meninggal. Jalaluddin berniat meneruskan jejak sang ayah. Tak lama kemudian ia dan istrinya, Gowhar Khatun, pindah ke Syria untuk belajar.


 

Jalaluddin yang dicegat Syam

Konya, 1244. Tengah November. Jalaluddin, 37 tahun, lagi mateng-matengnya. Punya madrasah, ahli ilmu syariah. Ndak ada yang ndak kenal.

Siang hari itu, seusai mengajar, ia menuju rumah menunggangi keledainya. Ketika melewati pasar, tiba-tiba ia dicegat seorang lelaki paruh baya. Laki-laki ini mengenakan jubah hitam yang begitu lusuh, janggut dan rambutnya panjang tak terurus, badannya dekil. Orang-orang bilang dia gila. Syamsuddin Tabrizi. Syam si laki-laki gila dari Tabriz (sekarang wilayah Azerbaijan, Iran).

Syam terus saja meracau dan menghalangi jalan Jalaluddin. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh yang begitu absurd. Jalaluddin pun tidak tahan untuk tidak meladeni, mereka akhirnya terlibat percakapan yang begitu seru. Syam kemudian memutuskan kalau Jalaluddin lah orang yang selama ini ia cari. Orang yang bisa membantu ia menemukan Tuhannya.

Sejak saat itu Jalaluddin dan si gila Syam tidak bisa dipisahkan. Mereka mengasingkan diri berdua. Berbulan-bulan. Bagi mereka ini ritual. Menemukan Sang Empunya Cinta di antara tatapan dan percakapan sunyi. Berdiskusi tanpa kata-kata.

Dua tahun sudah lewat. Jalaluddin tidak peduli lagi dengan apapun, toh ia sudah menemukan Sang Mentari. Murid-muridnya yang lain habis dibakar cemburu, mereka pun akhirnya mengusir Syam. Keesokannya Syam menghilang tak berjejak. Jalaluddin berduka, mengunci diri. Banyak yang percaya di sinilah titik awal Jalaluddin mendalami mistisisme Islam.


Damaskus, 1247. Di pusat kota. Syam berdebat dengan seorang pendeta dari barat. Francis Assisi namanya (kemudian jadi Santo). Ini Pelik. Soal kalah-menang. Bukan. Bukan soal agama mana yang paling benar. Bukan soal Muhammad atau Yesus. Ini soal judi kartu. Menurut Syam, Francis curang. Maunya cuma uang. Akhirnya Francis pun mengaku, tapi Syam malah merelakan uangnya. “Bawalah untuk kawan-kawan di Barat sana. Bagikan untuk mereka.”, katanya. Francis pun pamit undur diri.

Ada seorang pemuda yang daritadi mengamati mereka dari kejauhan. Sultan Walad. Anak teruta Jalaluddin, ia datang menyampaikan surat cinta untuk kekasih sang ayah. Jalaluddin kangen, katanya. “Kembalilah, Syam, aku rindu.”, mungkin begitu isi suratnya.

Syam akhirnya manut, ikut kembali ke Konya dan kembali ke pelukan Jalaluddin. Mereka tidak bisa dipisahkan.


Konya, 1248. Awal Desember. Pagi itu, di luar, udara sedang dingin dinginnya. Di dalam, hati sedang panas-panasnya. Mata sedang basah-basahnya. Kekasihnya tak kunjung pulang. Padahal Cuma Syam yang bisa membantunya menemukan Sang Empunya Rasa. Walau dalam diam sekalipun.

Berbulan-bulan ia meratap. Puluhan sajak ia tulis untuk Syam. Ia pun akhirnya pergi ke Damaskus, siapa tau Syam di situ lagi. Padahal tidak ada yang berani bilang kalau Syam dibunuh dan jasadnya dibuang, tidak bisa ditemukan.

“Why should I seek? I am the same as he.

His essence speaks through me.

I have been looking for myself.”

Setelah lama dirundung sendu, Jalaluddin pun tercerahkan. Sang Mentari tak perlu dicari. Ada di dalam dirinya sendiri.

Jalaluddin pun akhirnya bisa jatuh cinta lagi. Kali ini kepada seorang tukang emas bernama Saladdin Zarkub. Dan, bukan. Ia bukan yang terakhir. Sepeninggal Saladdin, Jalaluddin kembali jatuh cinta pada seorang pemuda berdama Husam Chelebi.

