Cinta Segitiga Merah Muda

Suatu hari seorang teman bertanya, “Kalo kamu memergoki pacar atau pasanganmu tidur dengan cewek lain apa reaksimu?” Saya sempat tertegun. Harus ngapain ya? Apa harus marah? Kaget? Cemburu buta? Banting pintu lalu pergi? Atau ikut gabung? Yang terakhir terlihat menarik. Tapi itu sepertinya tidak akan terjadi. Setidaknya pada saat itu. Entah kalo di lain hari. Lain cerita kalau pertanyaannya bagaimana kalau dia tidur dengan pria lain. Jawaban apapun sepertinya masuk akal. Tetapi kalau emosi yang dikedepankan maka penyesalan yang akan menghampiri kemudian.

Lesbos adalah pulau terbesar ketiga di Yunani. Dekat dengan Turki, terpisah oleh Selat Mytilini. Dulu, sekitar rentang 700 – 600 SM–tidak ada angka yang pasti–di pulau ini tinggal seorang penyair perempuan bernama Sappho. Tulisan/liriknya sangat indah, puitis, namun sarat dengan muatan homoerotica.

Tulisannya fokus terhadap keindahan wanita. Kecintaannya terhadap wanita. Sappho mungkin wanita pertama yang terekam sejarah yang memproklamirkan dirinya sebagai lesbian. Plato bahkan terang-terangan memujinya di Anthologia Palatina.

Some say the Muses are nine: how careless! Look, there’s Sappho too, from Lesbos, the tenth.

Tidak banyak literatur ataupun mitologi yang menceritakan kaum lesbian ini. Masih termajinalkan. Setidaknya tidak seperti kaum gay. Di mitologi Yunani mereka punya Zeus dan Ganymede, Ameinias dan Narcissus, Heracles dan Abderus, Poseidon dan Pelops–dan masih banyak lagi.

Sementara di dunia film, pertemanan antara Thelma & Louise melebihi dari sekedar pertemanan biasa. Thelma sudah menikah, Louise pun sudah mempunyai kekasih. Tetapi hubungan keduanya terlihat lebih “mesra” dibanding hubungan mereka dengan pasangannya. Thelma merasa lebih bebas bersama Louise. Itu tidak terjadi dengan suaminya yang ortodoks. Tidak dijelaskan apakah mereka lesbian atau bukan. Mungkin hanya sekedar homance.  Coba simak adegan ketika melakukan selfie dengan menggunakan kamera Polaroid (bisa jadi ini selfie pertama yang dilakukan di adegan sebuah film). Chemistry-nya dapet, kalau boleh meminjam istilah anak muda sekarang.

Kembali ke alinea pertama, lalu bagaimana kelanjutannya? Sebuah lagu dari Weezer sepertinya bisa menjawab seluruh kegundahan yang ada.

 

I’m dumb, she’s a lesbian

I thought I had found the one
We were good as married in my mind
But married in my mind’s no good
Pink triangle on her sleeve
Let me know the truth

Advertisements

MUHAMMAD MENCINTAI MUHAMMAD

Sahabat bertanya pada Muhammad, kenapa manusia harus jatuh cinta? Muhammad menjawab, bukankah kalian ingin segera merasakan surga?

Haditz imajiner ini menelisip tiap dzikir penghabisan seusai Isya. Muhammad melipat sajadahnya. Ia tertidur dan melayang. Ke sebuah taman terlepas dari benar dan salah. Menemui kekasihnya, Muhammad.

Muhammad harus meninggalkan kenyamanan sebagai bagian masyarakat yang “normal”. Sekejap menjadi sakit. Harus disembukan. Secara sadar menukar bahagia dengan derita dunia-akhirat. Konon cinta mereka bikin tuhan murka. Karena ndak sesuai rencana.

Rencana besar prokreasi karya tuhan yang maha esa demi memperbanyak anak-cucu Adam di muka bumi. Sepasang manusia yang bisa menghasilkan keturunan. Tentu saja pembuat rencana akan marah kalau satu hal terjadi di luar apa yang sudah digariskan. Tapi seperti halnya semua rencana, ia akan menyesuaikan kondisi sekitarnya. Berubah-ubah tergantung kebutuhan. Secara alami mencari solusi. Seperti ribuan Flamingo di danau Nakuru. Sebagian akan mati karena kotorannya sendiri. Demi keseimbangan populasi.

Ndak ada bukti pasti mengenai masa kecil seseorang mempengaruhi orientasi seksual. Hal ini mementahkan teori bahwa homoseksualisme disebabkan oleh pengalaman atau trauma masa kecil. Anak laki-laki diperkosa ayah atau paman, misalnya. Ilmuan lebih percaya pada turunan genetika. Tautan kromosom yang berbeda. XXY, XYY atau XO. Di luar rencana besar XY yang mendominasi bumi. Hingga saat ini masih jadi perdebatan. Sejarah bahkan mencatat lebih panjang lagi soal homoseksualisme.

Khnumhotep dan Niankhkhum

Khnumhotep dan Niankhkhum. Pasangan homoseksual pertama dalam rekaman sejarah. Mesir, 2400 tahun Sebelum Masehi.

Lalu apa yang bikin seseorang menjadi homoseksual di luar konteks genetika dan sejarah? Laki-laki berhubungan sex dengan laki-laki? Atau laki-laki jatuh cinta dengan laki-laki? Berlaku juga untuk perempuan.

Untuk memperberat kehidupan mereka. Sekarang sex dan cinta mesti diadu. Mana yang lebih dulu membuat mereka dalam posisi saat ini? Telur apa ayam duluan? Kalau memang harus dijawab…

Muhammad

Sex adalah kegiatan rutin dan harus tetap begitu setelah ia bertemu dengan Muhammad. Biasanya ia akan jatuh cinta setelah dua-tiga kali berhubungan sex beberapa minggu sebelum kencan pertama. Mengenal calon pasangannya lewat sensasi yang lebih dari sekedar makam malam dan temaram lilin. Skeptismenya menganggap kejujuran barulah valid di ranjang ketimbang kalimat-kalimat manis atau uang segudang.

Ia ndak takut memuntahkan isi hatinya. Karena sadar tiap cinta akan berakhir, cinta bukan cuma soal rasa, tapi harus berguna. Kalau ndak lebih bahagia, jangan jatuh cinta.

Muhammad

Ia adalah seorang heteroseksual. Ndak pernah terbayangkan sebelumnya akan mencintai Muhammad dan berhubungan sex dengan laki-laki. Sex bukan hal penting. Cinta lain hal. Pintu hatinya tipis. Mudah retak bahkan hanya oleh hembusan pelan masa lalu. Ia harus jatuh cinta dulu sebelum naik ranjang dengan calon pasangannya. Sex biasanya dimulai dengan serangkaian pendekatan berbulan-bulan. Memastikan apakah ini jebakan atau ketulusan.

Cinta itu barang sakral. Ndak boleh diumbar. Seperti sex, cinta juga mesti lewat ujian dalam waktu panjang. Saat kepastian itu datang, keberaniannya bisa membuat Gunung Merbabu berdampingan dengan Gunung Arjuna.

Muhammad Mencintai Muhammad

Laki-laki berhubungan sex dengan laki-laki. Lalu kembali ke istrinya di rumah dengan cinta yang ndak bergeming sedikitpun, bukan homo. Laki-laki yang saling mencintai. Merasa nyaman kalau bersama dan mencari perempuan untuk berhubungan sex, juga bukan homo. Butuh keduanya untiuk bisa disebut homo. Mencintai dan berhubungan sex dengan laki-laki.

Kalau begitu, Muhammad homo? Entahlah. Orientasi sexual Muhammad adalah cinta.

Anak Panah INDOESTRI

“Tukang mah banyak, konseptor yang kurang!” begitu kira-kira yang diserukan oleh banyak pengamat, pecinta dan pelaku untuk para pekerja kreatif sekitar 5-8 tahun yang lalu. Berbarengan dengan dielu-elukannya konsep Ekonomi Kreatif di negara kita.  “Bikin aja disain dan konsepnya, nanti cari tukangnya mah gampang!”

Maka ramailah bermunculan label-label baru yang menjual disain. Menganut aliran anti-mainstream, label-label ini pun memberikan angin segar dan alternatif pada keseragaman produk-produk yang sudah tersedia. Mulai dari fashion, furniture, perhiasan, makanan sampai produk-produk yang tidak pernah ada sebelumnya. Warga muda Jakarta pun bersorak sorai menyambutnya. Pujian pun bertaburan.

BS

2009, Brightspot Market diluncurkan. Semacam bazaar yang menampilkan label-label baru kreasi anak muda. Diselenggarakan di mall-mall Ibukota selalu sesak dengan pengunjung yang rata-rata anak muda. Sepertinya, mereka inilah yang kemudian disebut sebagai “anak hipster”. Apa definisinya, nanti dulu lah. Sabar ya. Makin lama makin bingung juga soalnya.

Namun rupanya, yang disebut “tukang mah banyak” semakin disadari tak selamanya benar. Mencari tukang yang bisa bekerja secara profesional (baca: tepat waktu aja deh dulu) bukan perkara mudah. Disamping kesulitan lain seperti kesulitan berkomunikasi antara disainer dan tukang. Bagaimana bisa memberikan instruksi yang memadai tanpa pernah mengerjakannya sendiri? Belum lagi ditambah supplier-supplier yang dengan mudahnya memainkan harga yang mengakibatkan harga jual semakin tinggi dan tidak lagi bersaing. “Loe cariin gue tukang jahit kemeja pria yang bagus deh, baru gue mau jualan baju laki. Nyari tailor yang bagus tuh susah bukan main” kata salah seorang pemilik label di Brightspot yang saat ini mengkhusukan pada pakaian perempuan.

