Oh Begini Rasanya…

5 tahun belakangan ini, punya bisnis makanan sudah menjadi simbol status baru. “It’s like having an Hermes, you know” kata seorang sosialita ibukota yang wajahnya sering nongol di halaman majalah. Ada yang menyebut dirinya sendiri “restaurateur”, “foodpreneur”, atau seluas “entrepreneur”. Buat penikmat makanan, tentunya ini adalah kabar gembira. Bisa mencicipi makanan yang belum pernah dijual dan lebih mudah didapatkan. Sebut saja Bagel, Taco, Artisant Ice Cream, Fusion Padang Sushi dan banyak lagi termasuk makanan Nusantara yang tadinya hanya bisa didapatkan kalau pulang kampung. Tak ketinggalan pula kebangkitan nasional makanan yang sebenarnya sudah pernah ada. Sebut saja Cireng, Burger, Steak. Belum lagi kehadiran makanan sehat seperti almond milk, smoothies, flourless cake, organic fried rice dan jutaan lainnya.

Kalau bicara soal rasa buat lidah perawan yang belum pernah mencicipi, batasannya tentu tidak bisa enak atau tidak enak. Apa pembandingnya? Ketika lidah berkenalan dengan rasa baru, urusannya lebih ke cocok atau tidak cocok. Suka atau tidak suka. Kalau tidak suka tentu tidak masalah. Kalau suka baru masalah. Loh kok? Ya karena invasi makanan-makanan baru ini umurnya sering lebih pendek dari umur percintaan tanpa rasa. Bayangkan kalau lidah keburu kepincut, eh sudah tutup. Sebel kan? Pilihan satu-satunya coba bikin sendiri.

Alasannya restoran, warung, cafe baru datang dan pergi beragam. Mulai dari tidak menguntungkan, salah pengelolaan, sampai sesederhana pemiliknya bosan. Ada pula tempat-tempat makan yang bertahan lama walau sepi pengunjung. Biasanya gosip yang berkembang “tempat cuci uang” atau “buat panggung yang punya aja kok…”. Tak sedikit juga yang baru melek susahnya jualan makanan. Mulai dari kesulitan bangun pagi untuk masak, kekurangan modal, bahan yang tersedia tidak memadai, salah pilih tempat sampai ditipu business partner atau chef dibajak pengusaha lain. Oh begini rasanya…

Tangan adalah syarat mutlak untuk memasak. Ada tangan yang memasak ada pula tangan yang tinggal tunjuk suruh orang lain yang masak. Tahun 2000, sepasang tangan asli Madiun ini memasak di Surabaya. Masakannya sederhana. Sambal Udang. Mulai dari jam 3 subuh, sepasang tangan ini berurusan dengan cabai. Semua yang pernah atau suka masak pasti tau berurusan dengan cabai bukan perkara gampang. Mengucek mata setelah memegang cabai bisa jadi malapetaka. Sambal kreasinya kemudian dimasukkan ke dalam botol-botol plastik kecil, untuk dijual. Mulai tahun 2011, Sambal Udang ini dijual online seharga Rp 12.000,- per botol. Dan saat ini, tak kurang dari 2000 botol per hari terjual ludes. Hitung saja sendiri omzetnya. Ngiler duitnya atau sambalnya?

2013-12-14 16.55.33

Pemilik sepasang tangan itu adalah IE Lany Siswadi, lebih dikenal dengan Ibu Rudy. “Nih liat, jari-jariku penyok-penyok… Mana ada boss kok jarinya jelek begini?” Kata Ibu Rudy di suatu siang sambil menawarkan Pepes Kepiting Kecil yang biasa disebut Yuyu. Tidak seperti restaurateur yang sering tampil di majalah, tampilan Ibu Rudy bisa dibilang acak-acakan. “Lah ya aku bangun jam 3 pagi setiap hari. Dandan yo males…”. Tentu lumayan berbeda dengan tampilan para restaurateur yang sering tampil di media.

Banyak orang yang mengagumi dedikasinya. Dan banyak juga yang menganggap ini adalah sebuah kebodohan. “Orang jaman dulu itu gak percayaan sama orang buat mengelola bisnisnya, makanya bisnisnya segitu-segitu aja. Coba kalau dia berani mendistribusikan tugasnya, bisa jadi lebih kaya dia”. Tentunya ini pilihan. Karena bukan tidak mungkin Ibu Rudy sudah puas dan menemukan kebahagiaan hidup dengan yang dilakukan dan penghasilan yang diterimanya. Sebagian pemilik bisnis makanan menemukan kebahagiaan saat memasak. Kehidupannya adalah di dapur. Aroma bumbu sudah masuk ke dalam pembuluh darahnya sehingga kalau sehari saja tidak kena bisa sakaw.

Ada banyak pengusaha bisnis makanan yang jari-jarinya seperti lebih menikmati hidupnya dengan meracik bumbu daripada menghitung duit. Mereka terus mengembangkan resep makanan dagangannya, memperbaiki, dan menambah daftar menu baru. Mempertahankan resep, bahan dan cara memasak tradisional pun dijabani demi menghasilkan rasa dan kualitas yang prima.

2013-05-18 13.58.50

Sebut saja Mama Mimi di Makassar, ketekunannya telah menjadikan restorannya sebagai salah satu destinasi wisata kuliner se Asia Tenggara pilihan William Wongso. Di usianya yang tak lagi muda, Mama Mimi masih terjun ke dapur. Membuat kue bolu yang mengembang dengan cantik tanpa menggunakan bahan kimia adalah ambisinya saat itu.

2013-11-24 11.52.09

Atau Koh Rudy, satu-satunya pedagang Pempek Belida di Palembang sejak 30 tahun lalu. Demi tetap menggunakan Ikan Belida yang sudah punah di Palembangnya sendiri, Koh Rudy harus mendatangkannya dari Banjarmasin. “Mereka menangkap Ikan Belida dengan menggunakan listrik, habislah semuanya mati!”

2013-12-09 01.18.44

Tak perlu jauh-jauh pula berbicara soal dedikasi pada makanan. Mampirlah ke tikungan kawasan Cikini. Temukan Pak Deyan pemilik Sop Janda (yang ternyata singkatan Jawa Sunda). Pak Deyan tadinya karyawan hotel di seberang warungnya yang sekarang. Walau sudah memiliki karyawan, Pak Deyan tetap penentu standar rasa kuah Sop Janda.

Serahkan keperawanan lidah kita pada mereka. Apalagi kalau lidah termasuk golongan yang rapuh kalau dikhianati.

 

Advertisements

Lupakan Florence Sihombing, Mari Kita Berinvestasi

Jika anda memiliki uang berlebih dan ingin berwisata ke kota yang jarang dikunjungi orang, datanglah saat Paskah ke Larantuka. Anda akan menemui Tuan Ma dan Tuan Ana, yang sosok keduanya sudah dikenal baik oleh kita. Pasti!

Khusus pada hari Paskah, masyarakat Katolik Larantuka akan membopong beramai-ramai Tuan Ma dan Tuan Ana berkeliling kota. Ritual ini oleh warga Larantuka disebut Semana Santa, sebuah prosesi budaya dan agama warisan Portugis. Lantas siapakah Tuan Ma dan Tuan Ana yang digambarkan dengan mimik muka tanpa senyum dan merunduk ini? Tuan Ma adalah panggilan sayang warga Larantuka untuk Tuhan Yesus. Sedangkan Tuan Ana, sosoknya lebih kita kenal dengan Bunda Maria. Sosok Tuan Ana yang tak tersenyum dan merunduk ini oleh sebagian warga dikenal juga sebagai Patung Bunda Maria Berdukacita. Karena mayoritas warga beragama Katolik, tak heran jika gereja dan komunitasnya, menjadi sentral sarana berinteraksi masyarakat kota ini.