Sajak-sajak Jalaluddin tentang Syam pun dikumpulkan dan diberi judul “The Great Works of Sham of Tabriz”. Namun buku ini dan sajak-sajaknya yang lain, oleh pemerintah Turki, sempat dilarang beredar dan diterjemahkan karena kontennya yang begitu “nggilani”. Barulah akhirnya pada tahun 2006 kumpulan sajak ini bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Homo kah seorang Jalaluddin Rumi? Apapun hubungan yang ia miliki dengan Syam Tabrizi, rasanya kurang pas jika harus dikotak-kotakkan ke dalam label homoseksual, homoerotis, homophile, homosocial, dan homo-homo lainnya.

Saya, sih, melihat ini sebagai same-sex love. Tidak harus selalu dimengerti. Tapi, cinta dan kasih seharusnya juga tidak perlu ditempeli embel-embel gender. Seperti yang pernah ditulis Gandrasta, Jalaluddin pun punya konsep yang sama tentang cinta dan ketuhanan.

“I profess the religion of love.

Love is my religion and my faith.

My mother is love, my father is love, my prophet is love.

My god is love I am a child of love.

I have only come only to speak of love.”

 

(bersambung)

(p.s: kalau teman-teman tertarik membaca kumpulan sajak Rumi untuk Syam Tabrizi, silakan tinggalkan email di kolom komentar. Nanti saya kirim versi pdf-nya. 🙂 )
(p.s.s: bisa juga klik di sini divaneshams)

Obat Sakit

Apabila tulisan ini membuat Anda terisak-isak, pasti bukan karena isinya. Tapi lebih karena ketularan.
Maklum, yang menulis hari ini sudah beberapa hari terkulai lemas karena flu. Apa daya, otak dan tangan tak sanggup mikir yang berat-berat. Kaki cukup melangkah beberapa jengkal ke dapur bikin sup hangat. Selimut membekap badan yang juga hangat. Lalu sambil ketiduran, tangan mulai mencari deretan film sebagai teman kemulan.
Film apa yang menghangatkan badan? Ya film komedi romantis, tentunya.

Deretan film-film prestisius, award-winning, critically lauded films boleh saja menghiasi rak DVD dan Blu-ray. Tapi ketika sakit kepala melanda, rasanya lebih pas ditemani Renee Zelwegger waktu masih jadi Bridget Jones bebas Botox. Padahal film itu sudah 13 tahun yang lalu. Toh masih saja jadi andalan teman saat kesepian.

Namanya juga genre film yang berurusan sama hati, mana mungkin basi? (Aduh ini dari tadi kok rhyming terus sih?! Obatnya mulai bekerja.)

Meskipun jaman sekarang hampir gak ada yang pakai telpon rumah, tapi adegan Janeane Garofalo dan Ben Chaplin telpon-telponan selama 7 jam di film The Truth About Cats and Dogs masih bisa bikin tersenyum.

Film komedi romantis cenderung tumbuh bersama waktu. It easily grows over time. Banyak yang dicap “biasa aja” waktu dirilis pertama kali. Beberapa malah gagal secara kualitas dan komersial.
Toh kita sendiri yang membuat genre ini jadi timeless: saat kita gak tau mau nonton apa waktu sakit, bingung ngapain pas malem minggu sendirian di rumah (oalah, mblo!), saat baru putus dan pengen nangis-nangis, saat bengong di depan mbak-mbak DVD bajakan di ITC (idih!), the idea of spending 2 hours watching people chasing for love, losing it, and eventually gaining it back again never fails.

Jadi, kalau percaya bahwa traveling bisa menyembuhkan patah hati dalam 2 jam, tontonlah Summertime atau Under the Tuscan Sun. Lupakanlah perjalanan Julia Roberts.

Under the Tuscan Sun

Under the Tuscan Sun

Kalau percaya bahwa pria gay bisa disembuhkan oleh perempuan putus asa yang ngeyel, mungkin anda seperti Jennifer Aniston di The Object of My Affection.

Kalau percaya bahwa cinta pertama jatuh pada pria atau wanita yang ditaksir waktu SMP, mungkin ada benarnya, menurut Litte Manhattan dan 13 Going on 30.

Little Manhattan

Little Manhattan

Kalau percaya bahwa hati yang luka bukan sekedar lagu Betharia Sonata, tapi bisa menyembuhkan hati lain yang juga terluka, silakan termehek-mehek nonton Return to Me.

Kalau percaya bahwa dalam satu siklus hidup ada tiga cinta sejati, meskipun berujung pada satu hati (yasalam, rhyming lagi!), kita bisa tersenyum dan terharu menonton Ryan Reynolds di Definitely, Maybe.

Definitely Maybe

Definitely Maybe

Dan kalau sudah eneg dengan segala lovey dopey atmosfir di film-film ini, maka They Came Together akan mengembalikan kepercayaan kita terhadap komedi romantis.