Apalagi, sebagai pemain pemula yang baru mampu memesan dalam kuantitas sedikit, sering dicuekin oleh para tukang yang lebih mengutamakan pemesan dalam jumlah besar.

Serbuan label-label dari luar negeri pun semakin gencar dengan harga yang lebih murah dan disain yang tak kalah menarik dan uniknya. Tanggapan para disainer pun beragam. Ada yang resah dengan persaingan yang semakin ketat dan berpikir untuk membeli produk jadi dari Thailand dan dijual ulang di Indonesia. Ada pula yang menganggap ini bukan persaingan dan dengan suka cita menjadi bagian dari konsumen label-label luar itu. Dan tentu banyak juga yang menganggap ini sebagai kewajaran persaingan bisnis yang harus dihadapi dengan optimis.

Yang tetap memegang teguh “rejeki sudah ada yang mengatur dan takutlah hanya pada Tuhan” tentu juga banyak.

Ini pulalah yang mungkin menyebabkan Brightspot Market semakin ke sini semakin menjemukan. Para kreator muda yang tergantung pada supplier kesulitan mengembangkan dan mengeksekusinya. Label-label yang ditampilkan pun itu-itu saja. Bahkan ada label yang tetap ada dari awal diadakan. Selain tentunya harga yang bisa dibilang di atas rata-rata. “Namanya juga designer’s products, beda dong! Bukan cuma beli produk tapi beli disain!” Mungkin ini satu-satunya pembenaran. Dan tak bisa dipungkiri, label-label yang bertahan atau bahkan terus berkembang adalah yang disainernya turun tangan sendiri, bikin sendiri. Tukang yang mereka pekerjakan sifatnya adalah “membantu” bukan yang “menghasilkan”.

Sayangnya harga mahal tak selalu berarti kualitas setara. Banyak produk pakaian misalnya, yang tidak nyaman dikenakan. Dicuci sekali langsung tidak proporsional. Atau perhiasan yang ketarik sedikit langsung mbrojol. Dan karena pengerjaan dikerjakan oleh tukang, disainer pun kesulitan untuk menjawab keluhan pembeli. Dan tentunya juga kesulitan mencarikan solusi.

Mundur ke sejarah transaksi jual beli dimulai, pembeli membeli langsung dari produsen. Beli sepatu dari tukang sepatu. Beli baju dari penjahit. Beli perabotan kayu dari tukang kayu. Yang banyak terjadi sekarang adalah pembeli membeli dari pembeli juga.

Sepertinya masalah-masalah inilah yang menjadi dasar pemikiran dilahirkannya INDOESTRI. “A community of learners, makers and all kinds of creative people” begitu deskripsinya. Sebuah gudang di kawasan Lingkar Luar Barat, Jakarta Barat telah disiapkan untuk siapa pun yang ingin belajar bersama menjadi tukang. Mulai jadi tukang kayu, metal, tekstil dan kulit, dan finishingnya. Mentor-mentor pun telah disiapkan. Selain alat, material, ruang kantor, ruang meeting, lounge, perpustakaan, lockers dan toko tentunya.

Untuk bekerja dan belajar di sana, bukan gratis. Peserta harian, dikenakan biaya Rp 100.000,-/hari. Atau paket Rp 450.000/bulan untuk kontrak selama setahun dan Rp 750.000,-/bulan tanpa kontrak. Anggaplah ini adalah biaya “kuliah” bersama para praktisi profesional dan harapan akan terbentuknya komunitas yang terampil berkarya. “SelfMade” adalah spirit yang diusung seperti tertera pada brosur resmi INDOESTRI.

herman

Adalah Leonard Theosabrata, salah satu Panglima Brightspot Market, bersama teman-temannya Herman Tantriady, DJ Mear, dan Eric Widjaja sebagai inisiator. “Kita ingin supaya kita gak cuma bisa jadi konsumen, tapi juga bisa jadi produsen” kata Herman Tantriady saat sedang sibuk menjajakan produk kreasinya Lima Watch di Brightspot Market di depan pelataran Panin Tower, Senayan City.

Kalau kata Tukul “kembali ke laptop”. Kelahiran INDOESTRI merupakan kesadaran untuk kembali ke kemampuan dasar. Kembali menjadi tukang. Tukang yang terampil. Sehingga tak hanya mampu mendesain, tapi juga mengeksekusikannya dengan matang. Karena sudah terbukti, kemampuan mendisain saja tidak cukup untuk menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga bersaing.

Bersemangatlah, karena pada dasarnya negara ini adalah negara hand-made. “Dari tangan turun ke hati” kata Josephine Weratie Komara nama lengkap O’bin yang dari dulu lebih senang menyebut dirinya Tukang Kain.

Semoga kelahiran Indoestri menjadi anak panah yang ditarik mundur ke belakang untuk kemudian melejit ke depan dengan lebih cepat dan mantap.

Info: www.indoestri.com

Karena Kita Butuh Lebih Banyak Hati

sumber: koleksi Bung Tomo

sumber foto: koleksi pribadi dari akun path Dyah Ayu Prasetyo Utami

Seperti rak berisi buku, internet boleh diisi bermacam-macam jenis informasi. Soal sepakbola, puisi, teknologi luar angkasa, iklan pembesar payudara, filsafat islam mahzab mu’tazilah, politik dagang sapi, bahkan berisi sekadar caci maki. Berangkat dari kesadaran keanekaragaman itulah linimasa hadir. Kami mencari ruang kosong sebisa kami dan mengisi beberapa deret di antara buku-buku lainnya dengan tulisan yang muncul dari hati.

Nauval Yazid adalah salah satu temanku yang ikut mengisi rak buku sub bagian linimasa. Dia dikenal baik oleh kami sebagai pria yang kontemplatif sekaligus melankolis. Kadarnya akut. Semua hal dipikir dalam-dalam. Sedangkan Agun Wiriadisasra, anak hipster asli tanah Pasundan. Soal lagu, filem, bahkan isu terkini sudah ia ketahui sebelum si pembuat lagu, penulis naskah filem dan penyebar isu tersebut merilis resmi. Sedangkan Gandrasta Bangko itu banci karbit. Pendapat ini dilontarkan sahabat baiknya, Glenn Marsalim. Nah, Glenn Marsalim sendiri adalah pria dengan tattoo naga warna biru di tubuhnya namun begitu takut apabila Jokowi lekas mati. “Kasihan para pendukungnya. Apalagi Jokowi mati sebelum sempat balas budi“. Entahlah apakah ini alasan yang mengada-ada. Namun ketegasannya saat memberikan alasan tersebut, kami yakin Glenn sedang bicara serius. Adapun Dragono Halim, seorang pemuda yang begitu mencintai ajaran buddhisme. Kami yakin, 9 dari 10 tulisannya kemarin, sekarang dan yang akan datang berisi soal ajaran buddha. Aku pribadi mulai curiga bahwa dirinya membawa misi tersendiri untuk mengembalikan ajaran yang dihayatinya seperti di era keemasan Kerajaan Sriwijaya. Sedangkan Farah Dompas adalah gadis muda yang ternyata, diam-diam, begitu berbakat sebagai mak comblang namun dia sendiri agak khawatir dengan karir asmaranya. “Aku berkejaran dengan menyusutnya ovarium di dalam tubuhku“, katanya suatu ketika. Kami, tentu saja, tidak menanggapinya.

Kami, bertujuh, sejak 24 Agustus 2014 mengawali pagi dengan memberikan pandangan, gagasan, igauan, gurauan, keseriusan, bahkan fatwa yang sekiranya berguna. Ukuran berguna yang kami maksud disini dibatasi setidaknya menurut ukuran masing-masing penulisnya sendiri. Maka, saat menulis postingan kali ini, kami telah menulis setiap hari untuk satu bulan pertama.

Setiap hari.

Tanpa jeda.

Ini kami lakukan bukan untuk menyaingi harian Jawa Pos. Sama sekali bukan. Kami hanya berupaya menjadi blog rame-rame yang paling teratas dan terunggul di negeri ini. Hanya itu. Indoprogress? lewat! Apalagi MidJournal. Kalau SeratKata? … *batuk*

+++

Puthut EA  menulis dengan baik dan dirangkum dalam bukunya yang berjudul Mengantar Dari Luar. Salah satu artikel yang disampaikannya bicara mengenai Agus Suwage, pelukis papan atas Indonesia. Bagi teman sepermainannya selama sekolah di De Britto akhir tahun 70-an, Agus Suwage tidak dikenal. Mereka lebih akrab memanggilnya Agus Kenthu. Entah apa sebabnya. Oh bukan. Kami sama sekali tidak sedang membicarakan soal kenthu-mengenthu. Apalagi yang khidmat. Karena kami percaya dan selalu percaya, perkenthuan hanya pantas untuk dipraktekkan dan tak perlu dibahas. Saat membaca artikel soal Agus Suwage tersebut, aku tertarik dengan pendapatnya soal lukisan hasil karyanya sendiri: “Lukisanku itu bukan semacam penisilin. Bukan karya seni untuk mengobati luka atau orang lain memperoleh manfaatnya. Tapi setidaknya dengan melukis, dapat menjadi semacam terapi buat diriku sendiri.”

