Sebuah Pengakuan

Dua setengah jam lagi deadline tulisan Linimasa. Tapi sampai saat ini saya masih belum tau mau menulis apa. Jadi saya putuskan saja menumpahkan isi kepala dan yang saya rasakan saat ini.

Beberapa hari ini saya sedang sangat gusar. Bukan, bukan karena saya dilanda kesukaran. Justru sebaliknya. Saya merasa sedang dihujani kemudahan, yang saking berlimpahnya, sampai-sampai saya jadi kikuk. Pernahkah teman-teman merasakan hal serupa? giliran diberi keleluasaan kok malah merasa ndak leluasa.

Sampai beberapa hari lalu saya selalu yakin kalau kesukaran lah yang membentuk karakter seseorang. Hal-hal rumit dalam hidup lah yang membentuk kita jadi kuat dan bijak. Dan, seringnya, pengalaman-pengalaman kurang menyenangkan memang jadi guru yang paling baik; kesukaran mengajak kita untuk terus belajar. Manusia tak ubahnya tanah liat yang harus digiling, lalu dibentuk, dijemur, kemudian dibakar dulu sebelum ia siap dihias jadi cawan anggur.

Tapi ternyata, keleluasaan dan kemudahan dalam hidup justru membutuhkan kerendah-hatian yang sangat besar. Rasanya belajar rendah hati ketika senang jauh lebih susah dari belajar sabar ketika susah. Maka doa-doa apalagi yang harus dipanjatkan seseorang ketika mereka tidak lagi dihimpit kesukaran?

Manusia memang aneh. Ketika bersedih mereka memohon dikuatkan agar bisa melalui cobaan. Tapi, ketika diberi kemudahan, mereka justru jadi bingung dan kikuk. Seperti si cawan anggur yang kini mabuk, bukan karena ia ikut mencicipi anggur yang ditampungnya, tapi karena ia belum teribasa jadi wadah mahal yang ikut dipamerkan dalam perjamuan. Mungkin si cawan ini masih merasa kalau ia hanya segumpal tanah liat.

Dulu, ada seorang kawan yang bilang ke saya kalau rasa sedih itu sama saja dengan rasa bahagia. Perlu diapresiasi, direngkuh, dirasakan. Perlu dibiarkan tumbuh, dilihat saja nanti arahnya ke mana, diikuti arusnya. Saya jadi teringat satu pasal di kitab Ecclesiastes (Pengkhotbah) dari Injil Perjanjian Lama. Begini bunyinya:

There is a time for everything;
   and a season for every activity under the heavens,
a time to be born and a time to die,
   a time to plant and a time to uproot,
a time to kill and a time to heal,
   a time to tear down and a time to build,
a time to weep and a time to laugh,
   a time to mourn and a time to dance,
a time to scatter stones and a time to gather them,
   a time to embrace and a time to refrain from embracing,
a time to search and a time to give up,
   a time to keep and a time to throw away,
a time to tear and a time to mend,
   a time to be silent and a time to speak,
a time to love and a time to hate,
   a time for war and a time for peace.

 

Akan ada waktu untuk segalanya. Toh hidup ini nisbi. Satu-satunya hal yang pasti dalam hidup, ya, ketidak pastian. Dan satu-satunya yang abadi ya perubahan; tidak ada yang permanen. Pasrah saja, lah. Kalau sekarang sedih, ada saatnya kita jadi bahagia. Kalau lagi bahagia, ya, disyukuri. Kalau lagi bingung mau nulis apa, ya, minggu depan mungkin sudah ada ide.

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Pengakuan

  1. Kadang ada rasanya ingin menangis. Ga perlu ada alasan. Menangis aja. Melepas emosi yang udah numpuk berhari-hari — rasa senang, sedih, sebal, bosan, bingung, terkejut. Rasanya sesekali keran air perlu dibuka.

    Biasanya kalau ingin menangis (sengaja menangis, hahaha) biasanya menonton TVC Thailand yang terkenal menguras air mata itu.

    3 menit cukup untuk membuka keran emosi, melepaskan semua dari hati dan kepala, dan setelahnya jiwa terasa lega dan lapaaaang sekali.

    Mungkin itu maksudnya dari “tanah tetap membutuhkan hujan agar tumbuhan dapat hidup” 🙂

Leave a Reply