Mari kita bersulang teh hangat! Cheers!

Berani?

Apa artinya bertindak baik kepada diri sendiri, tanpa bertindak baik kepada orang lain. Lalu, akan sangat naif dan bodoh bila bertindak baik kepada orang lain, tetapi tidak diimbangi dengan bertindak baik kepada diri sendiri.

Mau yang mana? Kalau kata guru BP dan PPKn sih harus dijalankan dua-duanya.

Bisa? Barangkali. Entahlah.


Apakah saya orang baik? Mungkin, bagi beberapa orang. Tidak sedikit pula yang beranggapan sebaliknya.

Penilaian kedua dihasilkan dari beragam penyebab dan alasan. Toh, saya memang bukan manusia bebas cela. Sebab bahkan pada kenyataannya, saya masih bisa menyakiti hati orang yang mencintai saya. Telanjur menyakiti, walaupun niatnya bukan menjahati.

Sejauh ini, saya merasa wajar-wajar saja ketika dicap sebagai orang yang tidak baik. Soalnya, saya belum tidak mampu sesuci Gandhi, nabi, atau siapapun figur yang dikultuskan hingga kini. Sebuah realitas, tidak ada orang yang tingkah lakunya sempurna. Bukan lantaran pikiran, perbuatan, dan ucapan yang jahat, melainkan karena pandangan dan penerimaan yang tak sepakat.

Selajur dengan itu, monggo dilihat latar belakangnya. Apakah tindakan yang dilakukan memang bertujuan untuk membuat orang lain sakit hati, ataukah hanya kepengin jujur dan enggak sudi membohongi diri sendiri?

Tidak berbohong. Itu perbuatan baik. Bersikap jujur. Itu juga perbuatan baik. Tapi keduanya kerap bermuara pada ujung yang terpisah jauh.

Kejujuran sejatinya sering terasa pahit dan menyakitkan. Memerlukan kesiapan dan keberanian untuk disampaikan. Namun bagaimanapun juga, kejujuran adalah kejujuran; menyingkap kebenaran. Sehingga, silakan dipilih. Mau bertindak baik dengan jujur, atau bersikap baik dengan menghindarkan orang lain dari perasaan sakit hati.

Jika mengambil pilihan kedua atas nama kehidupan sosial, rasa sungkan dan kasih sayang, memang tidak perlu melakukan tindakan buruk dengan berdusta. Cukup bungkam saja. Menjawab pertanyaan dengan diam, ataupun dengan senyuman. Meskipun demikian, tetap ada risikonya. Mulut yang terkatup rapat malah menimbulkan prasangka dan salah paham. Lebih runyam dampaknya apabila dibiarkan. Lagi-lagi, pada akhirnya masalah membutuhkan penjelasan.

Mungkin Anda pernah mengalami kondisi serupa, tapi dengan hasil akhir yang tak sama. Wajar saja, setiap orang yang menghadapinya berhak mengambil keputusan lewat pertimbangan berbeda-beda. Dalam perkara ini, orang lain hanya muncul dan memberikan suara. Itu saja peran mereka. Karena selain tuhan, setiap orang adalah pemilik, penanggung jawab, dan penentu arah kehidupannya masing-masing.


Jadi, setelah siap menerima kejujuran orang lain, sudah berani jujur pada diri sendiri?

[]

Selamat Pusing Memilih, Pak!

Beberapa hari yang lalu Mark Zuckerberg, CEO Facebook, berkunjung ke Indonesia, setelah sebelumnya dari India. Banyak yang bertanya-tanya ngapain sih dia ke Indonesia? Lawatannya ke Indonesia sangat berbau politis karena presiden terpilih, Jokowi, akan segera dilantik. Sekarang sih sudah jadi Presiden RI yang ketujuh. Selamat ya Pak Jokowi.

Oh, rupanya dia ke Indonesia dalam rangka memperkenalkan proyek barunya yang bernama internet.org. Saya salah. Kirain mau selfie di Candi Borobudur. Menurut Zuckerberg, internet ternyata baru terjangkau oleh 1/3 penduduk di dunia ini. Artinya ada 2/3 penduduk sama sekali yang belum pernah melakukan aktifitas dengan koneksi internet.  PBB tahun 2011 telah mencanangkan bahwa akses koneksi ke internet adalah hak asasi manusia. Hal ini diantisipasi oleh Mark Zuckerberg dengan membuat internet.org tahun 2013 lalu. Internet.org dibuat oleh Zuckerberg dengan menggandeng Nokia, Ericsson, Mediatek, Samsung, Opera Software dan Qualcomm. Kemitraan global agar internet bisa dijangkau oleh 2/3 penduduk dunia yang belum dapat akses internet.