Begitu juga dengan kami. Atau katakan saja, biar adil, aku. Menulis adalah terapi. Soal apakah bermanfaat bagi pembaca, itu urusan lain. Bahkan ketika Paramita Mohamad, ratu skeptis Indonesia yang wajahnya terkesan selalu murung, mengejek kami bahwa tulisan linimasa terlalu membawa pesan moral, gayanya semacam “chicken soup”, terlalu naif dan ketinggalan dari isu terkini, kami hanya bisa mengingat dan menerapkan aforisma latin: “Caper diem”. Orang yang lagi caper, maka sebaiknya respon yang ditampilkan adalah diem. Kecuali kita ingin meladeninya. Tapi tidak. Kami tidak berani membalasnya. Juga ketika Zen RS mengenalkan kami pada kata-kata yang termuat dalam KBBI seperti sangkil dan mangkus, juga mengajari kami perbedaan soal surat terbuka, petisi, atau laporan jurnalistik, kami hanya terdiam. Eh, ndak. Kecuali Fa (Farah Dompas). Dia susah menerima kenyataan ketika tulisannya yang mengusung topik surat terbuka dibilang oleh Zen jelek. Bahkan bukan hanya jelek, tapi ditambah dengan emotikon lidah menjulur.

jelek :p

Fa menangis berbulan-bulan karenanya.

Lalu, kenapa hati?

Banyak pembaca yang bertanya kepada kami dengan kata “hati” di ujung tagline kami. Ya. Hati. Serupa cinta yang tidak melulu soal hati tapi juga perlu nyali. Maenjadi masalahan ketika ‘nyali’ di ranah internet, apalagi media sosial sudah terlalu banyak bertebaran. Nyali kami terlalu ciut. Nyali diobral dan dipertontonkan di luar sana. Saling ejek, twitwar, saling gugat, caci maki, juga ada yang dengan sukarela memberikan belahan dada dan mulusnya paha dengan bungkus untuk dan atasnama lomba. Salah? Tidak! Masalahnya cuma satu: kami tak memiliki nyali. Kami hanya memberanikan diri menawarkan hati.

Jangan pernah pertanyakan soal hati kepada kami. Aku yakin hati Gandrasta adalah hati terbesar yang pernah dimiliki umat manusia sejak peristiwa Malari. Kenapa Malari? karena itu yang terlintas di benakku saat ini. Hati Gandrasta menaungi kami. Tapi kalau soal nyali, maka nyaliku adalah nyali paling sedikit diantara penulis yang lain. Bahkan untuk menampilkan nama sesuai akta kelahiranpun tak sanggup. Entah kenapa.

Hati sepertinya sesuatu yang paling penting harus diingat dan dikagumi. Kedalaman laut dapat diukur, tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Perih-bahasa ini melekat erat di benak kami. Hati-hati, saat main hati, nanti bisa patah hati. Anak itu wajahnya seram, tapi hatinya baik. Lihat itu besan Presiden, namanya keren: Hati Rajasi. Oke, kali ini #ngok.

Tapi dengan serius dapat kami sampaikan, bahwa secara hati-hati linimasa hadir bukan untuk menjadi media. Kami berangkat dan akan berakhir sekadar blog. Berbagi, juga sebagai pemicu dalam berdiskusi. Ketawa-ketiwi.  Membicarakan isu terkini, Bicara perilaku banci ibukota, artis yang sedang naik daun, cinta platonis, kondisi politik negeri ini, juga soal “asmaragama”, sebuah teori fusi tentang asmara dan agama. Bahkan pernah kami terjebak dalam diskusi bagaimana sebaiknya mencukur rambut kemaluan yang baik dan benar. Kami, bertujuh, menjelma dari para pengisi kolom blog yang terus belajar menulis, menjadi penggosip nomor satu negeri ini. Sepanjang hari. Tanpa henti.

Bagi kami soal hati adalah soal duniawi yang begitu diharapkan mengantarkan kami ke alam surgawi. Eh, ralat. Bukan “kami” karena Gandrasta tidak. Hingga saat ini dia percaya bahwa hidup sebenarnya bukan saat ini. Kelak ketika saatnya dia mati, maka dia akan kembali kepada kesejatian dirinya di kehidupan lanjutan yang lebih hakiki: Sebagai Miss Universe. Kami, sebagai sahabatnya, percaya dan akan selalu percaya perkataannya, seperti rasa percaya kami bahwa SBY bisa galak di depan Bu Ani.

Dalam bukunya, Puthut EA mengutip begini: “Terlalu bersemangat…“, kata salah satu Panglima perang Amerika Selatan, “…bisa menjelma menjadi pembunuh utamamu“. Itulah kami. Menjaga agar semangat kami tak terlalu berkobar, berkibar, apalagi kabur. Semangat kami dijaga sebisa mungkin sedang-sedang saja. Tugas piket dengan tertib dijalankan. Pembagiannya cukup jelas, setiap penulis akan merilis tulisannya seminggu sekali. Lebih dari itu kami haramkan, kecuali mengisinya di blog pribadi atau kolom path milik sendiri. Jadual selonggar inipun rasanya tetap berat sekali. Kelemahan kami adalah soal disiplin diri. Karena sadar akan hal itu, maka jadual menulis diatur setiap minggu, mau-tidak mau harus dipenuhi. Demi apa? Untuk hal itu hingga saat ini menjadi pertanyaan besar bagi kami sendiri. Diam-diam selalu muncul dari pikiran masing-masing penulis. Untuk apa? Kemasyhuran? Uang? Atau sekadar memenuhi hasrat dan kegenitan intelektual semata?

Sepertinya tidak.

Kami adalah keluarga. Itu kesimpulan kami. Ketika pembaca linimasa ada yang memberi saran soal navigasi web, tampilan blog, ukuran font, dan kepraktisan saat membaca, kami anggap sebagai bahan masukkan yang berarti. Kami segera diskusikan. Lalu ditindaklanjuti? Belum tentu. Masih dipikir-pikir lagi. Kami menyukai tampilan blog saat ini, walaupun kelemahannya adalah belum tercantum jelas nama penulis di setiap postingan setiap harinya. Ndakpapa. Pelan-pelan. Toh akhirnya pembaca mengetahui sendiri siapa yang tugas jaga dan piket hari ini. Fa Jumat, Roy Sabtu, Glenn Minggu, Gandrasta Senin, Agun Selasa, Gono Rabu, dan Nauval di hari Kamis. Ketika postingan muncul di hari itu, berarti petugas jaga-lah yang menulisnya.

+++

Linimasa Quo Vadis.

Hingga saat ini aku dan teman-teman linimasa tak tahu mau berujung dan berakhir dengan gaya macam apa linimasa ini. Dijual kepada raja media-kah? Diisi dengan berbagai iklan yang bejibun mirip dengkul dan koreng yang datang silih berganti di laman detik.com, mati suri tanpa alasan yang jelas, atau diam-diam menjelma sebagai situs properti yang menawarkan harga perumahan, pemakaman dan info kos-kosan. Entahlah. Aku ndak tahu. Satu yang jelas: kami masih begitu menikmatinya. Apalagi jika anda, pembaca mau untuk mengisi kolom komentar, atau susah payah mention akun twitter salah satu akun penulis, atau dengan mengirimi kami puja-puji. Bohong jika kami tidak menikmati itu. Respon pembaca bagian dari semangat linimasa.

Tulisan ini sebetulnya sebuah contoh kecil kecurangan. Alasannya sederhana.  Karena tulisan kali ini tidak menampilkan topik apapun kecuali menceritakan diri sendiri. Apa boleh bikin. Catatan kecil ini aku tulis buat teman-teman para penulis linimasa yang setiap hari telah dengan sudi, (mungkin) agak berat hati, menampilkan pendapat, berbagi informasi dan opini. Ada saatnya untuk selfie. Bukan lewat gambar, tapi postingan. Semoga Fa, Glenn, Gandrasta, Agun, Gono, dan Nauval dapat memaklumi.  Aku cinta kalian.

Terima kasih. Terima kasih. Dan terima kasih.

oh ya satu lagi. HIDUP SCIENTOLOGY !!!

404 Error: Democracy Not Found

democrap

Serahterima jabatan presiden masih bulan depan, tapi SBY dan Demokrat-nya sudah cuci tangan. UU Pilkada diloloskan dan kitapun kecolongan.Ibarat pertandingan, Jokowi sudah kalah satu set padahal belum masuk lapangan. Kelimpungan.

Karena UU 32/2004 belum memberi dampak yang signifikan, revisi ‘pilkada secara langsung’ memang sudah lama jadi wacana Kementrian Dalam Negeri. Salah satu alasannya, ya, lihat saja banyaknya pimpinan daerah yang tertangkap korupsi. Pemilihan langsung yang sudah dicoba tiga kali ini juga jadi soal, dibilang buang-buang duit. Dana yang digelontorkan terlalu besar, katanya.

Banyak yang berpendapat kalau hari ini hari “kematian demokrasi Indonesia”. Tapi, kalau dipikir-pikir, dari awal kita memang tidak punya hak untuk memilih. Lihat saja sila ke-4 Pancasila. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.” Salah satu butirnya adalah: “mengutamakan musyawarah dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan bersama”. Jadi, bisakah demokrasi dibilang mati kalau memang dari awal kita tidak punya hak untuk berdemokrasi? dari awal kita sudah setuju untuk diwakilkan. Ada satu kawan yang bilang kalau demokratis itu tidak berarti “one man one vote”.

Mungkin banyak yang belum paham seberapa besar “bahaya” UU Pilkada ini. Kalau berhasil disahkan dan lolos jadi undang-undang, maka lebih dari 500 pemilihan langsung kepala daerah akan dihapuskan. Termasuk di dalamnya pemilihan gubernur di 34 propinsi di Indonesia. Hak untuk memilih kita “wakilkan” kepada DPRD. Setelah 16 tahun, akhirnya kita kembali lagi terjun bebas ke era Orde Baru.

Lantas bagaimana solusinya? apa yang bisa kita lakukan?

