AYAH? AH, YA..

Kemarin, seusai baca “Ayah” yang ditulis Nauval, ulu hati rasanya seperti ditonjok. Jari-jari mendingin. Saya ndak suka topik yang dia bahas. Bahasan soal ayah itu seperti kryptonite. Harus selalu dihindari kalau tak mau berakhir dengan mata berair dan dada sesak. Tak berapa lama, ada satu pesan muncul di layar ponsel. “Aku mewek”. Rupanya sang kawan juga merasakan hal yang sama. Hampir seharian saya habiskan membaca komentar teman-teman yang ikut bernostalgia tentang ayah mereka.

Dan hari ini, entah kenapa, saya merasa harus menambahkan satu bab lagi soal ayah di Linimasa.

Bicara tentang ayah itu bicara tentang sesuatu yang sangat kompleks. Dan, rasanya, membicarakan hubungan anak dan ayah itu jauh lebih kompleks. Njlimet. Ribet. Bukan. Bukan mengecilkan peran ibu. Tapi kita masih hidup di lingkungan di mana ibu diharapkan dan sudah sewajarnya jadi sosok welas asih. Jadi kalau ada apa-apa, lebih gampang untuk memaafkan ibu. Sementara ayah? selalu banyak drama.

Saya ingat, ada seorang kawan yang mengaku kalau salah satu pemicu ia jadi homoseksual adalah konfliknya dengan sang ayah yang berakar dari ia kecil. Selalu dijadikan sasaran kekesalan ayahnya yang kalah judi. Entah itu ditampar, atau dipecut dengan ikat pinggang, atau dipukul dengan pemukul kasur dari rotan. Lalu ada juga kawan yang tahun lalu baru jadi bapak. Ia sempat berkelakar “Bangsat bangsat gini, gue pengen jadi bapak yang baik. Anak gue harus jadi anak soleh, lah.” Kemudian seorang kawan lain yang begitu terkesan dengan sosok sang ayah. Sampai-sampai, tujuan hidupnya, ya, menemukan lelaki yang punya sifat dan karakter mirip ayahnya.

Berat juga jadi ayah. Seumur hidup dibebankan dengan pertanyaan apakah ia akan jadi pahlawan bagi anak laki-lakinya. Dan apa ia akan bahagia kalau anak gadisnya menikahi pria seperti dirinya. Ayah merupakan sosok asing pertama yang kita biarkan untuk kenal dan cintai. Namun sayangnya, cinta kerap bersisian dengan sakit hati. Di sinilah drama dimulai. Saya yakin, kalau bahasannya sudah ‘ayah’, tak diminta pun teman-teman pasti cerita sendiri.

Ada satu film bertema ayah yang begitu kuat diingatan saya. La Vita è Bella (Life is Beautiful). Roberto Benigni memerankan serang pria bernama Guido Orefice. Seorang yahudi pemilik toko buku di salah satu kota di Italia. Waktu itu Perang Dunia II sedang panas-panasnya dan Nazi Jerman akhirnya menduduki Italia. Guido dan sang anak yang baru berumur lima tahun, Giosué, akhirnya harus “dipindahkan” ke kamp konsentrasi di luar kota. Untuk mengapus rasa takut Giosué, Guido berbohong dan berpura-pura kalau kejadian yang mereka alami ini adalah sebuah perlombaan. Orang pertama mengumpulkan 1000 poin akan dihadiahi sebuah tank baja. Tujuan utamanya, ya, tentu saja untuk melindungi Giosué sementara ia menunggu saat yang tepat untuk membebaskan keluarganya dari kamp konsentrasi. Ini salah satu film terbaik yang pernah saya tonton.

Guido dan seorang tentara Nazi. Salah satu scene di “La Vita e Bella”

Ada satu hal yang saya lihat dari Guido, ayah saya, dan mungkin ayah kalian. Mereka kadang terlalu hanyut di balik peran sebagai seorang ayah. Dan akhirnya kitapun kadang ikut alpa kalau mereka juga manusia. Dan ketika film berakhir, saya masih ingin mengenal lebih lanjut sosok Guido. Saya ingin mengenal ayah. Bukan sebagai ayah, tapi sebagai manusia. Saya ingin mengenal ayah seperti layaknya dua orang manusia yang mengenal satu sama lain, tanpa ada label anak-bapak. Apa yang ia pikirkan kalau ia tak harus memikirkan istri dan anak-anaknya? Apa sebenarnya yang ia inginkan? Atau, sesederhana, bahagiakah ayah selama ini?

Jujur saja, ketika dihadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu, saya tidak tau harus jawab apa. Saya merasa sama sekali tidak mengenal ayah. Sedikit sekali hal yang saya tau tentang beliau. Bagaimana kita bisa begitu asing akan seseorang yang sudah dari lahir kita kenal? Bukan, ini bukan upaya justifikasi dari segala hal-hal buruk yang mungkin pernah dilakukan ayah-ayah kita. Tapi, kalau kita mau mengenal lebih sosok ayah, mungkin kita jadi lebih mengerti keputusan-keputusan yang mereka ambil. Baik atau buruk sekalipun. Mengerti, bukan memaklumi.
Dan akhirnya, sebelum ini jadi curhat colongan yang kepanjangan, saya harus berhenti di sini.

Advertisements

5 thoughts on “AYAH? AH, YA..

  1. Pingback: Tentang Keluarga yang Tak Selalu Harus Utuh | LINIMASA

  2. hai! gue nemu blog ini gara2 gue follow twitter kak marisa anita trus nemu twitter kak gandrasta dan buka blog ini deh. pertama baca, langsung suka dan akhirnya keterusan baca2 postingan yang lain.
    btw, gue bacanya postingan ini nangis loh huhu. tertegun karena kalimat ‘Jadi kalau ada apa-apa, lebih gampang untuk memaafkan ibu. Sementara ayah? selalu banyak drama.’ ini (kayaknya) sesuai banget dengan keadaan gue.
    aduh sorry malah curhat, intinya, i love your brain, i love the way you convey your thoughts. 🙂

Leave a Reply