Larantuka sebenarnya adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Flores Timur.  Berbeda dengan Kupang yang berada di Pulau Timor, Larantuka dapat dilalui dengan jalan darat dari Kota Maumere menuju arah timur. Sebaliknya, apabila kita menelusuri ke bagian barat pulau Flores, kita akan menemui kota Ende dan Ruteng yang berhawa lebih sejuk dari kota-kota lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tak heran jika tanaman kopi tumbuh subur di daerah ini. Larantuka masih kalah pamor dibandingkan dengan daerah wisata lainnya di provinsi tersebut, seperti Labuhan Bajo dan pulau Komodo. Kota yang relatif tenang dan senyap. Penduduknya, tidak lebih dari 50 ribu jiwa.  Sebagian dari mereka banyak yang mengadu nasib ke kota besar seperti Denpasar, Surabaya, Makasar, Jakarta dan Batam dengan profesi beragam: menjadi buruh kasar, penjaga malam dan pembantu rumah tangga.

___

Pada bulan Desember 2013 ketenangan Larantuka tiba-tiba terusik. Senyap yang berangsur-angsur sirna. Kenapa?

Maaf.

Jika mengira ketenangan dan senyapnya Larantuka karena ulah mahasiswi, maka anda salah terka. Penyebabnya bukan karena gadis manis ekspresif, lincah, centil, lucu bernama Florence Sihombing. Larantuka, sama sekali bukan Jogja. Sumber riuhnya Larantuka hanyasatu orang bernama Nikolas Ladi, pemilik sekaligus pengelola Lembaga Keuangan Finansial Mitra Tiara.

Berduyun-duyun warga berkumpul setiap hari di halaman kantor LKF Mitra Tiara. Mereka berharap uang investasi yang telah ditanamkan pada lembaga tersebut kembali. Tercatat lebih dari 16ribu warga berinvestasi di lembaga tersebut. Diduga LKF Mitra Tiara mengelola lebih dari Rp500milyar. Menakjubkan bukan? Konon katanya, dari buruh tani, pegawai negeri, bupati hingga orang nomor satu di negeri itu menanamkan uangnya. Awalnya setiap bulan setiap investor mendapat imbal hasil hingga 10%. Jika menanam Rp.100juta maka bulan berikutnya, si investor memiliki “tabungan” sebesar Rp.110juta. Apalagi sejak tahun 2010 ketika LKF Mitra Tiara ini didirikan, tak pernah sesenpun Nikolas Ladi ingkar janji. kapanpun, berapapun warga hendak mengambil dananya kembali, Nikolas Ladi siap beraksi: mengembalikan pokok plus bunga saat itu juga. Kurang apalagi?

Tergiur Janji Manis?

Namun, sudah patut diduga, investasi dengan tingkat pengembalian bunga yang begitu tinggi tak bertahan lama. Sebagian warga yang menanamkan dananya sejak awal, secara matematis telah “balik modal”. Apa daya, sifat dasar manusia yang cenderung serakah, melihat peluang emas semacam ini, banyak warga yang rela menjual tanah, mobil, meminjam uang ke sanak famili, hingga  beranikan diri meminjam uang dari lembaga keuangan resmi seperti koperasi atau bank. Bagai menenggak air laut, semakin banyak minum airnya, haus makin terasa. Warga terus percaya pada Nikolas Ladi. Apalagi ketika Nikolas memugar bangunan kantornya, membangun hotel dan perusahaan transportasi antar kota. Warga makin percaya, Nikolas Ladi pahlawan ekonomi.

Pertengahan tahun 2013, para investor mulai merasa kesulitan. Gejala awalnya adalah penurunan suku “bunga”. Dari 10% menjadi 8%. Bulan berikutnya investor tidak dapat menarik pokok, dan hanya dapat menarik bunganya saja. Keadaan semakin sulit, LKF Mitra Tiara memberi persyaratan baru: “Jika ingin mengambil bunga, beritahu seminggu sebelumnya”. Celakanya, warga masih saja berharap situasi membaik. Sebagian warga malah menambah jumlah nominal investasi.  Jumlah investor pun bertambah. Tidak hanya berasal dari Larantuka, warga Maumere dan Ende turut serta.

Bulan Desember 2013, Nikolas Ladi tak pernah hadir lagi. Desas-desus mengatakan Nikolas Ladi berada di Jakarta mencari dana segar dan menyelesaikan janji investasi. Warga  yang menjadi investor setiap pagi berkumpul di halaman kantor LKF Mitra Tiara. Lebih dari 200-an warga “absen pagi” dan berharap melihat wajah Nikolas Ladi. Anehnya, tak seorang pun warga yang memberanikan diri melaporkan Nikolas Ladi kepada Polisi. Mereka masih berharap pada Nikolas. Pikir mereka, jika Nikolas ditangkap polisi, siapa yang akan mengembalikan uang. Polisi? Mana mungkin! Lama-kelamaan warga multi beraksi. Pot tanaman yang menghiasi halaman kantor diam-diam dijual orang. Mobil operasional kantor yang dijaga karyawan LKF Mitra Tiara secara damai diambil warga. Perabot dan furnitur lobby maupun kamar hotel milik Nikolas Ladi diboyong entah kemana, entah oleh siapa. Seperti gadis manis yang lupa diri, sedikit-demi sedikit membiarkan dirinya digerayangi.

Menuhankan Uang Untuk Menghamba Pada Tuhan.

Fenomena investasi sebagaimana yang dilakukan Nikolas Ladi bukan hal baru. Anehnya, investor tetap saja banyak yang berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi korban. Apakah sudah pasti ini adalah semacam tipu-tipu? Belum tentu.

Akhir-akhir ini kita mendengar banyak kesempatan investasi dengan bunga begitu tinggi. Ada juga pelaku semacam ini yang meramunya dengan sentimen agama. Menjual paket combo: investasi dan pahala ilahi. Dengan berkedok pengelolanya telah mendapat restu MUI, sebuah perusahaan meraup begitu banyak uang investasi lalu menghilang dan sulit dicari. Tiba-tiba perusahaan tersebut bertatus pailit. Lain halnya dengan pemuka agama yang selain berdakwah juga rajin berwira usaha. Getol menawarkan jalan surga sembari investasi. Suatu ketika, saat akan dimintakan keterangan oleh pihak otoritas apakah perusahaannya memiliki izin pengelolaan investasi, dengan sigap sang relijius kapitalis ini berkelit:

“Kami sekarang kenakan baju koperasi. Dari kami, oleh kami, untuk kami. Kenapa ente ikut urusan kami?”

Jemaahnya mendukung dan memberi tepuk tangan penuh harapan akan pahala dan keuntungan. Mereka percaya Tuhan Maha Pemurah. Jika kita beri satu akan tumbuh seribu. Beramal satu pahalanya seribu. Bagi mereka, Tuhannya dijadikan semacam rekan bisnis. Hubungan transaksional antara hamba dan sang pencipta.

Dahulu, kita sempat mendengar mendengar perusahaan investasi Qisar, juga Wahana Globalindo. Baru-baru ini kita juga dikagetkan dengan Koperasi Langit Biru yang konon katanya mengelola dana hingga mencapai angka satu trilyun lebih. Pemiliknya, pada akhirnya tewas saat menginap di rumah tahanan. Di luar negeri fenomena serupa sudah lama muncul. Kita mendengar nama Bernard Maddof. Lantas, apa bedanya antara penipuan berkedok investasi ini di dalam negeri dan di luar negeri? Di sana, korban utama bisnis ala skema ponzi adalah pengurus pengelola dana pensiun dan pemilik modal cukup namun tak ingin sisa dana yang dipergunakan untuk bisnis utamanya menganggur dan mati gaya. Mereka berharap bukan pada sekadar bunga tinggi, tapi juga kepastian dalam berinvestasi. Semacam menaruh telur pada beberapa keranjang. Diversifikasi investasi. Cara Maddof meyakinkan korbannya sedikit agak berbeda dengan penipu lokal nusantara. Dia justru seringkali menolak penempatan investasi yang dinilai relatif dalam jumlah banyak. Dia tak mematok bunga terlalu tinggi. Dia ingin memberi kesan kepada calon korban bahwa dirinya tak sembarangan menawarkan investasi. Walaupun pada akhirnya yang ditolak tersebut menanamkan investasi jauh lebih banyak. Jauh lebih percaya.

Sedangkan di Indonesia, korban penipuan investasi lebih banyak berasal dari warga biasa, jika tidak ingin dikatakan warga ambang batas garis kemiskinan, yang berharap mendapatkan sesuatu tanpa perlu banyak bekerja. Mengangkat derajat hidup. Manusia membantu manusia. Tidak sedikit para investor adalah karyawan level rendahan biasa yang bosan hidup ala kadarnya. Alih-alih mendapat rejeki, akhirnya mereka justru gigit jari.