Walaupun hampir mustahil, tapi UU ini masih bisa ditangguhkan kalau DPR menolak mensahkannya di sidang paripurna. Persetujuan presiden (mau itu SBY atau JKW) tidak penting, presiden tidak punya hak veto. Dengan atau tanpa adanya tanda tangan presiden, UU ini akan lolos di Senayan. Dan kalau UU sudah diterbitkan, kita masih bisa melawan via Judicial Review karena MK-lah yang punya kewenangan.

Selain itu kita juga masih punya kesempatan di Prolegnas (Program Legislasi Nasional) 2014-2019. Kalau Jokowi berani dan bernyali, dia bisa mengusulkan revisi UU ini di Prolegnas depan. Walaupun ini juga tidak bisa dijadikan jaminan mengingat banyak UU yang lolos dan tidak sempat di-Prolegnas-kan. Cara lainnya adalah dengan bersama-sama “menghukum” partai-partai Koalisi Merah Putih: jangan dipilih lagi.

Sekarang, mari kita tetap tenang dan berdoa supaya MK menggagalkan UU ini. Dan kalau masih lolos juga, kita masih punya satu senjata yang tidak akan pernah bisa diambil bandit-bandit Senayan itu: turun ke jalan. Lawan!

(Disclaimer: Tulisan ini murni opini saya sendiri. Bukan representasi sikap politik Linimasa dan tidak mewakili opini rekan penulis Linimasa lainnya.)

Nonton Bioskop

“Mau liat bekas bioskop pertama di Sulawesi Tengah?”

“Mau! Emang dulu di sini ada bioskop?”

“Iya. Jadi bioskop pertama di Sulawesi Tengah itu ada di Donggala. Dulu orang rame-rame ke mari naik angkutan sapi. Jauh-jauh dari kabupaten lain, dari Palu juga, semua pada ke Donggala untuk nonton bioskop.”

“Terus, sekarang jadi apa gedungnya?”

“Tempat penyimpanan kopra.”

“Emang udah lama ga ada bioskop?”

“Kalo di Palu, mulai 2006 ga ada bioskop. Kalo di Donggala ini, sudah dari awal 2000-an.”

Mobil jalan pelan-pelan menyusuri jalan-jalan kecil yang banyak warung.

“Mana gedungnya?”

“Itu di depan!”

“Yang mana?”

“Itu! Lihat jendela kecil itu? Dulunya itu loket tempat orang beli karcis bioskop.”

Saya terdiam.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Adegan di atas, sayangnya, bukan usaha untuk meniru film Cinema Paradiso, karena tidak ada alunan musik Ennio Morricone yang tiba-tiba terdengar saat kami mengambil foto di atas. Atau bukan juga adegan dari film-film lain yang mengusung romantisme bioskop tua, seperti layaknya Jim Carrey di The Majestic atau film klasik The Last Picture Show.

Adegan di atas adalah kisah nyata yang terjadi saat saya datang ke Donggala tahun lalu. Kami hadir untuk memberikan workshop film pendek ke komunitas penonton dan pembuat film di Palu, salah satu kota di Indonesia yang aktif mengadakan kegiatan pemutaran dan diskusi film, meskipun kota ini tidak punya bioskop.

Saya harus mengulang-ulang lima kata terakhir di atas. “Kota ini tidak punya bioskop”. Buat kita yang terbiasa dengan ajakan “eh, nonton yuk?”, apakah akan ada ajakan serupa kalau tidak ada bioskop? Mungkin tidak, tapi bisa tergantikan dengan yang lain.

Sementara buat saya dan beberapa orang, bioskop menawarkan pengalaman lain selain menonton film.

Bioskop menjadi tempat adu keberanian: dalam kegelapan, berani gak pegang tangan orang yang baru diajak kencan?
Di bioskop, bisa jadi kita papasan dengan mantan pacar yang sudah jadian lagi, sementara kita masih sendirian.
Bioskop menjadi pilihan untuk terhindar dari kejamnya macet sore hari.
Bioskop selalu menjadi tempat yang tidak bikin kita mati gaya di akhir pekan.
Seorang ayah bisa berjanji untuk mengajak anaknya nonton film superhero di bioskop setelah terima rapor.
Bioskop jadi tempat kopi darat yang aman dan netral buat pelaku online dating ketemuan pertama kali.
Bioskop bisa jadi tempat buat sebagian orang sekedar menaruh pantat dan tidur sejenak di sela-sela kerjaan yang menumpuk.

Bioskop jadi alasan buat saya untuk sekedar keluar dari rumah.

Bioskop memang sedang di ujung tombak kematian. Gempuran berbagai macam jenis hiburan di layar yang semakin mengecil, terutama dalam genggaman tangan kita, semakin membuat kita dimanjakan dengan kemudahan. Soon, cinema will be an extinct word that belongs to the past.

Romantisme bioskop mungkin akan jadi kenangan. Apalagi buat saya dan beberapa dari Anda yang senang menghabiskan waktu di bioskop, kelak kita hanya bisa cerita tentang bioskop dari replika foto masa lalu.

Dan di saat itulah, seperti juga yang terlihat di foto di atas, akhirnya kita takluk pada satu istilah salah kaprah yang sudah mengakar selama ini: “nonton bioskop”.

Bukan Pantat Ayam

Ucapan membuat manusia gembira, ucapan pula yang membuat manusia menderita.

Ada yang bilang, hati itu jauh dari tenggorokan. Jadi, banyak kata yang diucapkan tanpa perasaan. Barangkali pemeo itu benar, karena kita jauh lebih mudah menemukan manusia yang berbicara tanpa simpati, tujuannya pun untuk menyakiti.

Bahasa dijadikan senjata; dilontarkan untuk menyerang orang lain. Bicara pun dilakukan hanya untuk menghakimi, mencaci maki, mengolok, maupun berdebat tiada henti. Tak kalah tercelanya dengan mereka yang hanya bisa membicarakan orang lain dari belakang. Namun jika ditantang duel, pengecut bukan main. Apabila demikian, ibarat pantat ayam, mulut hanya menjadi rongga yang buang tahi sembarangan.

Ironis, tak jarang manusia itu adalah diri kita sendiri. Kita, yang kerap lebih cepat berbicara tanpa sempat berpikir sebelumnya. Lalu berujung pada penyesalan dengan efek ganda. Menyesal karena telah melakukan kesalahan, dan menyesal karena sadar bahwa penyesalan tersebut tak ada gunanya.


“Dasar gembrot!”

“Dasar jelek!”

“Dasar miskin!”

“Dasar bencong!”

“Dasar Cina!”

“Dasar pecun!”

“Dasar bego!”

“Dasar kafir!”

“Dasar miskin!”

“Dasar janda gatel!”

“Dasar kampungan!”

Semua kalimat tersebut kerap kita dengar. Sang pengucap merasa pantas menghina, dan seolah menganggap bahwa si lawan bicara bukan manusia; pantas dihina. Delusi. Padahal tidak ada jaminan bahwa sang penghina lebih baik dibandingkan yang dihina. Contohnya, ketika Norman Kamaru yang kini sedang menjalankan usaha warung makan, ia dihina habis-habisan. Padahal bukan berarti para penghina itu lebih baik daripada Norman, bukan?

 

Kasus lain. Merokok atau tidak merokok adalah pilihan setiap orang. Dan sudah muncul anggapan umum, perokok adalah orang yang tidak peduli kesehatan (diri sendiri, dan pada tingkat berbahaya, keluarga serta orang lain), boros, dan dinilai nakal (terutama pada remaja). Saya bukan seorang perokok, dan sering merasa terganggu dengan kepulan asap rokok dalam sebuah ruangan tertutup. Namun, apakah saya yang bukan perokok sudah pantas mengata-ngatai para perokok? Apalagi merendahkan mereka? Asumsi berujung stereotip tentu tidak bisa dijadikan dasar untuk melakukan penghakiman. Beda ceritanya apabila ada perokok yang melanggar aturan “No Smoking”, atau ngudut di luar bilik asap pada tempat publik.

Kondisi serupa juga terjadi pada dikotomi kelompok ultra-ASI dan pihak seberangnya. Masih kerap kita dengar atau baca komentar sinis serta relatif merendahkan dari oknum kelompok ultra-ASI, kepada para wanita yang memutuskan untuk tidak memberikan putingnya ke sang bayi. Kedua pihak memang memiliki alasannya masing-masing, dan kita berhak setuju dengan salah satunya atau memilih netral. Akan tetapi, pada akhirnya, seseorang tidak berhak melakukan pemaksaan terhadap orang lain dalam memperlakukan tubuhnya sendiri (kecuali yang melanggar hukum positif). Termasuk mengintimidasi lewat ucapan-ucapan tidak menyenangkan.


Cerita berbeda.

Pa, nanti kalau nganter Dedek ke sekolah, ndak usah turun dari mobil ya,

Loh, kenapa Dek?

Soalnya Papa suka diolok-olokin. Dedek ndak suka,

Dialog tersebut terjadi antara seorang bocah SD dan sang ayah. Ia merasa sangat terganggu dengan ejekan teman-temannya, yang menjadikan tubuh besar sang ayah sebagai bahan tertawaan.

Kita mungkin prihatin namun bisa memaklumi keadaan tersebut, lantaran pelakunya masih anak-anak. Barangkali kita akan lebih menyalahkan orangtua mereka, yang tidak mampu mendidik dan mengajarkan pentingnya menghormati sesama manusia tanpa memandang fisik. Namun situasinya menjadi sangat berbeda, sebab ternyata para orangtua anak-anak tersebut ikut terlibat dalam aktivitas yang sama. Ya, mereka juga senang sekali menggunjingkan status sang ayah yang seorang duda. Dengan cekakak cekikik yang terdengar menjijikan, mereka membicarakan sang suami yang diisukan begini dan mantan istri yang digosipkan begitu. Hinaan dan celaan tersebut disampaikan begitu saja, seolah-olah merupakan hiburan.

