Dear Para Penulis Surat Terbuka

 

Duhai para penulis surat terbuka yang berhati mulia lagi budiman,

 

Please stop. Saya bosan.

Tadinya saya tak ingin menulis ini, tapi saya sudah sangat lelah. Saya berdoa semoga kalian bisa berhenti menjadikan saya ujung tombak perjuangan kalian. Namun entah berapa puluh halaman lagi yang akan kalian tulis tahun ini. Mungkin kalian berpikir kalau segala gerakan sosial yang kalian canangkan tidaklah lengkap kalau belum ada saya, Surat Terbuka, dan kawan saya si Petisi Online.

Dulu saya pernah merasa jadi bagian dari sejarah. Dulu kehadiran saya begitu ditunggu, tidak seperti sekarang. Seperti ketika Martin Luther King Jr. yang mengirimkan surat dari balik penjara Birmingham. Menekankan kalau masyarakat kulit hitam Amerika tidak sendirian; ia akan terus menyemangati dan berjuang bersama mereka melawan diskriminasi ras. Atau, ketika di penghujung abad ke-19, Emile Zola menjadikan surat terbuka sebagai medium untuk mengecam presiden Perancis kala itu yang dianggap mendukung anti-semitisme.

Namun sayang, saat ini saya tak ubahnya sekadar sarana onani intelektual dan ego kalian. Tahun lalu, seorang Sinead O’Connor mengirim surat terbuka ke Miley Cyrus karena hal yang begitu remeh. Dan tahun ini bahkan ada gerakan “Mari Beramai-ramai Menulis Surat Terbuka Untuk Capres Nganu” di Indonesia. Duh. Saya sadar, sekarang ini jamannya keterbukaan (kurang terbuka apalagi? saat ini segala hal private dengan senang hati diunggah ke media sosial) tapi kenapa harus selalu surat terbuka, sih? kalau tidak suka kenapa tidak datangi saja langsung? kalau tidak setuju, kenapa tidak balas saja argumennya? atau tulis saja opini, biar jelas. Tidak perlulah bahasa yang disopan-sopankan dan mengiba-iba seperti ini, duhai Puan dan Tuan. “Teruntuk Pak Prabowo macan Asia yang saya percaya baik hatinya…”, apa itu?!

Tidak perlu juga terus berlindung di balik metafor-metafor apalagi frasa usang “vox populi, vox dei” kalau representasi rakyat yang kalian maksud ya rakyat dunia maya. Yang memberi ilusi kalau kalian sudah benar-benar berjuang sampai titik darah penghabisan, dan sudah tak ada lagi yang bisa kalian lakukan selain menulis panjang-panjang kemudian mengunggahnya ke blog, lalu di-retweet oleh puluhan ribu followers, lalu kemudian di-reblog, dan akhirnya dikutip media-media online yang lebih mengandalkan screencaptures ketimbang verifikasi ke narasumber; barulah kalian merasa kalau perjuangan kalian paripurna. (Saya yakin seyakin-yakinnya, mereka yang dikit-dikit mengirim surat terbuka itu pasti orang-orang yang sama yang ketika complaint di Twitter, wajib hukumnya menggunakan fitur manual retweet atau membubuhkan tanda titik di depan username orang/brand yang dituju, biar apa? ya biar semua orang tau!)

Kalian bebas, kok, beropini, bebas juga menganggap kalau mengirim surat terbuka itu bagian dari perjuangan. Ndak salah. Toh semua orang memang punya Messiah Complex. Ingin jadi juru selamat bagi sesama, walau mungkin kadarnya beda-beda. Tapi, Tuan dan Puan, kita harus ingat kalau Indonesia ini juga dibangun dari darah dan keringat orang-orang yang tidak diakui jerih-payah dan gagasannya; Amir, Sjahrir, & Tan Malaka. Mereka yang berpikiran terbuka, yang tak perlu sering-sering menulis surat terbuka. Mereka yang tidak perlu pengakuan, tidak perlu validasi atas segala hal yang dipercayai benar dan terus berjuang walau diasingkan tanpa “followers”. Seperti Gandhi yang tak perlu bikin pengumuman ketika ia mengirimkan Hitler surat demi mencegah terjadinya perang dunia.  

Mungkin, sebelum menulis surat terbuka, ada baiknya kita semua bertanya dulu pada diri sendiri. Apa dunia akan kiamat kalau saya tidak menulis surat terbuka? Apa saya Madiba? Apa Gandrasta Bangko ratu Inggris? Kalau jawabannya ‘ya’, silakan ulangi terus tiga pertanyaan tadi sampai delusi kalian berkurang. Dan, kalau jawabannya ‘tidak’, mungkin hasrat ingin menulis kita bisa dialihkan untuk menulis surat lain yang punya peran nyata buat masa depan; surat cinta, misalnya. Karena percayalah, Tuan dan Puan, di dunia ini tidak ada revolusi yang dicapai dengan hanya bermodal jempol. 

Tabik,

Surat Terbuka

 

(Kami hanya melayani komentar atau kritik dalam bentuk surat terbuka yang kemudian akan di-tweet, retweet, blog, reblog, path, repath, lalu dibalas lagi dengan surat terbuka, dan begitu seterusnya; atau hanya kalau Prabowo jadi presiden.)

Posted in: Indonesia, manusia, ringan

9 thoughts on “Dear Para Penulis Surat Terbuka Leave a comment

  1. Sakjane si penulis iki yo lagi nulis surat terbuka og. Lha, semua tulisan yg diunggah untuk umum ya masuk kategori surat terbuka 😀

Leave a Reply