Tak jarang juga Engkoh Cicik pemilik uang bejibun menjadi korban. Namun bukan saja tergiur karena bunga tinggi. Lebih sering mereka tergiur janji manis lainnya: “Tanpa Pajak”. Cara berinvestasinya pun dibuat mudah dan seringkas mungkin: Tarik deposito, masukkan lagi ke rekening tabungan atas nama perusahaan investasi yang tercatat pada bank yang sama atau bank yang berbeda. Lalu, bukti transfer atau pindah buku dianggap bukti investasi. Mudah bukan?

Tanpa dipotong pajak? tentu saja. Bunga tinggi? Ya! Maka, sang Engkoh pun bernyanyi dalam hati: “subidub bidup..cuan cuan cuan” dan si Cicik tersenyum berseri-seri.

Tipuan Yang Disodorkan Secara Jujur

Jika dicermati, salah satu model bisnis yang mudah tumbuh adalah model bisnis semacam MLM dengan tanpa kejelasan bisnis utama peraup labanya. Tanpa produk yang jelas dan mengutamakan ajakan menjadi anggota. Biasanya mereka akan memunculkan satu role model yang sukses. Punya rumah besar, suami ganteng, giginya putih, masa lalunya ibu rumah tangga biasa, dan bisa disentuh, diraba, tepuk tangan bersama, teriak bersama. Menjual mimpi tanpa henti.

Hebatnya lagi, beberapa model bisnis semacam ini secara nyata memplokamirkan diri bahwa usahanya sebagai usaha dengan skema ponzi. Coba saja ketik “mmm” lewat google. Tertulis dengan jelas: “Ponzi Scheme Company“. Lantas dalam berbisnis model ini ada pihak yang menamakan dirinya Mavrodi. Siapa sih dia? silakan ketik saja. MMM yang konon  pendirinya baru saja berganti nama menjadi Local Wisdom Nusantara mengakui bahwa model bisnis yang ditawarkan adalah investasi dengan skema ponzi. Rupanya jauh-jauh hari mereka telah antisipasi bahwa jika akhirnya ada yang melaporkan mereka ke pihak polisi dengan, misalnya pengenaan delik penipuan, mereka dengan mudahnya berkata:

“Menipu apa? sejak awal kami bilang bahwa kami mengajak menjadi anggota dengan skema ponzi? siapa yang menipu? Bukankah kami bicara apa adanya?”

Akhirnya, kembali lagi: para anggota yang memiliki potensi risiko terbesar untuk rugi. Harapan keuntungan dan kemakmuran yang menjelma bumerang. Sudah bukan lagi zamannya “bagai membeli kucing dalam karung”, melainkan “bagai membeli aroma kucing dalam karung”.

Apa yang seharusnya dilakukan?

Pakar keuangan zaman sekarang selalu bilang: “Menabung pangkal kaya itu masa lalu. Dengan bunga tabungan yang sedemikian kecil maka sejatinya nilai dalam uang tabungan kita menyusut. Harga barang naik. Inflasi. Kita merugi”. Lalu berduyun-duyunlah seruan ” Mari investasi”. Kita mengenal Bapak Garpu, Nyonya Tinjuan Lo Apa, Om Hari Lebaran yang selalu siap membantu. “Investasi adalah sebuah langkah cerdas!”, kata mereka. Benar! Tetapi investasi macam apa dulu? Tinjuan Lo Apa dulu?

Jika seorang rentenir menghilang. Siapa yang rugi? Dengan pengenaan bunga mencekik leher, Pokok plus bunga, embok yang beranak dan anaknya jadi embok dan melahirkan anak lagi menjadikan uang pinjaman untuk beli motor mengharuskan kita menjual rumah untuk melunasinya. Rentenir kabur, warga riang gembira. Lantas bagaimana jika pengelola investasi kabur? Celaka! Warga heboh! Itulah bedanya. Penghimpunan dana tidak sembarang pihak boleh melakukannya. Bahkan sumbangan RT/RW pun perlu izin. Hal ini semata-mata untuk memastikan ketertiban umum dan melindungi warga. Menyangkut hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu menghimpun dana perlu izin dan diawasi.

KIta tahu bahwa bank, asuransi, perusahaan pembiayaan diberi izin dan diawasi oleh OJK. Koperasi diawasi anggotanya dan kementrian koperasi. Sedangkan MLM dan metode bisnis penjualan langsung lainnya diawasi oleh Kementrian Perdagangan. Investasi langsung dan permodalan dari luar negeri diawasi BKPM. Investasi perdagangan emas oleh Bappebti.  Semua ada caranya. Semua ada izinnya. Semua ada yang mengawasi. Pada pokoknya, lembaga tersebut beri iIzin, awasi, dan jika perlu beri sanksi.

Maka apabila anda ragu apakah model bisnis yang ditawarkan teman-lama-yang-jarang-bersua-lalu-datang-tiba-tiba-sembari-menjanjikan-anda-lekas-kaya itu merupakan investasi abal-abal, jangan ragu untuk bertanya pada lembaga pengawasan resmi. Toh, sekarang semuanya serba canggih. Jangan hanya canggih membully, tapi juga canggih untuk bertanya soal investasi. Malu tersesat, bertanyalah di jalan. Ingin cara paling mudah? kirimkan surat elektronik ke instansi tersebut atau carilah nomor kontak suara. Tidak digubris, kirim sekali lagi dan tembuskan pada Ombudsman. Dijamin surat anda akan ditanggapi. Jika perlu, cobalah sesekali hubungi Kontak Suara 021.500-655 atau email ke waspadainvestasi@ojk.go.id. Investasi apapun halal untuk ditanyakan.

Apakah saat bertanya pada lembaga pengawas pasti mendapatkan jawaban? Tergantung pertanyaan anda. Bertanyalah secara ringkas, misalnya: “Apakah penawaran bisnis investasi PT. XYZ telah memperoleh izin? Jika iya, dari lembaga apa?”. Kira-kira jawabannya akan seperti ini : “Perusahaan XYZ sejauh penelitian kami, belum pernah mendapatkan izin melakukan pengelolaan investasi dari instansi berwenang. Titik”. Apa artinya? Berarti, usaha yang dilakukan XYZ ilegal dan tidak diawasi. Perusahaan yang tidak jelas jenis kegiatan usahanya, underlying bisnisnya, mekanisme kerjanya, laporan keuangannya, dan hal lainnya yang diperlukan sebelum kita berinvestasi, lebih baik jangan didekati.

Bagaimana? apakah anda ingin berinvestasi? Jika uang anda tergolong pas-pasan, saran kami lebih baik untuk jalan-jalan ke Larantuka saja. Dan ingat satu pesan kami: “Lupakan Florence Sihombing, Mari kita berinvestasi.” Eh ralat, karena ini hari Sabtu akan lebih baik jika kami ganti judulnya menjadi: “Lupakan Florence Sihombing, mari kita tarik selimut lagi…”

Dear Para Penulis Surat Terbuka

 

Duhai para penulis surat terbuka yang berhati mulia lagi budiman,

 

Please stop. Saya bosan.

Tadinya saya tak ingin menulis ini, tapi saya sudah sangat lelah. Saya berdoa semoga kalian bisa berhenti menjadikan saya ujung tombak perjuangan kalian. Namun entah berapa puluh halaman lagi yang akan kalian tulis tahun ini. Mungkin kalian berpikir kalau segala gerakan sosial yang kalian canangkan tidaklah lengkap kalau belum ada saya, Surat Terbuka, dan kawan saya si Petisi Online.

Dulu saya pernah merasa jadi bagian dari sejarah. Dulu kehadiran saya begitu ditunggu, tidak seperti sekarang. Seperti ketika Martin Luther King Jr. yang mengirimkan surat dari balik penjara Birmingham. Menekankan kalau masyarakat kulit hitam Amerika tidak sendirian; ia akan terus menyemangati dan berjuang bersama mereka melawan diskriminasi ras. Atau, ketika di penghujung abad ke-19, Emile Zola menjadikan surat terbuka sebagai medium untuk mengecam presiden Perancis kala itu yang dianggap mendukung anti-semitisme.