Sayangnya, cerita di atas bukan sekadar ilustrasi, tapi benar-benar terjadi.

Terkait hal ini, bisa jadi para orangtua tunggal dan gay adalah kelompok manusia yang paling kebal. Kebal, bukan berarti tidak sakit hati. Tapi ditahan sampai nyerinya tak ada lagi. Hinaan terus digencarkan para homophobic, maupun orang-orang yang mendadak punya mulut lebih b*tchy daripada banci. Mau tidak mau, mereka harus mampu bertahan. Bila tak kuat lagi, mungkin bisa bunuh diri.

Jadi, sebelum bersusah payah menyumpah serapah, lebih baik kita membayangkan berada di posisi mereka. Sudah seberapa kuat kah kita menerima hinaan serupa? Percuma jika mengaku memiliki kualitas diri setinggi langit, namun nyatanya menggunakan mulut sembarangan. Toh perkara baik buruknya orang lain, bukan tugas mulut kita untuk memberikan penilaian.

Lagipula, bagi Anda pemilik mulut berbisa, dapat untung apa sih dengan menghina orang lain? Berasa lebih baik, hebat, unggul? Lebih baik, hebat, unggul apanya? Terus, emang situ seberapa oke?

[]

Kapan Nikah? Mendokusai!

marriage1

Pertanyaan “Kapan nikah?” adalah pertanyaan yang sangat standar, yang akan dialami oleh mereka yang belum menikah ketika hari raya tiba–dan sebetulnya tidak membutuhkan jawaban. Pertanyaan yang sangat menyebalkan. Buat sebagian orang pertanyaan tersebut bisa sangat membuat frustrasi. Apalagi untuk perempuan yang sudah memasuki UP (baca: usia panik). Hasilnya banyak dari mereka yang merayakan Lebaran hanya untuk sekedar ritual tahunan yang kurang bermakna. Pertanyaan itu sebetulnya bisa dijawab dengan jawaban: “Aduh duitnya belum ngumpul nih, Tante.. Emang Tante mau biayain?”. Kelar.

Harus ya emang nikah? Karena tuntutan/tekanan sosial? Agar hidup menjadi “komplit”? Agar mempunyai keturunan? Menghindari zinah? Untuk memenuhi kebutuhan biologis? Agar (terlihat) bahagia punya suami/istri–sama seperti yang lainnya yang sepantaran? Atau karena agama menyarankan kita agar menikah? Sudah yakin dengan pasangannya? Benarkah dia adalah jodohmu? Cinta sejatimu? Belahan jiwamu? Yakin dia tidak akan selingkuh? Ya kalau tidak mencoba dari mana kita tahu dia adalah pasangan hidup kita sampai kakek nenek nanti. Ok. Point taken. Tapi kita semua tahu bahwa penyebab semua perceraian adalah pernikahan.

Sementara itu di Negeri Sakura sana–angka rata-rata kelahiran per tahunnya termasuk yang terendah di dunia. Trennya menurun setiap tahun. Di tahun 2060 nanti apabila hal ini dibiarkan terjadi maka diperkirakan penduduk Jepang akan berkurang sepertiga dari sekarang. Kalangan muda-mudi Jepang sekarang ini sedang mengalami sekkusu shinai shokogun, atau “celibacy syndrome“. Menurut survey, sepertiga dari pria lajang usia di bawah tiga puluh tahun belum pernah berkencan. Empat puluh lima persen dari perempuan usia 16-24 tahun bahkan sama sekali tidak tertarik untuk berhubungan seksual atau bahkan ada yang membencinya. Selibat. Banyak yang berpendapat bahwa hubungan emosional itu riweuh, ribet. Lalu muncul istilah Mendokusai (maaf saya belum menemukan padanan yang tepat menurut bahasa Indonesia). Dalam bahasa Inggris kurang lebih artinya Whatever, Can’t be bothered atau Forget about it. Jawaban itu muncul jika ada yang bertanya kepada mereka kenapa menolak menikah, tidak mau berhubungan intim atau bahkan tidak mau berpacaran.

Para wanita karir di Jepang banyak yang menganggap pernikahan adalah hambatan. Ketika mereka menjalani sebuah rumah tangga dan mempunyai keturunan, maka karir mereka kemungkinan besar akan habis. Sementara dari pihak pria ada yang berpendapat bahwa hidup bersama pasangannya atau pernikahan itu akan menjadi beban untuk kedua belah pihak. Banyak dari mereka pun menganggap bahwa hubungan seksual adalah hal yang tidak penting. Berlebihan. Mainstream. Media Jepang melabeli pria seperti itu sebagai soshoku danshi (secara harafiah berarti “manusia pemakan rumput”). Mereka pun tidak keberatan untuk dilabeli sebagai herbivora. Karena mereka yakin bahwa pilihannya itu cepat atau lambat akan menjadi tatanan baru di Jepang.

Jadi kalau begitu, kapan nikah? Mendokusai.

 

 

SEX DIMULAI DARI MANA?

Bayu dan Winda sudah menikah selama lima tahun. Punya dua anak. Tidak ada yang terlalu istimewa kecuali kegiatan sex mereka yang 28 kali dalam seminggu!

Satu kolom di Rumah Sakit Ibu dan Anak menanyakan soal frekuensi sex yang dilakukan pasangan Mira dan Andre. Dengan ndak yakin, mereka jawab seminggu sekali.

Sementara Tanti dan Bram, sudah tiga minggu belakangan tidak berhubungan sex. Proses perceraian mereka terhambat di negosiasi gono-gini.

Sumber: Google

Sumber: Google

Tiga ilustrasi diatas rasanya biasa aja. Agak terlalu berlebihan untuk pasangan pertama. Dan menyedihkan untuk pasangan terakhir. Kesan yang didapat punya jarak yang cukup jauh. Sayangnya, batasan yang digunakan ndak pernah jelas.

Berdasarkan asal frasa-nya, hubungan sex adalah kegiatan reproduksi yang meliputi penetrasi kelamin dan menempelnya sel sperma dengan indung telur. Mengacu batasan ini, maka hubungan sex punya tujuan utama untuk beranak-pinak. Tapi, di luar teori, banyak diantara kita yang melakukannya hanya untuk kesenangan, naluriah, bahkan terpaksa. Deskripsi ini jadi makin ndak relevan lagi untuk pasangan homoseksual dan masturbasi.

Bayu dan Winda menganggap ciuman mereka sudah termasuk hubungan sex. Mira menganggap hand-job juga sex. Tanti dan Bram percaya sex adalah sampai keduanya orgasme. Sekali lagi, ndak ada yang menggambarkan kalau ketiga pasangan ini melakukan kegiatan reproduksi. Tapi mereka yakin kalau apa yang mereka lakukan adalah hubungan seksual. Entah melibatkan kelamin atau ndak, apalagi pada tingkat pertukaran informasi DNA.

Hubungan seksual sebetulnya punya variasi fungsi. Dari yang paling primordial: reproduksi. Rekreasional, afeksional, biologis. Dan yang sudah punah: ritual. Dari kesemua fungsi ini, hubungan seksual juga bersifat demokratis. Ia bebas interpretasi. Personal. Tergantung pelakunya. Ada yang percaya sex dimulai sejak bertatapan penuh birahi. Ada juga yang menganut hubungan sex haruslah sampai penetrasi.

Meski demokratis, batasan yang jelas mengenai hubungan sex lumayan penting. Minimal ada dua bidang yang memerlukan kejelasan batasan hubungan seksual: medis dan pelacuran. Medis. Karena rekam jejak penetrasi dibutuhkan untuk mereka yang melakukan terapi kesuburan. Pelacuran. Karena menemani, grepe, dan ngewe harganya beda-beda.

Buatku, hubungan seksual adalah kegiatan yang melibatkan birahi, menimbulkan kepuasan, dengan atau tanpa konsekuensi reproduksi.

Jadi, secara pribadi, sex mulai dari mana?

Kulit Menginginkan Kacang Melupakannya

Jangan seperti kacang melupakan kulitnya. Ungkapan yang sering diputar terus menerus. Seperti pita kaset yang tak pernah menipis. Ungkapan yang ditujukan untuk siapapun yang dianggap melupakan pelindungnya. Melupakan pembimbingnya, pengasuhnya, perawatnya, pendidiknya, dan siapapun yang telah merasa berjasa menjadikannya seperti sekarang. Tentunya kalau siapapun itu dianggap berhasil, sukses, tajir, tenar, mencapai atau bahkan melebihi harapan. Bahkan yang menyumbangkan doa atau ucapan dukungan pun ikut merasa tidak boleh dilupakan. Kalau perlu, para pendukung ingin ikut diangkat dan maju bersama.

Jokowi dan JK baru saja menjadi Presiden Terpilih. Dukungan yang diberikan kepadanya selama masa kampanye memang luar biasa. Tak ada yang bisa menduga mana yang sekedar menginginkannya jadi Presiden, dan mana yang ada maksud terselubung. Pasti banyak yang sekarang sedang bergerak cepat dan sistematis dengan semboyan “Jokowi, kamu jangan seperti kacang melupakan kulit!” Ingatlah kami-kami ini yang selama ini telah ikut membawa kemenangan. Tak berhenti sampai di situ, ada yang mengiringi dengan ancaman “kalau kamu seperti kacang melupakan kulit, maka aku akan selamanya menjadi pengganggu pemerintahanmu nanti.”