CYGY.com

Internet.org ini sederhananya adalah 911-nya internet. Ya seperti kalau di Amerika Serikat sana kalau kita menelpon ke 911 itu tidak kena pulsa. Atau 112 mungkin kalo di Indonesia. Tapi saya gak tau apakah 112 itu berfungsi atau tidak. Belum pernah coba. Browsing melalui internet.org ini gratis. Proyek ini sedang berjalan di beberapa negara Afrika dengan menggandeng sponsor dari perusahaan-perusahaan besar. Untuk di India mereka akan bekerjasama dengan Unilever.

Mulia sekali ya idenya. Memberikan internet gratis kepada mereka yang membutuhkan. Tapi satu hal yang pasti, Whatsapp akan diikutsertakan dalam proyek internet.org. Facebook apalagi. Ngapain beli aplikasi chat semahal itu kalau tidak ada perannya. Ya kan. Ujungnya? Mark Zuckerberg akan tetap berada di deretan teratas orang terkaya versi Forbes. Pundi uangnya akan bertambah banyak kalau proyek ini berhasil. Tidak ada yang gratis untuk internet gratis.

Ah, tapi jangan mikir terlalu jauh dulu. Jangankan gratis, untuk internet berbayar aja sekarang masih lemot. Streaming masih kayak goyang Annisa Bahar. Patah-patah. Ini pelanggaran hak asasi manusia. Tidak boleh didiamkan. Jokowi harus cermat memilih Menkominfo. Kriteria saya sih gampang. Jangan yang berjenggot, jidatnya item. hobi poligami, celananya ngatung. Jangan. Saya jamin butut kalau yang gitu dipilih.

Nih, Pak, udah saya sortir nama-namanya: Narliswandi, Agung Adiprasetyo, Dyah Kartika Rini Djoemadi, Suryopratomo, Syaiful Hadi dan Niken Widhiastuti, Jim Geovedi, Onno W. Purbo, Setyanto P. Santosa, Ferry Mursydan Baldan, Sri Sajekti Sudjunadi, Akbar Faisal, Bachtiar Aly.

Selamat pusing memilih, Pak. Ini baru satu Kementrian, lho. The worst is yet to come. :p

MARI TUTUP SETIAP KALIMAT DENGAN “BRO!,” BRO!

Pertama, maaf Bro! Bukan sok asik, tapi atas tekanan kawan-kawan dan kolega pria berpendidikan yang jantan dan mapan, aku akan tutup setiap kalimat dengan “Bro!” Bro!

Gambar dari Google

Gambar dari Google

SANTAI KASUAL BRO!

“Bro!” ini muncul di akhir kalimat bukan tanpa alasan Bro! Dengan maksud bikin suasana obrolan santai kasual, Bro! Terucap begitu saja antar sesama laki-laki Bro! Berasal dari kata “Brother” yang dipangkas hingga menyisakan tiga huruf depannya saja Bro! Menipiskan kasta dalam lisan sekaligus terasa dekat tanpa bumbu homo Bro! Akrab gitu deh Bro!

INTIM MASKULIN BRO!

Dengan mengakhiri semua kalimat pakai “Bro!,” harusnya terdengar macho Bro! Seperti teman ngobrol dan rokok di warung setelah Jumatan Bro! Intim, karena bisa untuk curhat Bro! Maskulin, karena terdengar lebih tegas dari curhatan perempuan Bro!

CEK GENDER BRO!

Aksen ini ndak mungkin dipakai kalau bicara sama perempuan Bro! Kecuali kalau kita ndak yakin sedang berhadapan dengan perempuan mirip laki dan laki mirip perempuan Bro! Dalam suasana labil begitu, sebaiknya tetap pakai “Bro!” Bro! Sampai situasi terbukti sebaliknya Bro!

TAK IYE BRO!

Aksen serupa secara turun-temurun sudah berlaku di Madura dengan “tak iye,” Bro! Atau jadi sapaan santai sejak lama untuk Pak Brotowidagdo, Brotowali, dan Brontosaurus Bro! Ada juga beberapa penutur bahasa Inggris di Amerika yang sering bilang “...you know” Bro! Jadi, ndak ada masalah Bro! Justru aksen baru ini menambah kaya Bahasa Indonesia yang demokratis Bro!

JANGAN DIBAWA MEETING BRO!

Meski menambah jantan percakapan, tapi sifatnya yang kasual bikin susah dibawa formal Bro! Bayangkan, “Kami setuju dengan semua syarat yang diajukan dan sekarang kita akan sepakati dengan penandatanganan kontrak, Bro!” Bisa bubar semuanya Bro!