Namun sayang, saat ini saya tak ubahnya sekadar sarana onani intelektual dan ego kalian. Tahun lalu, seorang Sinead O’Connor mengirim surat terbuka ke Miley Cyrus karena hal yang begitu remeh. Dan tahun ini bahkan ada gerakan “Mari Beramai-ramai Menulis Surat Terbuka Untuk Capres Nganu” di Indonesia. Duh. Saya sadar, sekarang ini jamannya keterbukaan (kurang terbuka apalagi? saat ini segala hal private dengan senang hati diunggah ke media sosial) tapi kenapa harus selalu surat terbuka, sih? kalau tidak suka kenapa tidak datangi saja langsung? kalau tidak setuju, kenapa tidak balas saja argumennya? atau tulis saja opini, biar jelas. Tidak perlulah bahasa yang disopan-sopankan dan mengiba-iba seperti ini, duhai Puan dan Tuan. “Teruntuk Pak Prabowo macan Asia yang saya percaya baik hatinya…”, apa itu?!

Tidak perlu juga terus berlindung di balik metafor-metafor apalagi frasa usang “vox populi, vox dei” kalau representasi rakyat yang kalian maksud ya rakyat dunia maya. Yang memberi ilusi kalau kalian sudah benar-benar berjuang sampai titik darah penghabisan, dan sudah tak ada lagi yang bisa kalian lakukan selain menulis panjang-panjang kemudian mengunggahnya ke blog, lalu di-retweet oleh puluhan ribu followers, lalu kemudian di-reblog, dan akhirnya dikutip media-media online yang lebih mengandalkan screencaptures ketimbang verifikasi ke narasumber; barulah kalian merasa kalau perjuangan kalian paripurna. (Saya yakin seyakin-yakinnya, mereka yang dikit-dikit mengirim surat terbuka itu pasti orang-orang yang sama yang ketika complaint di Twitter, wajib hukumnya menggunakan fitur manual retweet atau membubuhkan tanda titik di depan username orang/brand yang dituju, biar apa? ya biar semua orang tau!)

Kalian bebas, kok, beropini, bebas juga menganggap kalau mengirim surat terbuka itu bagian dari perjuangan. Ndak salah. Toh semua orang memang punya Messiah Complex. Ingin jadi juru selamat bagi sesama, walau mungkin kadarnya beda-beda. Tapi, Tuan dan Puan, kita harus ingat kalau Indonesia ini juga dibangun dari darah dan keringat orang-orang yang tidak diakui jerih-payah dan gagasannya; Amir, Sjahrir, & Tan Malaka. Mereka yang berpikiran terbuka, yang tak perlu sering-sering menulis surat terbuka. Mereka yang tidak perlu pengakuan, tidak perlu validasi atas segala hal yang dipercayai benar dan terus berjuang walau diasingkan tanpa “followers”. Seperti Gandhi yang tak perlu bikin pengumuman ketika ia mengirimkan Hitler surat demi mencegah terjadinya perang dunia.  

Mungkin, sebelum menulis surat terbuka, ada baiknya kita semua bertanya dulu pada diri sendiri. Apa dunia akan kiamat kalau saya tidak menulis surat terbuka? Apa saya Madiba? Apa Gandrasta Bangko ratu Inggris? Kalau jawabannya ‘ya’, silakan ulangi terus tiga pertanyaan tadi sampai delusi kalian berkurang. Dan, kalau jawabannya ‘tidak’, mungkin hasrat ingin menulis kita bisa dialihkan untuk menulis surat lain yang punya peran nyata buat masa depan; surat cinta, misalnya. Karena percayalah, Tuan dan Puan, di dunia ini tidak ada revolusi yang dicapai dengan hanya bermodal jempol. 

Tabik,

Surat Terbuka

 

(Kami hanya melayani komentar atau kritik dalam bentuk surat terbuka yang kemudian akan di-tweet, retweet, blog, reblog, path, repath, lalu dibalas lagi dengan surat terbuka, dan begitu seterusnya; atau hanya kalau Prabowo jadi presiden.)

Mau Nonton Apa?

Sebut saja dia mbak XY.

Usianya mungkin sekitar 22 tahun. Tidak mungkin lebih tua, karena dia masih berlari lincah setelah turun dari busway. Seperti pekerja metropolian seusianya, dia sering kesal melihat macet. Kekesalan itu tak berlangsung lama. Paling tidak sudah mereda saat masuk parkiran mall sebelum jam buka. Dia berjalan melenggang ke lift yang membawanya ke lantai paling atas di mall ini. Sambil memainkan hape dengan cekikikan tanpa melihat sekeliling, dia keluar lift menuju ruangan yang luas. Dengan penuh keyakinan , dia masuk ke sebuah pintu dengan tulisan “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk“.

Jelas-jelas dia punya kepentingan. Sangat penting malah. Saking pentingnya, dia pun perlu mentransformasi dirinya sedemikian rupa. Dalam beberapa jam, pintu pun dibuka, dan … oh la la!

Mbak XY kini tampil anggun dengan cepolan sanggul yang terikat rapi di atas kepala. Lipstik merah di bibir serasi dengan riasan muka yang menambah usianya. Mbak XY tidak lagi jalan sambil cekikikan. Langkahnya santai. Dia tahu arah yang dituju. Sesekali dia menyapa rekan-rekan kerjanya, baik yang berbaju biru gelap maupun berseragam putih. Dia menuju meja panjang di sebuah sudut. Setelah duduk, dia menyalakan komputer, printer, lalu mengangkat tulisan “Closed”. Sambil tersenyum, dia berkata:

Selamat datang. Mau nonton apa?

Ya, mbak XY dan teman-teman seprofesinya yang tersebar di seluruh penjuru bioskop di seluruh dunia ini adalah orang pertama yang menentukan nasib kita dalam 2-3 jam ke depan. Apalagi kalau anda termasuk orang yang belum tahu mau nonton apa, dan baru memutuskan mau nonton apapun yang ada di bioskop saat itu. Misalnya:

Selamat datang. Mau …

“Uuuhh … Guardians of the Galaxy itu film apa ya, mbak? Kok kayak kartun tapi ada orangnya gitu? Kalo Grace of Monaco itu apa ya, mbak?”

Ini jawaban dari mbak XY: “Guardians itu film action komedi, banyak visual effect. Kalo Grace film drama.

Jawaban yang cukup netral, dan tidak menyesatkan. Atau mungkin anda sudah tahu apa yang mau anda tonton, tapi teman atau pasangan anda ragu-ragu.

The Great Gatsby yuk. Leonardo DiCaprio tuh.”

“Aaahh film apaan? Sejarah minyak rambut? Ogah. Kaya jadul gitu. Mending Fast & Furious.”

“Yaelah, bukannya kemaren udah nonton?”

“Ya gak papa. Filmnya lebih jelas lah, kebut-kebutan. Daripada judulnya gak familiar?”

Dan ujung-ujungnya, “Mbak, kalo Fast & Furious yang jam 7 malem, masih ada? Kalo gak ada, yang jam 9 deh. Kalo gak ada juga, The Great Gatsby aja, tapi jangan yang kemaleman. Dan kalo bisa duduknya di pojok, tapi jangan terlalu ke belakang.”

Ini yang dilakukan mbak XY:

  • tetep senyum
  • klik jam tayang film di depan customer
  • bilang, “Yang merah terisi, yang hijau masih kosong”, dengan nada suara otomatis
  • mungkin dia menjerit dalam hati “Yang ngantri masih panjang, cepetan milihnya, hadeeuh!”

Atau mungkin dia tidak berkomentar apa-apa selain, “Tiketnya harap dicek kembali, ya. Terima kasih, dan selamat menonton.”

Maklum, kalau dalam sehari ada 5 kali jam pertunjukan di masing-masing studio, katakanlah ada 4 studio di satu bioskop yang kapasitas kursi di tiap studio sekitar 150 kursi, berarti mbak XY dan teman-temannya harus berhadapan dengan sekitar 1.000 orang. Itu kalau tiap orang rata-rata beli 3 tiket.