Ketulusan? Ah udah kuno! Hanya orang tua yang tulus mengasihi dan membimbing anaknya… Eits, nanti dulu. Mungkin kita lupa dengan Ibu Malin Kundang yang mengutuk anaknya jadi batu, karena anaknya dianggap telah melupakannya. Kurang ajar sama Ibu yang telah sembilan bulan mengandung, merawat, mengasuh dan membesarkannya. Untuk sebuah harapan agar Malin Kundang menjadi anak yang berhasil. Namun rupanya, ada harapan tak tertulis dan tak terucap, harapan agar Malin Kundang tak melupakan jasa Ibunya kalau sukses nanti. Makanya ngobrol dong…

Anak dianggap sebagai investasi. Kalimat ini bisa jadi terdengar sangat pahit dan getir. Namun manusiawi. Setelah segalanya diberikan oleh orang tua, maka semanusiawinya anak pun membalas jasa orang tua. Dan ketika anak gagal menjadi seperti yang diharapkan orang tuanya, beragam pepatah, umpatan, dan nasehat telah disiapkan untuknya. “Kamu anak durhakaaaa!!!!” Bagi penggemar infotainment pasti ingat teriakan dramatis seorang Ibu ini di layar kaca.

Selain mengingat jasa orang tua, anak Indonesia juga diharapkan (baca: diwajibkan) untuk mengenang jasa para pahlawannya. Pahlawan yang telah membawa kemerdekaan kepada bangsa ini sehingga sekarang bisa merasakan kemerdekaan. JAS MERAH! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Kata salah seorang Proklamator republik tercinta ini.

Cukup? Belum! Selain orang tua, pahlawan, sejarah, anak Indonesia pun harus mengenang para leluhurnya. Leluhur yang telah menjadikan anak itu ada di dunia. Masih kurang? Harus pula mengenang jasa para guru. Guru yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mendidik sehingga menjadikannya pintar, pandai, cakap dan berbudaya.

Semakin anak berkembang dan maju, semakin banyak pula orang-orang yang harus dikenang dan dibalas jasanya. Tak hanya dikenang tapi juga harus dibalas kebaikan dengan kebaikan yang setimpal. Kalau bisa sih lebih.

sumber: google

Rudolf Khametovich Nureyev, penari balet Soviet kelas dunia, dalam sebuah interview pernah ditanya “bagaimana kamu bisa melompat setinggi itu dan tampak begitu ringan dan melayang?” Nureyev tidak bisa menjawab. Tapi dia berjanji, saat melompat dalam pertunjukkan nanti malam Nureyev akan mencoba menelaah apa yang dipikirkannya sebelum meloncat. Tak ada yang pernah bisa menduga, di malam pertunjukkan itulah untuk pertama kalinya Nureyev terjatuh di atas panggung.

Kecetit mungkin? Tapi lebih mungkin karena Nureyev memiliki beban. Untuk berpikir sebelum meloncat. Bagaimana mungkin burung bisa terbang tinggi, jika di kakinya dikaitkan ranting-ranting yang telah menjadi alasnya untuk tumbuh besar selama ini? Bagaimana mungkin Kupu-Kupu terbang ke sana ke mari dan menari kalau harus terus membawa selaput kepompongnya? Kacang tidak punya pilihan lain selain membusuk di dalam kulitnya agar bisa selalu mengenangnya.

Adakah manusia yang bisa melupakan tangan-tangan yang menyuapinya saat dia kelaparan? Atau memberikan kehangatan saat dingin menusuk tulang? Jawabannya pasti ada. Dan banyak.

Seorang ayah menjemput anak kecilnya di sekolah. Anaknya yang sedang bermain itu awalnya tak ingin menyudahi keseruannya bermain. Menangkap gelagat itu, ayahnya berjongkok dan membuka kedua tangannya. Anak itu pun seketika berlari dan memeluk ayahnya.

Ayah itu berkata “did you do well in class today?” Anak itu pun menggelengkan kepalanya sambil tertawa.

Ayah kemudian berkata “it’s ok… i only want you to be kind”

Sambil tertawa anak itu bertanya “why?”

Terdengar sayup ayah itu berkata “so you never forget me and mommy”

Perkenthuan Yang Khidmat

IMG_0086

sumber: google

Mari kita menikah di Singapura. Hanya perlu waktu 16 hari menetap di sana, lalu ajukan Notice of Marriage kepada catatan sipil Singapura. Jangan lupa bawa dua saksi.  Biayanya 128 dollar saja. Lalu tunggu antara 21 hari setelahnya dan paling lambat  3 bulan untuk memutuskan tanggal nikahnya. Simpel. Tidak perlu akta kelahiran, tidak perlu izin orang tua, dan yang terpenting: tidak perlu menyertakan surat apapun tentang agama calon suami istri.

Melaksanakan suatu ikatan di luar negeri, lalu diakui di dalam negeri. Salah? Entahlah. Penyelundupan Hukum? Bisa jadi. Tapi apa boleh bikin. Ketika hukum di negeri ini telah kehilangan maknanya, maka kita pun akan mengimpornya dari negeri lain. Kita akan memilih hadir dalam sebuah negeri yang jiwa hukumnya lebih cocok secara nurani. Salah? Entahlah. Don’t rich people difficult. Jangan kayak orang susah.

Akhir Juli lalu, empat alumnus dan seorang mahasiswa hukum Universitas Indonesia menjalankan haknya sebagai warga negara. Damian, Rangga, Varida, Anbar dan Luthfi ajukan uji materi kepada MK. Sebab? Hak konstitusional mereka dirugikan dengan syarat keabsahan perkawinan menurut hukum agama. Negara, menurut mereka memaksa setiap warga negara dalam mematuhi hukum agama dan kepercayaannya dalam hal perkawinan.

Apa masalah mereka? Dalam Pasal 2 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 disebutkan bahwa “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.  Pasal ini, bagi mereka akan berimplikasi tidak sahnya perkawinan beda agama. Ini melanggar soal hak asasi manusia yang diatur dalam pasal 28 UUD Negara 1945 huruf e ayat (1) dan (2). Juga Pasal 28 huruf i ayat (1) serta Pasal 29 ayat (2) UUD 1945, tukasnya.

Semenjak UU Perkawinan itu berlaku efektif, maka warga Indonesia diharamkan menikah lintas agama. Genap 40 tahun yang lalu. Pengharaman ini diperkuat dengan Fatwa MUI 1 Juni 1980 bahwa pria muslim, perempuan muslim dilarang untuk menikah dengan calon pasangan yang bukan beragama islam. Negara pun menyokong kembali fatwa ini: Inpres No. 1 tahun 1991 tentang kompilasi hukum Islam yang berisi hukum perkawinan, kewarisan dan perwakafan. Pemerintah melarang umat islam menikah dengan yang bukan islam. Pada pasal 44 KHI dinyatakan  “seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam”. Dalam pasal 40 disebutkan, “dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita karena keadaan tertentu; ….(c) seorang wanita yang tidak beragama Islam”.

Menurut  Abdul Moqsith Ghazali dengan dua ayat ini tampak jelas bahwa orang Islam, baik laki maupun perempuan, dilarang melangsungkan pernikahan dengan orang yang tak beragama Islam.  KHI memang bukan Undang-Undang (UU), melainkan hanya sebuah Inpres. Tapi, faktanya, KHI lah yang menjadi rujukan para pegawai KUA dalam menikahkan para laki-laki dan perempuan Islam di Indonesia. KHI juga dipakai para hakim agama dalam mengatasi persoalan-persoalan perceraian di Indonesia. Dengan kenyataan ini, para pelaku nikah beda agama tak mendapatkan payung hukum yang menjamin dan melindungi pernikahan mereka. Ini karena negara melalui KHI telah ikut terlibat dalam penentuan calon pasangan bagi warga negara yang mau menikah.

Selain Islam, agama Katholik memandang bahwa perkawinan sebagai sakramen sehingga jika terjadi perkawinan beda agama dan tidak dilakukan menurut hukum agama Katholik, maka perkawinan tersebut dianggap tidak sah. Sedangkan agama Protestan lebih memberikan kelonggaran pada pasangan yang ingin melakukan perkawinan beda agama. Walaupun pada prinsipnya agama Protestan menghendaki agar penganutnya kawin dengan orang yang seagama, tetapi jika terjadi perkawinan beda agama maka gereja Protestan memberikan kebebasan kepada penganutnya untuk memilih apakah hanya menikah di Kantor Catatan Sipil atau diberkati di gereja atau mengikuti agama dari calon suami/istrinya. Sedangkan agama Hindu tidak mengenal perkawinan beda agama dan pedande/pendeta akan menolak perkawinan tersebut. Sedangkan agama Budha tidak melarang umatnya untuk melakukan perkawinan dengan penganut agama lain asal dilakukan menurut tata cara agama Budha.  Hal ini kami rangkum dari buku O.S Eoh.

Nikah Beda Agama Mutlak Dilarang? TIDAK!

Putusan MA No. 1400 K/Pdt/1986 menyatakan bahwa Kantor Catatan Sipil saat itu diperkenankan untuk melangsungkan perkawinan beda agama. Kasus ini bermula dari perkawinan yang hendak dicatatkan oleh Andi Vonny Gani P (perempuan/Islam) dengan Andrianus Petrus Hendrik Nelwan (laki-laki/Kristen). Dalam putusannya, MA menyatakan bahwa dengan pengajuan pencatatan pernikahan di Kantor Catatan Sipil maka Andi Vonny telah memilih untuk perkawinannya tidak dilangsungkan menurut agama Islam. Dengan demikian, Andi Vonny memilih untuk mengikuti agama Andrianus, maka Kantor Catatan Sipil harus melangsungkan dan mencatatkan perkawinan tersebut (sumber hukum online).