CAPEK BRO!

Udah ya Bro! Mau muntah Bro!

Sok Tau 2015 (Bag. 3 – Tamat)

7. NIP N’ TUCK

Olahraga yang semakin digandrungi, membuat bentuk tubuh menjadi patokan penting. Didukung dengan adanya trend pakaian yang membutuhkan bentuk tubuh ideal akan merajalela di tahun 2015. Bayangkan, siapa yang bisa mengenakan body suit yang melekat di seluruh tubuh tanpa memiliki tubuh yang indah. Selfie tak hanya sekedar wajah, tapi juga bentuk tubuh yang ideal. Alasannya bisa beragam: Dikagumi. Dikagumi. Dan, dikagumi.

b50c0760831b67fe78f10639ce3098b3_shed2014-09-wang-womensalexander-wang-for-hm-ads-joan-smalls-glamazons-blog

Setelah dirasa olahraga saja tidak cukup, bantuan medis dan non medis pun akan bermunculan. Operasi plastik yang tadinya sering disembunyikan kini bisa dengan leluasa menjadi perbincangan di tempat umum. Dengan mudah kita melihat para artis secara terang-terangan mengaku kalau dirinya mendempul sebagian atau seluruh tubuhnya. Memanjakan tubuh tak lagi soal memberikan rasa nikmat seperti dipijat, tapi juga membentuknya.

Mulai dari salon, klinik, rumah sakit kecantikan akan semakin menjamur. Teknik-teknik baru akan semakin dikembangkan. Dari menggunakan alat medis sampai supranatural. Pilihan harga pun semakin luas. Karena memiliki tubuh yang indah, tak mengenal kelas dan status sosial.

8. OLD MONEY

Setelah remaja dan eksekutif muda menjadi incaran produsen, tahun depan giliran generasi tua akan semakin dimanjakan. Beragam fasilitas dan barang yang menjadikan hari tua lebih indah. Paket berlibur untuk senior citizen, ke tempat-tempat yang tenang dan tidak diburu-buru oleh waktu selayaknya paket tur untuk remaja. Trend pakaian yang diciptakan khusus untuk kakek dan nenek sehingga mereka tampil lebih modis. Kosmetik dan perawatan kulit khusus untuk merawat kulit yang sudah keriput. Club tempat kakek dan nenek berkumpul dan beraktivitas bersama. Cafe khusus untuk para orang tua dengan menu makanan sehat dan disesuaikan dengan kondisi tubuh mereka. Ah silakan mencari ide baru di lahan baru ini.

old_couple--621x414perth-massage-therapy-for-the-elderlyarticle-1380767-0BC717D500000578-645_634x286

Kata ‘tua’ memiliki usia yang lebih muda. Harapan untuk pensiun dini dan menikmati hidup lebih cepat, membuat manusia cepat menjadikan dirinya tua. Tentukan saja usia tua sesuai kondisi keuangan. Sudah merasa mapan di usia 30 dan bisa hidup tanpa bekerja dan mulai memasuki masa pensiun? Kenapa tidak!

Masuk akal. Hanya ada dua hal yang produsen inginkan dari pembeli; UANG dan WAKTU. Target remaja, memiliki waktu tapi tidak memiliki uang. Target dewasa, memiliki uang tapi tidak memiliki waktu. Target orang tua, memiliki uang dan waktu.

9. BATIK TIGA NEGERI

Kolaborasi yang belakangan ini dikumandangkan, tak selalu menghasilkan. Sifat tamak manusia mematikannya. Keberhasilan selalu menjadi anak yang diakui semua orang dan kegagalan adalah anak yatim piatu. Kata orang bijak. Pecah partneran bisnis, menjadi alasan yang sering disebut belakangan ini. Restoran buka tutup. Produk baru datang dan pergi. Semua terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Adalah batik tiga negeri. Batik yang dibuat di tiga tempat berbeda: Lasem, Pekalongan dan Solo. Menghasilkan karya yang indah perpaduan warna merah dari Lasem, biru dari Pekalongan dan sogan coklat dari Solo. Keunikannya, saat dikerjakan di tiga tempat itu, tidak ada satu pun yang mengetahui hasil akhirnya akan seperti apa. Masing-masing pembatikanmengerjakan bagiannya sendiri sendiri.

MDR_0869

Cara kerja ini sepertinya akan lebih sesuai untuk kita. Selain tidak ada persaingan uang dan ketenaran, cara kerja ini pun menghindari penjiplakan. Kenapa tidak dicoba?