Kalau 2 tiket? Ya makin banyak orang. Dan itu berlangsung setiap hari. Mungkin sebelum sempat kesal, udah keburu ada orang lain yang ngantri di belakang. Terlebih lagi, meja kerja mbak XY ini tidak boleh tidak beroperasi. Kalau mbak XY kebelet ke kamar kecil, ya ada loket lain yang harus buka. Kalau break makan, ada rekan lain yang akan menggantikannya.

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Lalu kapan mbak XY nonton? “Ya kalo lagi off, mas. Sama aja, pake tiket, ngantri dari depan. Cuma ya kita udah tau lah mau nonton apa, hahaha.” Kerja tiap hari di bioskop, gak bosen emangnya nonton di bioskop? “Ya ke bioskop lain, mas. Tapi kadang nonton juga di sini. Kan enak ya, udah kenal sama temen-temen sendiri. Kalo bosen, ya nggak juga sih, mas. Kan filmnya ganti terus tiap minggu. Filmnya beda-beda gitu, ya gak pernah bosen lah.”

Somehow, her answer restores my faith in cinema, again. Jawaban yang terdengar dewasa dari usianya, mungkin karena tuntutan profesi juga, membuat saya makin percaya bahwa mbak XY dan rekan-rekannya adalah garda depan pengalaman menonton kita. Dari ujung jarinya, dia bisa membantu kita menentukan pilihan yang berujung kalau gak jadi seneng ya jadi bete. Dari tutur katanya, kita bisa tahu mana film yang rame, mana film yang sepi penonton. Dari pengalaman berinteraksi dengan ratusan sampai ribuan orang sehari, dia sudah bisa membaca karakter orang hanya dengan penglihatan sepintas saat mereka antri. Sesuatu yang mungkin layak untuk dianalisa mendalam, tapi tidak di ranah yang ringan ini.

Kalaupun ada yang mengancam kehadiran mbak XY, mungkin bisa jadi kehadiran online ticketing. Orang-orang seperti saya dan anda yang sudah tahu mau nonton apa, di mana dan jam berapa, pasti senang sekali dengan fitur human-less interaction ini. Apalagi ini hari Kamis, banyak film baru yang mulai keluar di bioskop hari ini. Pasti pengen buru-buru check jadwal bioskop deh selesai baca tulisan ini. Tapi beda lho rasanya disapa langsung dengan:

“Selamat datang. Mau nonton apa?”

Jilboobs dan Mental Pengecut

Barangkali hanya ada tiga jenis manusia yang benar-benar “peduli” dengan para pelaku Jilboobs. Pertama, mereka yang kurang kerjaan dan menyangka punya pemahaman lebih tinggi, sehingga merasa pantas mengomentari orang lain. Mereka gerah dengan para pelaku Jilboobs yang dianggap melanggar ketentuan berpenampilan dikaitkan seruan ibadah. Padahal, urusan itu merupakan ranah pribadi antara si pelaku dan Tuhannya, bukan untuk diintervensi sesama manusia.

Kedua, para wanita yang merasa terganggu–risi, insecure, atau diam-diam malah iri–dengan fitur fisik orang lain karena kelewat gampang menarik perhatian. Tidak jarang sikap ini disebarluaskan berupa cibiran dalam pertemuan-pertemuan informal; saat berkumpul di gerobak tukang sayur, ketika arisan, dan sebagainya.

Terakhir adalah mereka yang syahwatnya bangkit karena Jilboobs. Bukan hanya mereka yang ngaceng (straight ataupun bukan) ketika melihat tonjolan payudara dan pantat yang tampak menantang dan menggelisahkan dalam balutan pakaian kencang, bahkan ada yang tegang hanya gara-gara mendengar dan membayangkan arti kata boobs itu sendiri. Lantaran tidak ada yang bisa menjamin isi pikiran seseorang, termasuk efek yang ditimbulkan kala membayangkan/melihat/mendengar/menyentuh/mencium sesuatu. Apapun itu.

Sumber: google

Sumber: google

Meskipun bermasalah terhadap Jilboobs dengan alasannya masing-masing, tapi ketiga jenis manusia di atas sama-sama menempatkan perempuan ber-Jilboobs sebagai sumber masalah. Tanpa dikomando, mereka semua sepakat bahwa perempuan harus menutup penampilan serapat-rapatnya, terutama dari pandangan laki-laki. Ya, walaupun ujung-ujungnya tetap bermuara pada persoalan tegangan di selangkangan juga.

Di sisi lain, ada beberapa kondisi yang menyebabkan perempuan berjilbab menjadi ber-Jilboobs. Ada yang secara sadar dan sengaja memodifikasi penampilan, hingga akhirnya menjadi pusat perhatian. Bisa jadi mereka memang lebih percaya diri tampil dengan pakaian ketat, sebagai upaya untuk menunjukkan betapa ideal tubuh yang mereka miliki atau betapa fashionable-nya selera mereka berpakaian. Mereka juga senang dipuji, terutama dari sesama perempuan sebagai bentuk keunggulan ego, entah mengenai pilihan busananya maupun bentuk dan gerak-gerik tubuhnya.

Lebih jauh lagi, tidak mustahil ada yang ber-Jilboobs karena merasa lebih seksi. Sebab tak sedikit foto para pelaku Jilboobs yang menunjukkan bahwa mereka terkesan sengaja berpose sedemikian rupa, menonjolkan bagian tubuh tertentu dengan aneka penekanan dan aksi gaya. Misalnya dengan “S Shape”, alias membusungkan dada dan mendongakkan pantat, dan aneka pose lainnya. Bagaimanapun juga, itu hak mereka.

Namun jangan lupa, tak sedikit perempuan yang akhirnya dituding ber-Jilboobs padahal mereka tidak sengaja mengkondisikan hal itu terjadi.

“…Badan saya gemuk, jadi kalau pakai baju pasti ketat,” (regional.kompas.com, 12 Agustus).

Belum lagi predikat Jilboobs yang diberikan secara membabi-buta kepada perempuan berjilbab di tempat gym maupun kolam renang. Karena bagaimanapun juga, aktivitas olahraga yang mereka lakukan akan lebih efisien dengan mengenakan celana spandex plus kaus berlengan panjang yang tidak mudah berkibar, atau kostum renang yang memang seharusnya ketat.

We don’t give a sh*t.” Kalimat itu spontan terlontar, saat ditanya mengenai cara pandang Buddhisme mengenai fenomena Jilboobs.

Jawaban itu memang terdengar kasar, tak simpatik, dan jauh dari nuansa bijaksana. Namun pada dasarnya, “ketidakpedulian” memang diperlukan untuk melihat dengan apa adanya. Sehingga dapat diikuti dengan respons dan tindakan yang sepatutnya.

Secara umum, kebanyakan orang ternyata lebih nyaman menyalahkan orang lain ketimbang mengurusi diri sendiri. Soal Jilboobs, kebanyakan orang lebih fokus meributkan apa yang mereka lihat ketimbang memahami cara mereka melihat.

“Berbusana ini soal sikap. Sikap yang baik membawa seseorang menjadi baik dan sukses, begitu pun sebaliknya. Bagaimana mau dihargai, jika berbusana saja tidak baik,” Asli Nuryadin, Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda (Kaltim Post, 22 Agustus).

Pernyataan di atas seolah-olah menunjukkan bahwa tidak semua manusia pantas dihargai. Terlebih untuk para perempuan ber-Jilboobs, yang seakan disamaratakan dengan perempuan pemakai rok mini, tank top, dan pakaian berbahan minim sejenis, yang lebih lebih dulu kebagian jatah dipandang dan diperlakukan buruk.

Buddhisme menekankan bahwa kontak indera (phassa) menimbulkan perasaan (vedanā) menyenangkan/tidak menyenangkan. Padahal kontak indera dan perasaan adalah dua proses yang terpisah. Lalu, perasaan akan memunculkan bentuk-bentuk pikiran (saṅkhāra), dan bermuara pada kemelekatan serta memunculkan kehendak. (Disclaimer: Prosesnya tidak sesederhana ini, karena terdiri dari rangkaian proses psikologis yang cukup njlimet.)