Jadi jika  berkeinginan untuk mencatatkan perkawinan di kantor catatan sipil, maka berdasarkan pada putusan MA tersebut salah satu pasangan diatas dapat memilih untuk menundukkan diri dan melangsungkan perkawinan tidak secara Islam. Kemudian, apabila permohonan pencatatan perkawinan dikabulkan oleh pihak Kantor Catatan Sipil, maka perkawinan adalah sah menurut hukum. Kata kuncinya: Penundukkan hukum. Salah satu mengakui untuk melepas haknya dan mengikuti hak dan kewajiban pada hukum tertentu.

Inilah yang menjadi keberatan para aktivis HAM. Para aktivis HAM berkata bahwa negara tak boleh mengintervensi dan merampas hak privat setiap warga negara, termasuk dalam soal menentukan suami atau istri. Negara hanya memfasilitasi dan mencatatkan suatu pernikahan bukan menentukan pasangan dalam pernikahan.  Biarlah masing-masing pasangan menikah dengan agamanya masing-masing.

Dengan panjang lebar Dawam Raharjo menjelaskan tentang kebebasan beragama. Kebebasan beragama, dengan dalil tidak ada paksaan dalam agama, adalah prinsip yang sangat penting dalam sekularisme dan harus dipahami makna dan konsekuensinya, baik oleh negara maupun masyarakat. Oleh sebab itu, prinsip ini perlu diwujudkan ke dalam suatu undang-undang (UU) yang memayungi kebebasan dalam keberagamaan. Maksud UU ini adalah, pertama agar bisa membatasi otoritas negara sehingga tidak menimbulkan campur tangan negara dalam hal akidah (dasar-dasar kepercayaan), ibadah, maupun syariat agama (code) pada umumnya. Kedua, di lain pihak, ia memberi kesadaran kepada setiap warganegara akan hak-hak asasinya dalam berpendapat, berkeyakinan, dan beragama. Undang-undang semacam itu harus mendefinisikan kebebasan beragama secara lebih detail yaitu, pertama, kebebasan beragama berarti kebebasan untuk memilih agama atau menentukan agama yang dipeluk, serta kebebasan untuk melaksanakan ibadah menurut agama dan keyakinan masing-masing; kedua, kebebasan beragama berarti pula kebebasan untuk tidak beragama. Walaupun UUD menyatakan bahwa negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, kebebasan beragama juga berarti bebas untuk tidak percaya kepada Tuhan atau untuk berkeyakinan ateis; ketiga, kebebasan beragama berarti juga kebebasan untuk berpindah agama, yang setara dengan berpindah pilihan dari satu agama tertentu ke agama lain. Berpindah agama tidak berarti murtad, melainkan menemukan kesadaran baru dalam beragama. Berpindah agama juga tidak bisa disebut kafir, karena istilah kafir bukan berarti mempunyai agama lain, melainkan menentang perintah Tuhan; keempat, kebebasan beragama berarti pula bebas untuk menyebarkan agama (berdakwah), asal dilakukan tidak melalui kekerasan maupun paksaan secara langsung ataupun tidak langsung. Kegiatan untuk mencari pengikut, dengan pembagian bahan makanan, beasiswa kepada anak-anak dari keluarga miskin, atau pelayanan kesehatan gratis dengan syarat harus masuk ke dalam agama tertentu, adalah usaha yang tidak etis, karena bersifat merendahkan martabat manusia, dengan cara “membeli” keyakinan seseorang. Namun program bantuan semacam itu boleh dilakukan oleh suatu organisasi keagamaan, asal tidak disertai syarat masuk agama tertentu. Penyebaran agama dengan cara menawarkan iman dan keselamatan secara langsung dari orang ke orang atau dengan cara kunjungan dari rumah ke rumah dengan tujuan proliterasi adalah tindakan yang tidak sopan dan sangat mengganggu, karena itu harus dilarang. Kegiatan penyebaran agama, sebagai pewartaan, tidak dilarang, tetapi upaya kristenisasi atau islamisasi sebagai proliterasi tidak diperkenankan. Jika tata cara penyebaran agama bisa diatur, tidak akan ada lagi tuduhan kristenisasi, islamisasi, atau pemurtadan; kelima, atas dasar kebebasan beragama dan pluralisme, negara harus bersikap adil terhadap semua agama. Suatu peraturan pemerintah yang bersifat membendung penyebaran agama atau membatasi kegiatan beribadah agama tertentu, dianggap bertentangan dengan UU. Konsekuensinya, pencantuman agama dalam kartu identitas, misalnya di Kartu Tanpa Penduduk (KTP), tidak diperlukan, karena bisa membuka peluang favoritisme dan diskriminasi yang menguntungkan agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk atau mereka yang berpengaruh di pemerintahan; keenam, dalam perkembangan hidup beragama, setiap warga berhak membentuk aliran keagamaan tertentu, bahkan mendirikan agama baru, asal tidak mengganggu ketenteraman umum dan melakukan praktik-praktik yang melanggar hukum dan tata susila, atau menipu dengan kedok agama. Kebebasan itu berlaku pula bagi mereka yang ingin mendirikan perkumpulan untuk maksud kesehatan atau kecerdasan emosional dan spiritual berdasarkan ajaran beberapa agama, sesuai dengan pilihan anggota atau peserta, selama tidak mengharuskan keimanan kepada suatu akidah agama sebagai syarat; dan ketujuh, negara maupun suatu otoritas keagamaan, jika ada, tidak boleh membuat keputusan hukum (legal decition) yang menyatakan suatu aliran keagamaan sebagai sesat dan menyesatkan, kecuali jika aliran itu telah melakukan praktik-praktik yang melanggar hukum dan tata susila. M. Dawam Raharjo, “Dasasila Kebebasan Beragama,”

A constitution is not the act of a government but of a people constituting a government, without a constitution is power without right, and a constitution is the property of the nation and not of those who exercise the goverment” – Thomas Paine.

Fenomena klasik. Kehidupan sosial yang terus berubah detiknya, menjadi tantangan bagi para abdi hukum.  Ketika sub sistem hukum telah berkelindan dengan sub sistem lainnya. Sub sistem ekonomi, sub sistem politik dan budaya, juga sub sistem agama. Para abdi hukum dihadapkan pada tantangan untuk terus membangun sub-sistem hukum dan pelaksanaannya yang sesuai dengan jiwa bangsa (Volksgeist). Cita hukum dengan menghasilkan produk hukum yang sehat, dengan tetap menimbang faktor etika moral. Sesuatu yang harus terus diperjuangkan, kecuali produk hukum itu ingin kehilangan maknanya.

Karena hukum, kata Brian Tamanaha, adalah a peculiar form of social life. Maka hukum tidak dapat dipahami hanya dengan hukum negara namun harus dipahami sebagai produk sosial dan kultur masyarakat dimana hukum itu berada. Begitu usang manakala hukum berkutat pada rules dan logic. Hukum telah terjebak hanya pada persoalan empirik yaitu undang-undang dan perilaku semata, namun melupakan sesuatu yang jauh lebih hakiki: hati nurani. Pencarian makna yang lebih dari sekadar hal empirik? masih tak tersentuh. Kita masih menyukai hal-hal legalistic, formal dan procedural. Padahal Eugen Ehrlich sudah mengingatkan: the center of gravity of legal development lies not in legislation, not in juristic science, not ini judicial decision, but in society it self. hukum dibangun dengan konstruksi pondasi mental manusia dan sosial budaya masyarakatnya. Hal ini diperkuat pendapat Tanamaha bahwa hukum adalah cerminan hati dari masyarakat sebagai habitat sosial budaya. Inilah mirror thesis.

Aspek penting yang harus ada dalam setiap konstitusi modern-demokratis adalah pengakuan dan pemberlakuan prinsip citizenship. Prinsip ini mengandaikan dan sekaligus menerima premis tentang kesetaraan warga negara tanpa kecuali dalam segala hal. Prinsip ini mengabaikan politik pengecualian atas dasar kriteria apapun termasuk agama, etnisitas, gender, dan selainnya, kata Cornelis Lay.

Hukum yang mengatur masyarakat harus berasal dari budaya masyarakatnya. Maka hukum dibangun dengan syarat utama: plurality-conscious dan pluraity-sensitive. Werner Menski mengingatkan bahwa pola perilaku masyarakat telah lama melembaga dalam kehidupan manusia sebalum berdirinya negara. Jika ini dibaca dan diejawantahkan dalam kehidupan warga nusantara, bahwa asimilasi budaya, salin-silang budaya, akulturasi budaya, pernikahan antar budaya antara pendatang dan pedagang, antara warga lokal dan kerajaan seberang, perkawinan antar kepercayaan dan agama telah lama hadir dan mewaktu dalam perikehidupan masyarakat, jauh sebelum lahirnya Indonesia.

Kita perlu fresh moral judgement. Kira-kira begitu. Maka tak salah jika cerita Ibu Emmi Warassih, pengajar hukum di Undip: “..di pintu s3 kampus saya ada tulisan keren lho mas:  law as a great anthropologhy…”

—-

Kembali ke topik semula mengenai pernikahan beda agama:  “Bagaimana dengan pendapat anak Linimasa?”
Dalam sebuah obrolan singkat tapi padat agak merayap, melalui grup whatsapp kami, telah disepakati:

“nikah tidak menikah yang penting itu cuman satu: kebebasan menjalankan Perkenthuan Yang Khidmat.”

Selesai urusan. 🙂

AYAH? AH, YA..

Kemarin, seusai baca “Ayah” yang ditulis Nauval, ulu hati rasanya seperti ditonjok. Jari-jari mendingin. Saya ndak suka topik yang dia bahas. Bahasan soal ayah itu seperti kryptonite. Harus selalu dihindari kalau tak mau berakhir dengan mata berair dan dada sesak. Tak berapa lama, ada satu pesan muncul di layar ponsel. “Aku mewek”. Rupanya sang kawan juga merasakan hal yang sama. Hampir seharian saya habiskan membaca komentar teman-teman yang ikut bernostalgia tentang ayah mereka.

Dan hari ini, entah kenapa, saya merasa harus menambahkan satu bab lagi soal ayah di Linimasa.

Bicara tentang ayah itu bicara tentang sesuatu yang sangat kompleks. Dan, rasanya, membicarakan hubungan anak dan ayah itu jauh lebih kompleks. Njlimet. Ribet. Bukan. Bukan mengecilkan peran ibu. Tapi kita masih hidup di lingkungan di mana ibu diharapkan dan sudah sewajarnya jadi sosok welas asih. Jadi kalau ada apa-apa, lebih gampang untuk memaafkan ibu. Sementara ayah? selalu banyak drama.

Saya ingat, ada seorang kawan yang mengaku kalau salah satu pemicu ia jadi homoseksual adalah konfliknya dengan sang ayah yang berakar dari ia kecil. Selalu dijadikan sasaran kekesalan ayahnya yang kalah judi. Entah itu ditampar, atau dipecut dengan ikat pinggang, atau dipukul dengan pemukul kasur dari rotan. Lalu ada juga kawan yang tahun lalu baru jadi bapak. Ia sempat berkelakar “Bangsat bangsat gini, gue pengen jadi bapak yang baik. Anak gue harus jadi anak soleh, lah.” Kemudian seorang kawan lain yang begitu terkesan dengan sosok sang ayah. Sampai-sampai, tujuan hidupnya, ya, menemukan lelaki yang punya sifat dan karakter mirip ayahnya.

Berat juga jadi ayah. Seumur hidup dibebankan dengan pertanyaan apakah ia akan jadi pahlawan bagi anak laki-lakinya. Dan apa ia akan bahagia kalau anak gadisnya menikahi pria seperti dirinya. Ayah merupakan sosok asing pertama yang kita biarkan untuk kenal dan cintai. Namun sayangnya, cinta kerap bersisian dengan sakit hati. Di sinilah drama dimulai. Saya yakin, kalau bahasannya sudah ‘ayah’, tak diminta pun teman-teman pasti cerita sendiri.

Ada satu film bertema ayah yang begitu kuat diingatan saya. La Vita è Bella (Life is Beautiful). Roberto Benigni memerankan serang pria bernama Guido Orefice. Seorang yahudi pemilik toko buku di salah satu kota di Italia. Waktu itu Perang Dunia II sedang panas-panasnya dan Nazi Jerman akhirnya menduduki Italia. Guido dan sang anak yang baru berumur lima tahun, Giosué, akhirnya harus “dipindahkan” ke kamp konsentrasi di luar kota. Untuk mengapus rasa takut Giosué, Guido berbohong dan berpura-pura kalau kejadian yang mereka alami ini adalah sebuah perlombaan. Orang pertama mengumpulkan 1000 poin akan dihadiahi sebuah tank baja. Tujuan utamanya, ya, tentu saja untuk melindungi Giosué sementara ia menunggu saat yang tepat untuk membebaskan keluarganya dari kamp konsentrasi. Ini salah satu film terbaik yang pernah saya tonton.

Guido dan seorang tentara Nazi. Salah satu scene di “La Vita e Bella”

Ada satu hal yang saya lihat dari Guido, ayah saya, dan mungkin ayah kalian. Mereka kadang terlalu hanyut di balik peran sebagai seorang ayah. Dan akhirnya kitapun kadang ikut alpa kalau mereka juga manusia. Dan ketika film berakhir, saya masih ingin mengenal lebih lanjut sosok Guido. Saya ingin mengenal ayah. Bukan sebagai ayah, tapi sebagai manusia. Saya ingin mengenal ayah seperti layaknya dua orang manusia yang mengenal satu sama lain, tanpa ada label anak-bapak. Apa yang ia pikirkan kalau ia tak harus memikirkan istri dan anak-anaknya? Apa sebenarnya yang ia inginkan? Atau, sesederhana, bahagiakah ayah selama ini?

Jujur saja, ketika dihadapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu, saya tidak tau harus jawab apa. Saya merasa sama sekali tidak mengenal ayah. Sedikit sekali hal yang saya tau tentang beliau. Bagaimana kita bisa begitu asing akan seseorang yang sudah dari lahir kita kenal? Bukan, ini bukan upaya justifikasi dari segala hal-hal buruk yang mungkin pernah dilakukan ayah-ayah kita. Tapi, kalau kita mau mengenal lebih sosok ayah, mungkin kita jadi lebih mengerti keputusan-keputusan yang mereka ambil. Baik atau buruk sekalipun. Mengerti, bukan memaklumi.
Dan akhirnya, sebelum ini jadi curhat colongan yang kepanjangan, saya harus berhenti di sini.

Ayah

And When Did You Last See Your Father?

Kalimat di atas bukan ditulis dengan maksud bertanya langsung kepada Anda. Pertanyaan itu sebenarnya judul film Inggris tahun 2007 yang, sayangnya, tidak banyak ditonton orang.
Padahal ini salah satu film yang sangat baik dalam mengungkapkan rumitnya hubungan ayah dan anak, yang dimainkan dengan gemilang oleh Jim Broadbent dan Colin Firth.

Dan film ini adalah salah satu dari beberapa film di IMDB yang saya beri rating 10 dari 10. Daftar film dengan rating sempurna ini ternyata sebagian besar diisi oleh film-film tentang hubungan ayah dan anak. Itu yang sempurna. Yang nyaris sempurna dengan nilai 9 pun, ternyata jauh lebih banyak lagi.

Ketika menulis ini, ingatan pun melayang saat pertama kali melihat Catch Me If You Can di bioskop 11 tahun silam. Yang menggetarkan hati saat itu bukan Leonardo DiCaprio, tapi justru Christopher Walken yang berusaha meluruskan jalan anaknya, yang diperankan Leonardo, saat mereka bertemu di bar dan memeluknya erat-erat.

Lalu tanpa ada rasa paksaan, air mata tiba-tiba menetes waktu melihat Donny Damara dengan kostum waria di Lovely Man berusaha berdialog dengan anak perempuannya di jalanan Jakarta di malam hari.

Waktu nonton The Namesake di bioskop di suatu Selasa sore di luar negeri, ada rasa sesak di dada yang ingin membuat buru-buru pulang ke rumah dan memeluk ayah, meskipun dia tidak menamai saya dari pengarang favoritnya.

The Namesake

The Namesake

Kalau kita masih bisa membaca tulisan ini tanpa perlu bantuan Google Translate, berarti kita tahu, kalau sebagian besar dari kita lahir dan tumbuh di lingkungan yang kebanyakan tak bebas untuk mengungkapkan ekpresi cinta dan kasih sayang. Terutama di luar konteks romansa. Terlebih untuk hubungan orang tua dan anak. Apalagi seorang ayah, pria dengan status sebagai kepala keluarga.

Kita mencari pelarian ke bentuk lain yang kita bisa lihat. Lewat suara, tulisan, dan gambar, kita mendapatkan apa yang kita ingin sampaikan. Maklum, di film, semuanya jadi lebih ekspresif. What we cannot express in real life, books, movies and music will do the service.
Dalam kehidupan nyata, mungkin tidak ada ayah yang mengepalkan jari menahan tangis dengan raut muka penuh ekspresi seperti Dustin Hoffman dalam Kramer vs Kramer, atau menceritakan masa lalunya dengan kehadiran visual fantasi seperti Albert Finney ke Billy Crudup di Big Fish.
Toh kita masih bisa menempatkan diri kita berempati ke cerita dan karakter di film-film itu, yang akhirnya berujung dengan ucapan ke diri sendiri, “That is so … me.”

Kramer vs Kramer

Kramer vs Kramer

Ayah yang hadir di layar lebar, yang kita lihat dalam kegelapan selama sekitar 2 jam, sebenarnya adalah proyeksi dari keinginan kita terhadap ayah kita sendiri. Atau mungkin, sosok ideal seorang ayah yang kita harapkan.
Siapa yang tidak mau punya ayah seperti Liam Neeson yang menonton “Titanic” dengan anaknya yang lagi jatuh cinta di Love, Actually? Atau ayah seperti Tom Hanks yang tampil bak cerita detektif yang kita baca waktu kecil di Road to Perdition?

Tentu saja kita mau kalau fantasi itu jadi nyata … meskipun kenyataannya, kita akhirnya jatuh hati dengan penggambaran sosok yang paling mirip di kehidupan nyata.

Saya tertegun melihat almarhum komedian Mamiek Prakoso di film King. Karakter ayah yang diperankannya begitu dekat dengan sebagian besar sosok ayah yang membesarkan kita: keras, cenderung “ngeyel”, susah menerima perubahan, namun dalam diamnya, dia bangga dengan pencapaian anaknya.
Tanpa kata yang berlebih, dia berusaha menerima apa yang anaknya mau tuju dalam bermain bulu tangkis, meskipun berbeda dengan apa yang dia rencanakan ke depan. Tatapannya datar. Sepanjang film, karakternya nyaris tidak berubah. Kekerasan hati masih tersirat di mukanya, dari awal sampai akhir.

Bukankah ayah kita begitu?