Dalam kasus Jilboobs maupun pakaian minim, bisa ditebak dong bentuk-bentuk kehendaknya apa saja. Ada yang benci, ada yang pengin colek, ada yang berpikiran mesum (bahkan dijadikan bancol!), ada yang berani melakukan pelecehan verbal maupun seksual entah dengan alasan khilaf, tak tahan, atau merasa “diundang”, dan sebagainya. Bagi penganut Buddhisme, semua kehendak tersebut menyebabkan kamma/karma. Mekanisme sebab-akibat yang berjalan otomatis. Bila tindakan buruk (lewat pikiran, ucapan, perbuatan) terjadi, yang patut disalahkan tetaplah sang pelaku. Bukan korban, bagaimanapun kondisinya. Toh, se-slutty apapun penampilan seorang perempuan, bukan pembenaran untuk melakukan perkosaan, bukan?

“Bagi beberapa orang, kontak (ketika indera dan objek bertemu) merupakan suatu yang menggairahkan. Dengan demikian mereka terbawa arus dumadi, hanyut di sepanjang jalan kosong tanpa tujuan…”

“Tetapi ada orang-orang lain yang sampai pada pemahaman tentang aktivitas indera… Mereka hanya melihat sebagai kontak saja, dan dengan demikian nafsu keinginan mereka pun berakhir. Mereka mewujudkan ketenangan total.”

(Dvayatanupassana Sutta/Khotbah tentang Asal Mula dan Penghentian: 736-737)

Jilbab–dan pakaian pada umumnya–memang bertujuan untuk menutup tubuh dengan sedemikian rupa. Perempuan memang seharusnya menjaga inderanya pula. Hanya saja, para pria juga wajib berani memegang kendali penuh atas semua tindakannya. Sayang, dalam dunia yang masih dipenuhi nuansa maskulinitas tanpa pengimbang ini, banyak yang beranggapan bahwa ledakan syahwat akibat balutan pakaian itu wajar. Menjadi pengecut untuk mengatakan “tidak!” pada diri sendiri, agar tak berbuat yang tercela. Salah satu contohnya, angka kejahatan seksual di dalam armada Transjakarta masih marak terjadi. Entah sekadar menggesek-gesek pelir ke bagian belakang tubuh korban, atau sekalian memperlihatkan barangnya (padahal enggak bagus-bagus amat).

Tidak ada yang berbeda antara perempuan dan laki-laki dalam rangkaian kontak indera hingga pemberian respons, selain onderdil dan tampilan saja. Seyogianya tidak ada inferioritas-superioritas, dan keduanya harus sama-sama mampu mengatasi kemelekatan dan mengendalikan tindakannya. Bukan lantaran takut ngaceng seketika, lantas anti setengah mati dengan lekukan bodi.

Parahnya lagi, banyak pria yang memiliki standar ganda dalam urusan Jilboobs. Apabila sang pemakai jilbab cantik dan memang memiliki postur tubuh ideal, para pria mah diam-diam menikmati. Malah berusaha mendekati. Tapi kalau yang ber-Jilboobs, maaf kata, tidak cantik dan memang kebetulan berbadan besar sehingga tak bisa menyembunyikan tonjolan tubuh kecuali menggunakan kain ekstralebar, para pria juga bisa mencibir macam lidah pedas ala tante-tante. Kok saya tahu? Lah, kan punya telinga.

Pendekatan lain, Buddhisme juga menekankan bahwa segala sesuatu terbentuk dari gabungan unsur-unsur. Termasuk manusia, baik yang ber-Jilboobs maupun yang melihatnya sebagai sebuah masalah. Alih-alih terangsang atau terganggu saat melihat seseorang yang ber-Jilboobs, seorang Buddhis melihat dan menyadari bahwa yang bersangkutan hanyalah kumpulan dari atom, sel, darah dan pembuluhnya, syaraf, daging dan otot, tulang dan gigi, organ dalam tubuh, kelenjar, lubang, rambut, dan lain-lain hingga akhirnya ditutup dengan kulit. Bahkan kulit/tubuh pun masih harus dibungkus dengan pakaian (yang lagi-lagi merupakan gabungan beragam unsur) agar terlihat lebih indah. Buktinya, banyak pantat dan paha yang terlihat montok berisi ketika dibalut jeans ketat, membangkitkan nafsu alamiah. Namun begitu dibuka, tetap menampilkan selulit dan lemak yang tak sanggup melawan gaya gravitasi. Dengan melihat secara apa adanya dan tidak peduli dengan ilusi perasaan yang muncul, seseorang akan menghindari terjadinya kemelekatan dan mampu bersahabat dengan waktu dan perubahan. Seperti seorang teman, perempuan, cantik pula, yang woles saja ketika harus mencukur habis rambutnya kala menjalani latihan rohaniwan akhir Juli lalu.

Sumber: dokumen pribadi. (Foto ini ditampilkan atas persetujuan yang bersangkutan.)

Sumber: dokumen pribadi.
(Foto ini ditampilkan atas persetujuan yang bersangkutan)

 

“Awalnya ragu, setelah itu sadar, aku sendiri suka menderita karena kemelekatanku sama rambutku. Jadi aku mau belajar melepas (perasaan dan kemelekatan) walaupun pelan-pelan…”

Itu sebabnya pula, tubuh telanjang sampai fase pembusukan jenazah merupakan salah objek meditasi dalam Buddhisme. Bukan untuk urusan mistis aneh-aneh, melainkan untuk menyadari bahwa pada akhirnya, tubuh akan rusak, membusuk, menghilangkan keindahan yang sebelumnya mudah bikin tegang. Jadi jangankan Jilboobs, ketelanjangan total pun dianggap biasa saja.

Bisa menjadi konklusi, bahwa kecintaan sekaligus kebencian terhadap jilbab maupun Jilboobs adalah bentuk kemelekatan. Kemelekatan, berujung pada ketidakpuasan. Ketidakpuasan, itu yang bolak-balik disampaikan Buddha dalam ajarannya sebagai sumber sekaligus bentuk penderitaan.

Jadi, beranikah Anda berhadapan dengan Jilboobs dan bersikap sewajarnya? Bila Anda bertemu dengan mereka yang berpenampilan seperti itu, buat apa repot? Mereka juga tidak memaksa Anda untuk berpenampilan serupa.

Tenang saja, masih banyak juga kok umat ber-KTP Buddha, tapi kelakuannya masih sama.

Meskipun ini bukan tulisan seorang perempuan, pun bukan seorang muslim, semoga tetap bisa memberi manfaat.

[]

Ember Air Es Seharga 80 Juta Dollar

Seorang George Bush (junior), mantan Presiden Amerika Serikat, diguyur air es seember oleh Laura, istrinya, dan diunggah ke di situs video Youtube demi sebuah kampanye atas nama amal–lalu apa reaksi anda? Saya sih tertawa. Lumayanlah hiburan ringan di tengah stagnannya linimasa. Tapi ketika George Bush menantang Bill Clinton untuk melakukan hal yang sama dan kedua orang lainnya dan begitu seterusnya–maka apa yang akan terjadi? Saya mulai berpikir ini akan menjadi semacam “virus baik” yang akan menyebar ke semua lini. Di linimasa setidaknya.

Lalu ada seorang Mark Zuckerberg menantang Bill Gates untuk melakukan hal yang sama. Jeff Bezos, pentolan dari Amazon menantang idola masa kecilnya dalam film Star Trek. Mewakili dari musisi ada Eddie Vedder yang menantang Bruce Springsteen dan salah satu personil dari One Direction (tentu saja atas permintaan anaknya). Ada Liam Gallagher dari Oasis menantang kakaknya sendiri Noel Gallagher. Lalu ada pula Gwyneth Paltrow–yang baru saja secara sadar bercerai–menantang mantan suaminya sendiri, Chris Martin, vokalis band Coldplay. Atau Jose Mourinho yang menerima tantangan dari Didier Drogba dan balik menantang James McAvoy. Masih banyak daftar dari seleb yang mengikuti Ice Bucket Challenge ini (sebagian kecil saya unggah videonya di akhir tulisan).

Ice Bucket Challenge ini terlihat sepele. Lucu-lucuan. Seru-seruan. Hal yang biasa terjadi di dunia maya lalu kita semua akan melupakannya. Slacktivism. Tapi apakah Ice Bucket Challenge ini ada dampaknya?

Tercatat dalam jangka waktu kurang dua bulan (sampai tanggal 25 Agustus menurut Time) sudah terkumpul hampir 80 juta dolar uang untuk donasi penyakit ALS. Ketika anda membaca tulisan ini mungkin sudah bertambah banyak. Bandingkan dengan donasi yang diterima tahun lalu yang “cuma” sebesar 2.5 juta dolar dalam periode yang sama. Adakah sebelumnya kampanye yang sefenomenal ini?

Apa sih Ice Bucket Challenge itu?

Ice Bucket Challenge adalah sebuah kampanye yang dalam rangka meningkatkan kewaspadaan kita (sekaligus agar kita ikut berdonasi kalo mau) terhadap penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) atau yang lebih dikenal dengan penyakit Lou Gehrig. Nama penyakit ini diambil dari nama Lou Gehrig, seorang pemain baseball kenamaan dari Amerika Serikat yang aktif bermain untuk New York Yankees di awal tahun 1920an sampai akhir 1930an yang terjangkit penyakit ALS. Mungkin Lou Gehrig ini semacam Rock Hudson atau Freddie Mercury kalo di penyakit AIDS. Contoh lain dari seleb yang terkena penyakit ALS dan masih hidup ini adalah Stephen Hawking.

Entah siapa yang pertama memulai Ice Bucket Challenge ini. Tantangan yang sederhana bahkan terkesan biasa saja. Mempermalukan diri sendiri dengan merekam dirinya sedang diguyur air es lalu videonya diunggah ke Youtube, Facebook, Twitter dan Instagram atau situs media sosial lainnya. Lalu mereka yang melakukannya harus menantang tiga orang lainnya. Mirip seperti di film Pay It Forward yang dibintangi Kevin Spacey, Helen Hunt dan Haley Joel Osment. 

Konon ini bermula di Selandia Baru di semester pertama tahun 2014. Lalu mulai berpindah ke Amerika Serikat setelah NBC, di pertengahan Juli 204, melalui The Today Show yang menyiarkan Ice Bucket Challenge secara langsung. dengan Matt Lauer, pembawa acaranya, sukarela menjadi korbannya. Boleh gak sih nolak tantangannya? Boleh tapi anda harus donasi seratus dollar ke ALSA.org. Itu terjadi pada Barack Obama yang menolak tantangan dari Justin Bieber dan LeBron James. Begitu pula David Cameron yang menolak tantangan dari Russell Brand. Ada Pamela Anderson juga dan Grimes yang menolak dengan alasan tertentu.

Kritik

Kenapa sih harus penyakit ALS? Masih banyak kok penyakit yang belum ada obatnya. Menurut CDC, penyakit jantung, kanker atau alzheimer itu jauh lebih banyak menimbulkan korban jiwa setiap tahunnya daripada ALS. Kenapa tidak penyakit Ebola yang jelas-jelas itu korbannya sudah seribu orang lebih meninggal di tahun 2014 saja. Apa karena Ebola korbannya kebanyakan orang Afrika dan virusnya menyebar di Benua Afrika? Terus sebetulnya siapa sih yang diuntungkan dengan adanya dana yang berlimpah ini? Apakah penyakit ALS ini akan ditemukan obatnya? Kalau iya berarti yang enak perusahaan farmasi besar itu dong yang akan menikmati hasilnya?

Ah, tapi slacktivism itu memang selalu menuai kritikan, cibiran atau nyinyir kalau kata anak muda sekarang. Sebagus apapun isinya. Sekeren apapun penyampaian pesannya. Siapapun pengirim pesannya. Yakan?

POSISI BINTANG LAUT

Waktu itu bertepatan dengan hari Mahkamah Konstitusi mengumumkan hasil gugatan pemilu presiden, aku diminta menulis di situs ini. Temanya terserah. Deadline dibagikan mingguan. Aku pilih soal gaya hidup dan sex dan hari Senin.

Senin karena biasanya hari minggu ndak terlalu banyak kegiatan. Gaya hidup dan sex, bukan berarti aku tau banyak soal ini. Tapi, aku bisa menikmati sekaligus membuatnya jadi berguna. Berguna untukku. Kalau ternyata berguna untuk orang lain, aku pastikan itu hanya kebetulan belaka. Seluruhnya terinspirasi dari orang-orang terdekat. Kawan-kawan yang mau membagikan kisahnya. Lingkungan yang tiba-tiba membeberkan semuanya. Bisa jadi ini tidak berkaitan sama sekali. Atau bahkan baru saja terjadi dalam kehidupan seseorang. Lalu akan aku kisahkan ulang dari sudut pandang pribadiku. Tanpa campur tangan norma, agama, tekanan sosial dan tata-krama. Seperti yang berikut ini…

Empat dari sepuluh orang bilang hubungan sexnya memburuk setelah dua tahun pernikahan. Sisanya percaya baik-baik saja. Suami dari tiga diantaranya berselingkuh. Dan, tujuh dari sepuluh mengaku pernah dalam posisi bintang laut. Statistik kasar ini aku ambil dari hasil wawancara dengan rekan kerja, kawan makan siang, dan suami-suami yang aku tiduri.

starfish

Persis seperti bintang laut. Terlentang pasrah tanpa banyak bergerak. Yang penting lawan sex puas. Bisa dialami suami maupun istri. Juga pasangan belum menikah dan sex komersial. Sebagian besar alasannya karena males. Sebagian kecil ndak mood, sakit, malu, ndak cinta lagi, bosen, pelacur amatir. Lebih kronis lagi, banyak yang anggap posisi bintang laut baik-baik saja. Normal dalam tiap tahap hubungan. Sementara prinsip dasar hubungan sexual adalah: timbal balik.

Tanpa unsur “saling” sex bisa digolongkan sebagai perkosaan. Pertanyaannya sederhana. Untuk yang beralasan di atas: kenapa melakukan hubungan sex kalau males, ndak mood, sakit, malu, ndak cinta lagi, bosen? Khusus untuk pelacur, silakan minta diskon. Aku ndak akan menuliskan jawabannya di sini. Percuma. Semua lebih bersifat alasan ketimbang jawaban. Pertanyaan selanjutnya: pernahkan hal ini dibicarakan dengan pasangan sex kalian? Tepat, seratus persen menjawab “Ya enggaklah! Gila apa?!

Ini hasil bawaan tabunya sex dalam masyarakat. Bukan hanya pendidikan sex usia muda saja yang disalah artikan. Bahkan komunikasi sexual orang dewasanya ndak jalan. Kebebasan manusia untuk memilih dan menikmati sex terkhianati. Sex sebagai anugerah diredam pada strata naluriah. Gejala alam dan waktu menentukan, macam hewan. Itupun, ketika tiba saatnya ditekan sedemikian rupa hingga nikmat yang dihasilkan setara dengan rasa bersalah yang ditanggung. Jangan campurkan dengan aneka dosa, pengabdian dan pengorbanan supaya tulisan ini ndak jadi omong-kosong.

Untuk ndak bilang posisi bintang laut setara perkosaan, mari kita anggap ia adalah akibat dari tidak hadirnya komunikasi sexual dalam suatu hubungan. Terdengar politis memang. Tapi mau bilang apa lagi? Kenyataan. Kita masih percaya sex bukan untuk dibacarakan. Apalagi di bahas di depan kelas. Di kamar-kamar pengantin barupun sex hanya akan dimulai dengan diam-diam. Grelia tangan yang merangsang tetek berbalas kuluman pelir (hasil konsensus penulis Linimasa untuk kata ganti kontol) berakhir penetrasi. Tetek dan pelir dibiarkan saling komunikasi. Kalau keduanya meregang ya tinggal dilanjutkan. Perempuan yang sudah menikah lebih dari sepuluh tahun juga ada yang belum pernah lihat pelir pasangannya. Jarang ada percakapan membangun pasca sex. Seringnya diakhiri dengan bersih-bersih dan tidur. Kalau satu pihak ada yang mau mulai membahas tentang semalam, pihak lain akan diam. Entah enak atau ndak. Sex cuma tinggal di ranjang. Semua yang berkaitan dengannya di luar ranjang jadi tabu. Lalu, sama-sama diakui sebagai baik-baik aja… Biasa aja ah. Gandrasta berlebihan.

Baiklah, aku tunggu percakapan seperti, “Sayang, ngewe yuk?” sebelum mulai. “Pake jari aja, biar kita sama-sama keluar” saat penetrasi. Dan “kamu apain aku semalem kok memar gini ya?” setelah semua tuntas.

Berlari Sendiri Mengusir Sunyi

Sore itu, Randy sedang pemanasan bersiap untuk berlari di GBK. Mengenakan kaos oblong, celana pendek dan sepatu olahraga Randy tak peduli dengan sekitarnya. Randy pun berlari diantara ratusan warga Jakarta yang melewati sore itu dengan berbagai aktivitas. Diantara para pedagang gorengan, bakso, soto sampai pedagang balon tumpah ruwah. Berlari merupakan olahraga “rakyat”. Hanya lampu petromax pedagang jalanan yang menyoroti. Apalagi sejak tragedi 98, GBK nyaris gulita. Tapi itu dulu.

Dulu sebelum berlari menjadi bagian dari gaya hidup warga Jakarta dari berbagai kalangan. Mulai dari para hipster sampai CEO perusahaan terkenal bahkan konglomerat pun beberapa tahun belakangan ini ikut berlari. Kaos oblong Randy pun mendadak tak lagi memadai. Harus diganti dengan kaos khusus berlari yang bisa menyerap keringat lebih banyak dan ergonomis. Sepatu basket Randy yang tadinya cukup memuaskannya pun harus diganti. Yang sesuai dengan bentuk kaki dan gerakan saat menapak.

Selain penampilan, berlari yang tadinya adalah olahraga individual kini menjadi simbol pemersatu. Terbentuklah beragam club berlari dari beragam latar belakang. Tak kurang dari 50 runners club ada di Jakarta. Sebut saja Jakarta runners Club, Berlari untuk Berbagi, ONP, Cani Runners, Bintaro Runners, bahkan Chubby Runners. Dari yang terbuka untuk semua pelari, sampai yang menentukan prestasi pelari terlebih dahulu sebelum jadi anggota. Kegiatan mereka beragam. Mulai dari rutin berlari di track baru sampai bersama mengikuti race-race yang ada. Bisa dengan mudah terlihat dari disain kaos berlari mereka yang berbeda sendiri.

Lampu sorot kini mengikuti ke mana pun pelari berlari. Semua terpacu untuk berlari lebih cepat dan lebih jauh. Lebih jauh bahkan sampai ke luar negeri. Tercatat New York Marathon, Berlin Marathon, Tokyo Marathon sudah banyak diikuti oleh pelari dari Indonesia. Semua tentu dari sponsor pribadi. Di dalam negeri pun tak kalah hebohnya. Jakarta Marathon, Bromo Marathon, Bali Maraton sampai Rinjani Ultra Marathon. Kalau ingin ikut berlari tapi malas berkeringat banyak dan lebih menganggapnya sebagai kegiatan sosialisasi, tak perlu khawatir. Belakangan mulai banyak “fun run” diselenggarakan. Sebut saja Color Run, Electro Run, dan yang belakangan terdengar adalah The Music Run. Seperti apa lari berekreasi ini, bisa dicari dengan mudah infonya di internet. Keseruan lewat gambar-gambar yang ada bisa jadi membuat semua ingin ikutan.

Kalau lampu sorot dinilai kurang sering, tenang, masih ada beragam media sosial yang bisa membagi pace dan jarak berlari secara otomatis ke semua pengikut. Decakan kagum dan pujian digital pun menjadi bentuk lampu sorot yang bisa didapatkan sehari-hari. Pelaku media sosial pasti banyak yang mengalami kebanjiran postingan rekam jejak lari dari aplikasi macam Nike+, Endomondo, Samsung S Health dan lainnya. Jarak lari, waktu tempuh, pace, sampai foto saat berlari pun bisa dibagi ke semua.Tak berhenti di situ, race digital pun ada. Setiap pelari saling bersaing untuk jarak tempuh yang lebih jauh atau pace lebih cepat dari pelari lainnya yang mungkin tidak dikenalnya dari belahan dunia lain.

Berlari tak lagi sendiri. Tak lagi sunyi. Meriah. Benarkah?

Sejatinya, berlari adalah tetap olahraga individual. Ketika berlari, hanya kaki dan tangan sendiri yang bergerak. Mulut paling terbuka untuk bernapas. Mata melihat ke kanan dan ke kiri dan tak jarang yang menunduk. Walau lari berkelompok, tapi lari tetap sendiri-sendiri. Setiap pelari berhak memikirkan apa pun saat berlari. Masalah pribadi, rumah tangga, pekerjaan dan pemecahannya tak jarang terjadi saat berlari. Bagaimana tidak? Melakukan gerakan yang sama terus menerus dalam waktu yang cukup lama, adalah salah satu bentuk terapi yang menenangkan. Apalagi kalau tanpa bersuara. Ingatkah saat bayi, untuk menidurkan banyak yang ditepuk-tepuk pantatnya cukup lama sampai pulas. Atau mendengarkan suara gemericik air hujan dalam waktu lama. Atau corat coret dengan motif repetitif saat meeting. Atau sekedar berjalan menyusuri tepi pantai yang jauh sambil berdiam diri? Situs http://www.betterhealth.vic.gov.au menyarankan berlari sebagai salah satu terapi untuk OCD, Obsessive Compulsive Disorder.

Terapi yang diberikan saat berlari bisa jadi memang yang amat dibutuhkan oleh warga Jakarta (yang nulis orang Jakarta jadi taunya cuma Jakarta). Tekanan hidup yang katanya semakin meningkat tak lagi bisa diringankan dengan pijatan di Spa. Clubbing pun di satu titik dirasa mulai menjemukandan mainstream. Terbukti tak lagi banyak tempat clubbing yang hits di Ibukota dibanding tahun 90-an sampai awal 2000. Stadium? Kan udah ditutup sama Ahok.

Tapi ada satu terapi lagi yang masih tersisa: berbelanja. Dipadukan dengan berlari, cocok! Karena kini tersedia beragam perlengkapan berlari yang canggih dengan harga yang tak bisa dibilang murah. Kalau gak percaya, silakan mampir ke Car Free Day hari Minggu ini. Jangan kaget kalau di pagi hari menemukan pelari menggunakan flashlight melekat di kepalanya. Ini kisah nyata. Bukan mengada-ada. Perlengkapan berlari ini pun dapat dibeli dengan mudah. Bisa beli online bahkan sampai ke toko online luar negeri. Dengar-dengar, penjualan sepatu Nike di Indonesia adalah tertinggi di dunia. Dan Nike tipe Fly Knit yang dijual mendekati dua juta, selalu ludes saat dilansir. “Ah ini kan belanja buat hobby dan menguntungkan buat kesehatan. Investasi dong!” Ya ya ya…

Alasan orang berlari memang bisa macam-macam. Menurunkan berat badan, kesehatan, sosialisasi, rekreasi, prestasi tapi bukan tidak mungkin juga sebagai sarana peredam tekanan hidup. Hormon Adrenalin yang terpacu saat berlari dan rasa bahagia saat usai memang bisa bikin kecanduan. Apalagi kalau berlari bersama, maka kebahagiaan pun ikut bertambah. Diakhiri dengan pijat urut sesudah berlari, rasanya pasti surga dunia.

Padahal, kalau kesehatan menjadi alasan berlari, maka cukup 5 menit setiap harinya. Kalau untuk mengurangi berat badan, tak bisa hanya berlari. Harus diimbangi dengan diet yang baik. Kalau untuk memenangkan race, sampai saat ini masih didominasi oleh orang Kenya. I wish you luck! Ambisi pribadi, mungkin ini yang bisa membuat orang kecanduan berlari berlama-lama.

Menjadikan berlari sebagai bagian dari gaya hidup adalah baik. Tapi akan lebih baik lagi kalau menemukan alasannya. Tak perlu dijawab sekarang. Sambil berlari berikutnya, saat mulut terdiam, coba cari tau alasannya. Bahkan tak perlu membagi alasan berlari di media sosial. Atau bisa ditulis sebagai catatan di aplikasi berlari. Bisa jadi berlari adalah bentuk pelarian. Tapi bukan jawaban. Apalagi memecahkan masalah.